
Pertemuan yang Tak Terlupakan
By Tania Suryani
romance · 2026-04-29
Aurora Kinanti terpaksa hadir di acara bisnis ayahnya dan bertemu Narendra Adiwangsa—pemilik kafe rival "Senja di Kopi" yang ambisius dan dingin. Ketika sebuah pembunuhan mengguncang malam itu, Aurora mulai mengungkap rahasia gelap yang selama ini disembunyikan sang ayah dari dirinya.
Bab 1
Bab 1: Pertemuan yang Tak Terlupakan
Aroma kopi robusta yang pahit menusuk indra penciumanku, bercampur dengan bau parfum mahal yang menyengat. Malam itu, di grand opening 'Senja di Kopi', keriaan palsu terasa begitu memuakkan.
Aku, Aurora Kinanti, berdiri di sudut ruangan, menyesap kopi pahitku. Malam ini bukan pilihan. Ayah, dengan senyum liciknya, memaksaku hadir. “Aurora, ini kesempatan bagus untukmu mengenal relasi bisnis Ayah. Jaga sikapmu.” Kalimat itu masih terngiang di telingaku. Seolah-olah aku adalah boneka yang harus dipajang demi keuntungan bisnis.
'Senja di Kopi'. Kedai kopi baru yang konon katanya akan menyaingi 'Kopi Kenangan' milik keluarga kami. Aku mendengus. Mimpi di siang bolong. 'Kopi Kenangan' sudah menjadi bagian dari sejarah Jakarta. Tidak mungkin ada yang bisa menandinginya.
Lampu sorot tiba-tiba menyorot panggung kecil di tengah ruangan. Seorang pria naik ke atas panggung. Tinggi, tegap, dengan setelan jas mahal yang melekat sempurna di tubuhnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan rahangnya yang tegas dan mata tajam yang menyapu seluruh ruangan dengan tatapan meremehkan. Dia memiliki aura kekuasaan yang membuatku bergidik. Tampan, tapi angkuh. Benar-benar bukan tipeku.
“Selamat malam, para tamu undangan,” suaranya berat dan dalam, memenuhi seluruh ruangan. “Saya, Narendra Adiwangsa, pemilik 'Senja di Kopi'. Saya harap, kedai kopi ini akan menjadi rumah kedua bagi Anda semua.”
Narendra Adiwangsa. Jadi, ini orangnya. Pria yang berani menantang dominasi 'Kopi Kenangan'. Aku menatapnya dengan tatapan menyelidik. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku merasa tidak nyaman. Mungkin karena aura superioritasnya, atau mungkin karena tatapannya yang seolah-olah bisa menembus jiwaku.
Acara terus berlanjut dengan sambutan-sambutan membosankan dan obrolan basa-basi yang membuatku mual. Aku berusaha menghindar dari kerumunan, mencari tempat yang lebih tenang. Aku berjalan menuju balkon, berharap udara malam bisa sedikit menyegarkan pikiranku.
Saat aku sedang menikmati angin malam, tiba-tiba seseorang berdiri di sampingku. Aku menoleh dan mendapati Narendra Adiwangsa berdiri dengan kedua tangan bersandar di pagar balkon. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Aurora Kinanti,” ucapnya, menyebut namaku dengan nada mengejek. “Putri dari pemilik 'Kopi Kenangan'. Apa yang membawamu ke sini?”
Aku mengangkat daguku, berusaha menutupi kegugupanku. “Aku hanya ingin melihat sendiri, seberapa hebat kedai kopi yang berani menantang 'Kopi Kenangan'.”
Dia tersenyum sinis. “Kau akan segera tahu.”
“Aku tidak yakin,” balasku, menantang. “'Kopi Kenangan' sudah menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya.”
“Benarkah?” Dia mendekatiku, membuatku mundur selangkah. “Mari kita lihat, seberapa kuat kau mempertahankannya, Aurora.”
Napasnya menerpa wajahku. Jantungku berdebar kencang. Aku bisa merasakan aroma kopi robusta yang sama seperti yang kuminum tadi, tapi kali ini bercampur dengan aroma maskulin yang memabukkan. Aku membenci betapa dekatnya dia, betapa jantungku bereaksi terhadapnya. Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin tertarik pada musuhku.
“Aku tidak takut padamu, Narendra,” ucapku, berusaha meyakinkan diriku sendiri.
Dia tertawa pelan. “Seharusnya kau takut.”
Tiba-tiba, lampu di seluruh ruangan padam. Suasana menjadi gelap gulita. Jeritan kaget terdengar dari berbagai arah. Aku merasakan tangan Narendra meraih lenganku, menarikku mendekat. Aku bisa merasakan tubuhnya yang hangat menempel padaku.
“Jangan takut,” bisiknya di telingaku. “Aku akan melindungimu.”
Kemudian, aku mendengar suara teriakan yang memekakkan telinga. Seseorang telah dibunuh. Dan aku yakin, malam ini baru saja dimulai.