Pertemuan Terlarang

Pertemuan Terlarang

By Dewi Saraswati

romance · 2026-04-23

Kirana feels conflicted when she finds herself drawn to Arya, her sister Riana's fiancé. Their attraction becomes undeniable during a family dinner and a late-night encounter on the balcony. The chapter ends with Riana catching them in a compromising position.

Bab 1

Pertemuan Terlarang

Udara malam Jakarta terasa menyesakkan, bercampur aroma knalpot dan parfum mahal. Di tengah gemerlap lampu-lampu Plaza Indonesia, aku melihatnya. Bukan sekadar melihat, tapi terpaku, seolah waktu berhenti berputar. Lelaki itu, dengan setelan jas mahal dan senyum yang bisa meruntuhkan pertahanan siapa saja, adalah Arya Dirgantara – tunangan kakakku sendiri.

Namaku Kirana, dan hidupku selama 22 tahun ini terasa seperti naskah drama yang ditulis oleh orang lain. Aku selalu menjadi 'adiknya Riana', 'putri bungsunya keluarga Wijaya', 'mahasiswi teladan'. Tidak pernah Kirana yang sesungguhnya. Bayangan Riana selalu lebih terang, lebih mempesona. Dan sekarang, bayangan itu semakin pekat dengan kehadiran Arya.

Riana dan Arya adalah pasangan yang sempurna di mata semua orang. Mereka sama-sama kaya, berpendidikan, dan berasal dari keluarga terpandang. Pernikahan mereka disebut-sebut sebagai 'pernikahan abad ini'. Aku seharusnya ikut berbahagia, ikut sibuk mempersiapkan segala keperluan pesta. Tapi setiap kali melihat Arya, ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku. Sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak seharusnya kurasakan.

Kami bertemu lagi di acara makan malam keluarga. Arya duduk di sebelahku, aroma parfumnya memenuhi indra penciumanku. Ia tersenyum ramah, menanyakan kabarku. Suaranya lembut, membuat jantungku berdebar tidak karuan. "Kirana, kamu semakin cantik saja," ujarnya, matanya menatapku intens. Aku berusaha membalas senyumnya, tapi bibirku terasa kaku. Aku tahu, ini salah. Sangat salah. Tapi aku tidak bisa menghentikan diriku.

Malam itu, setelah semua orang terlelap, aku keluar ke balkon. Udara malam sedikit lebih segar di sini. Tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki. Arya berdiri di ambang pintu, hanya berbalut kemeja tidur. "Tidak bisa tidur?" tanyanya. Aku menggeleng. "Aku juga," jawabnya, lalu melangkah mendekat. Jantungku berdegup semakin kencang. Ia berdiri tepat di depanku, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Kemudian, ia mengulurkan tangannya dan menyentuh pipiku. Sentuhan itu membakar seluruh tubuhku. "Kirana…," bisiknya. Dan saat itulah, Riana muncul di balkon, matanya membelalak melihat kami berdua.

Lanjut ke Bab 2