
Sentuhan Pertama di Vila Azzura
By Rina Maharani
romance · 2026-04-23
Melati Mancini dipaksa menikahi Damiano De Luca, seorang Don mafia, untuk mengakhiri perang antar keluarga. Meskipun pernikahan ini adalah perjanjian, Melati merasa terperangkap dan takut pada suaminya. Malam pertama mereka berubah menjadi mimpi buruk ketika Melati menemukan mantan kekasih Damiano disiksa di kamar pengantin.
Bab 1
Sentuhan Pertama di Vila Azzura
Deburan ombak memecah kesunyian malam, tapi tidak mampu meredam gemuruh di dadaku. Gaun sutra merah yang membalut tubuhku terasa seperti jeratan, setiap jahitan mengingatkanku pada takdir yang sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Menikah dengan seorang Don dari keluarga mafia paling berpengaruh di Rini? Sungguh mimpi buruk yang terbungkus indah.
Namaku Melati Mancini, dan malam ini, di Vila Azzura yang megah, aku akan menjadi milik Damiano De Luca. Bukan karena cinta, tentu saja. Pernikahan ini adalah perjanjian, sebuah aliansi yang akan mengakhiri perang berdarah antara keluargaku dan keluarga De Luca. Ayahku, Don Mancini, mempertaruhkan segalanya untuk mengamankan masa depan keluarga, bahkan jika itu berarti mengorbankan kebahagiaanku.
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Wajahku pucat, mata hazelku yang biasanya berbinar kini redup. Riasan tebal yang dikenakan padaku terasa seperti topeng, menyembunyikan ketakutan dan keputusasaan yang kurasakan. Di luar, suara musik dan tawa terdengar riuh, kontras dengan keheningan mencekam di dalam kamar pengantin.
Seorang pelayan mengetuk pintu dengan ragu. "Nyonya Melati, Don Damiano meminta Anda untuk segera turun. Upacara akan segera dimulai."
Aku menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Ini dia. Tidak ada jalan untuk kembali. Aku mengangguk pada pelayan itu, lalu berjalan keluar kamar. Lorong-lorong vila terasa sunyi dan dingin. Setiap langkahku terasa berat, seolah kakiku terikat rantai tak terlihat.
Vila Azzura adalah permata Rini. Bangunan mewah bergaya Mediterania ini berdiri megah di atas tebing yang menghadap Laut Tyrrhenian. Taman-taman yang luas dan indah dipenuhi dengan bunga-bunga eksotis dan patung-patung marmer. Malam ini, vila ini bermandikan cahaya lampu kristal, dan aroma parfum mahal bercampur dengan bau laut yang asin.
Saat aku tiba di aula utama, aku bisa merasakan semua mata tertuju padaku. Aula itu penuh sesak dengan tamu-tamu penting dari seluruh Rini. Para Don dan Dossa dari berbagai keluarga mafia, pengusaha kaya raya, dan politisi berpengaruh. Semua hadir untuk menyaksikan penyatuan dua keluarga yang kuat.
Di ujung aula, di bawah altar yang dihiasi bunga-bunga putih, berdiri Damiano De Luca. Pria itu. Don De Luca. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dipesan khusus, tubuhnya tegap dan berotot. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, dan matanya yang gelap menatapku dengan intensitas yang membuatku merinding.
Dia jauh lebih tampan dari yang aku bayangkan. Foto-foto yang kulihat tentangnya tidak bisa menggambarkan ketampanan dan aura kekuasaan yang terpancar darinya. Tapi aku tahu, di balik wajah tampan itu, bersembunyi seorang pria yang kejam dan tanpa ampun. Seorang pria yang memerintah dunia bawah dengan tangan besi.
Aku berjalan menuju altar, langkahku mantap meski hatiku berdebar kencang. Di setiap langkah, aku merasa seperti domba yang berjalan menuju jagal. Ayahku berdiri di sampingku, menggenggam tanganku erat. Aku bisa merasakan tangannya gemetar. Dia tahu apa yang dia lakukan, dan dia tahu betapa aku menderita.
