
Malam di Mana Jiwaku Dijual
By Maya Iskandar
romance · 2026-04-23
Isabella Rossi, seorang gadis biasa, terpaksa menikahi Vittorio Moretti, seorang kepala mafia, untuk melunasi hutang ayahnya. Dia terjebak di dunia kejahatan dan kekerasan, dan di malam debutnya, dia melihat cinta pertamanya, Alessandro, yang seharusnya sudah meninggal.
Bab 1
Malam di Mana Jiwaku Dijual
Aroma darah dan parfum mahal bercampur di udara, memenuhi indraku dengan sensasi yang memabukkan sekaligus menakutkan. Lelaki di depanku, Vittorio Moretti, tersenyum dingin, matanya yang gelap menelisikku seperti mangsa.
"Selamat datang di keluarga, Isabella," ucapnya, suaranya rendah dan berat, menggema di ruangan yang penuh dengan bayangan.
Aku, Isabella Rossi, tidak pernah meminta semua ini. Aku hanyalah seorang gadis biasa, hidup sederhana di pinggiran kota Roma. Sampai ayahku, seorang penjudi kompulsif, membuat kesepakatan dengan iblis. Utangnya terlalu besar, dan satu-satunya cara untuk membayarnya adalah dengan menyerahkanku pada Vittorio Moretti, kepala keluarga mafia paling berpengaruh di Italia.
Beberapa minggu terakhir terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung. Aku dipindahkan ke vila mewah yang terasa seperti sangkar emas. Aku diperkenalkan kepada orang-orang yang berbicara tentang kekerasan dan pengkhianatan seolah-olah itu adalah cuaca. Aku diajari etika yang aneh dan aturan yang kejam.
Vittorio sendiri adalah teka-teki. Dia bisa menjadi kejam dan tanpa ampun, tetapi kadang-kadang, aku melihat kilasan kesedihan di matanya. Dia memperlakukanku dengan hormat, bahkan kelembutan, yang membuatku semakin bingung. Apakah dia benar-benar menginginkanku, atau aku hanyalah bidak dalam permainannya yang rumit?
"Malam ini adalah malam debutmu," Vittorio melanjutkan, memecah lamunanku. "Kau akan diperkenalkan kepada para capo dari keluarga lain. Ini adalah kesempatanmu untuk menunjukkan bahwa kau adalah aset berharga bagi keluarga Moretti."
Jantungku berdebar kencang. Aku tidak ingin menjadi bagian dari dunia ini. Aku tidak ingin terlibat dalam kekerasan dan kejahatan. Tapi aku tidak punya pilihan. Hidupku sekarang adalah milik Vittorio. Dan aku harus memainkan peranku sebaik mungkin jika aku ingin bertahan hidup.
Saat pintu-pintu besar aula terbuka, memperlihatkan kerumunan pria berpakaian mahal yang menatapku dengan tatapan menilai, aku merasakan tangan Vittorio melingkari pinggangku. "Ingat, Isabella," bisiknya di telingaku, suaranya dingin seperti es, "Kau adalah milikku sekarang. Dan aku tidak suka berbagi."
Kemudian, mataku bertemu dengan mata seorang pria di kerumunan itu. Seorang pria yang seharusnya tidak ada di sana. Seorang pria yang kupikir sudah lama mati. Pria itu menatapku dengan tatapan penuh harap dan putus asa. Pria itu adalah Alessandro, cinta pertamaku.