Gaun Merah yang Terlupakan
By Sinta Wibowo
romance · 2026-04-23
Anya, forced into a possible marriage to save her family's company, meets the intimidating billionaire Revan Aditya. Revan reveals his true intention: he plans to acquire Kirana Group, not marry Anya, leaving her future uncertain.
Bab 1
Bab 1: Gaun Merah yang Terlupakan
Kilatan blitz kamera menyilaukan mata, seolah ribuan bintang meledak bersamaan. Anya Kirana, dalam balutan gaun merah menyala yang seharusnya membuatnya merasa seperti ratu, justru merasa telanjang di tengah kerumunan serigala berjas mahal.
Aula ballroom Hotel Grand Imperial Jakarta berkilauan dengan kemewahan. Lampu kristal raksasa memantulkan cahaya ke lantai marmer yang dipoles sempurna. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau sampanye dan keringat gugup para sosialita yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan perhatian. Anya benci tempat ini. Benci gaun ini. Benci perannya dalam sandiwara konyol ini.
"Anya, sayang, senyum sedikit! Ingat, ini malam yang penting untuk keluarga kita," bisik ibunya, Ratna, sambil mencubit lengannya dengan keras. Ratna, dengan gaun emas yang gemerlapan dan senyum palsu yang sudah menjadi topeng permanen, tampak seperti versi lebih tua dan lebih kejam dari Anya sendiri.
Anya memaksakan senyum. Ia tahu apa yang diharapkan darinya. Menjadi putri yang patuh, pewaris tunggal kerajaan bisnis Kirana Group, dan yang terpenting, calon istri yang sempurna untuk pria yang tepat. Pria yang tepat, dalam pandangan ibunya, adalah seseorang yang bisa menyelamatkan Kirana Group dari kebangkrutan.
Perusahaan ayahnya, Surya Kirana, terlilit hutang besar akibat investasi bodong yang dilakukan beberapa tahun lalu. Kesehatan ayahnya pun memburuk dengan cepat, meninggalkan Anya sebagai satu-satunya harapan keluarga. Dan harapan itu, sayangnya, terletak pada perjodohan yang diatur ibunya dengan seorang miliarder bernama Revan Aditya.
Anya belum pernah bertemu Revan secara langsung. Ia hanya melihat fotonya di majalah bisnis: wajah dingin dengan tatapan tajam, rahang tegas, dan aura kekuasaan yang tak terbantahkan. Ia adalah sosok yang menakutkan sekaligus memikat. Pria yang bisa membeli dan menjual perusahaan seperti Kirana Group tanpa berkedip.
"Dia datang," desis Ratna, matanya berbinar-binar. "Ingat, Anya, bersikaplah manis dan menawan. Jangan sampai kau merusak kesempatan ini."
Anya merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia melihat ke arah pintu masuk ballroom. Kerumunan orang tiba-tiba terdiam, memberi jalan bagi seorang pria yang kehadirannya langsung mendominasi seluruh ruangan. Revan Aditya. Lebih tinggi, lebih tampan, dan lebih mengintimidasi dari yang ia bayangkan.
Revan berjalan dengan langkah mantap, dikelilingi oleh para pengawal berjas hitam. Tatapannya dingin dan tanpa ekspresi, seolah ia sedang menilai setiap orang di ruangan itu. Ia berhenti tepat di depan Anya dan ibunya. Mata mereka bertemu.
"Selamat malam, Nyonya Kirana. Anya," sapanya dengan suara bariton yang rendah dan dalam. "Saya Revan Aditya."
Ratna tersenyum lebar dan menjabat tangan Revan dengan penuh semangat. "Revan, sayang, senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu. Anya sudah tidak sabar menunggumu."
Anya hanya mengangguk kaku, tidak berani menatap mata Revan terlalu lama. Ia merasa seperti seekor rusa yang tertangkap lampu sorot, menunggu untuk diterkam.
Revan mengalihkan pandangannya ke Anya, menatapnya dari atas hingga bawah. Anya merasakan pipinya memanas di bawah tatapannya yang intens. Ia merasa seperti sedang ditelanjangi, meskipun ia mengenakan gaun yang paling mahal yang pernah ia miliki.
"Gaun yang menarik," kata Revan, suaranya datar. "Tapi sepertinya warnanya kurang tepat."
Anya mengerutkan kening, bingung. "Maaf?"
Revan tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Seharusnya kau mengenakan warna putih. Warna yang melambangkan kepolosan dan kesucian."
Sebelum Anya bisa menjawab, Revan melanjutkan, "Karena malam ini, aku akan menawar Kirana Group. Dan aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan."
Ruangan terasa berputar. Anya merasa kakinya lemas. Jadi, ini bukan tentang perjodohan. Ini tentang bisnis. Tentang kekuasaan. Tentang menghancurkan keluarganya di depannya. Revan Aditya tidak menginginkannya sebagai istri. Ia menginginkan perusahaannya. Dan ia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.
Ratna tersenyum canggung, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba membeku. "Revan, sayang, kau bercanda, kan?"
Revan menoleh ke arah Ratna, tatapannya sedingin es. "Apakah aku terlihat seperti sedang bercanda, Nyonya Kirana?"
Kemudian, ia kembali menatap Anya, matanya berkilat dengan sesuatu yang tidak bisa ia pahami. "Nikmati malam ini, Anya. Karena besok, hidupmu akan berubah selamanya."
Revan berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Anya dan ibunya yang terpaku di tempat. Anya merasakan air mata menggenang di matanya. Gaun merah yang seharusnya menjadi simbol harapan, kini terasa seperti kain kafan yang membungkusnya hidup-hidup. Malam itu, Anya tahu, adalah awal dari kehancurannya. Tapi yang belum ia tahu, ada rahasia kelam yang tersembunyi di balik senyum dingin Revan Aditya. Rahasia yang akan mengubah segalanya.