Ketika aku tiba di altar, Damiano meraih tanganku. Sentuhan kulitnya dingin dan tegas. Aku menatap matanya, mencari setitik pun kelembutan atau penyesalan. Tapi yang kulihat hanyalah tekad dan kekuasaan.
Upacara pernikahan dimulai. Kata-kata dari pendeta terasa seperti dengungan yang jauh. Aku tidak mendengar apa pun selain detak jantungku sendiri. Ketika tiba saatnya untuk mengucapkan janji pernikahan, aku menatap Damiano. Matanya seolah menantangku.
"Melati Mancini, bersediakah Anda menerima Damiano De Luca sebagai suami Anda, untuk mencintai dan menghormatinya, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan Anda?"
Aku terdiam sejenak. Jantungku berdebar semakin kencang. Aku tahu, jawaban yang akan kuucapkan akan menentukan seluruh sisa hidupku. Aku menatap ayahku, mencari pertolongan. Tapi dia hanya menunduk, tidak berani menatapku.
Aku kembali menatap Damiano. Matanya masih menatapku dengan intensitas yang sama. Aku tahu, aku tidak punya pilihan. Aku harus melakukannya. Untuk keluargaku. Untuk mengakhiri perang ini.
"Saya bersedia," ucapku, suaraku bergetar. Aula dipenuhi tepuk tangan dan sorak sorai. Damiano menyeringai, lalu meraih tanganku dan memasangkan cincin berlian di jariku. Cincin itu terasa berat dan dingin, seperti belenggu yang mengikatku padanya.
Setelah upacara selesai, kami menuju ruang resepsi. Aku duduk di samping Damiano di meja utama, tersenyum dan menyapa para tamu. Aku merasa seperti boneka yang dipajang. Aku tidak bisa menjadi diriku sendiri. Aku harus menjadi Melati De Luca, istri seorang Don mafia.
Selama resepsi, Damiano tidak melepaskan tangannya dariku. Dia memperkenalkan aku kepada semua orang, dengan bangga menyatakan bahwa aku adalah istrinya. Aku tersenyum dan mengangguk, mencoba terlihat bahagia dan anggun. Tapi di dalam hatiku, aku menangis.
Saat malam semakin larut, para tamu mulai berpamitan. Akhirnya, hanya tinggal kami berdua di aula utama. Damiano menatapku, senyumnya hilang dari wajahnya.
"Sekarang, Nyonya De Luca," katanya, suaranya rendah dan serak, "saatnya kita pergi ke kamar pengantin."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku tahu apa yang diharapkan dariku. Aku adalah miliknya sekarang. Sepenuhnya.
Damiano meraih tanganku dan membawaku menuju kamar pengantin. Aku tidak bisa menolak. Aku tidak punya kekuatan untuk melawan. Aku hanya bisa mengikuti langkahnya, pasrah pada takdirku.
Saat kami tiba di depan kamar pengantin, Damiano berhenti. Dia menatapku lekat-lekat, lalu membungkuk dan berbisik di telingaku.
"Ada satu hal yang harus kau ketahui, Melati," bisiknya, suaranya dingin dan mengancam. "Pernikahan ini mungkin adalah perjanjian, tapi kau adalah milikku sekarang. Dan aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan."
Dia membuka pintu kamar pengantin, dan aku terkejut dengan apa yang kulihat. Tempat tidur besar ditutupi kelopak mawar merah, dan lilin-lilin beraroma wangi memenuhi ruangan. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut.
Di tengah-tengah kamar, terikat di kursi, duduk seorang wanita. Wajahnya babak belur dan berlumuran darah. Matanya menatapku dengan ketakutan dan keputusasaan. Aku mengenalinya. Dia adalah Sinta, mantan kekasih Damiano.
Damiano tersenyum padaku, senyum yang mengerikan dan menakutkan. "Selamat datang di pernikahanmu, istriku. Mari kita mulai malam pertama kita dengan sedikit... kesenangan."
Aku menjerit, tapi suaraku tertahan di tenggorokanku. Aku tahu, malam ini akan menjadi malam terburuk dalam hidupku.