Wanita Asing di Pintu Pernikahan

Wanita Asing di Pintu Pernikahan

By NHandayani

romance · 2026-04-23

Permata, dari keluarga Atmajaya yang bangkrut, dipaksa menikah dengan Park Jimin dari Lee Corporation. Pertemuan pertama mereka canggung dan formal, dan Jimin melamar Permata dengan cincin warisan. Kejutan muncul di akhir chapter dengan kedatangan wanita misterius yang memanggil Jimin 'sayang'.

Bab 1

Cincin Warisan di Jari yang Salah

Udara dingin Seoul menusuk tulang, tapi bagi Permata, dinginnya hatinya jauh lebih menggigit. Ia menatap pantulan dirinya di jendela kafe – gaun pastel yang ia kenakan terasa seperti kostum, senyum yang ia paksakan terasa seperti topeng.

"Permata, sudah siap?" suara lembut Mama memecah lamunannya. Permata mengangguk, meski perutnya terasa mual. Hari ini, ia akan bertemu dengan calon suaminya. Bukan calon suami pilihan hatinya, tentu saja. Tapi calon suami pilihan keluarga – pewaris tunggal Lee Corporation, Park Jimin.

Keluarganya, keluarga Atmajaya, sedang berada di ambang kebangkrutan. Bisnis batik mereka yang dulu berjaya kini meredup, terlilit hutang yang menggunung. Satu-satunya jalan keluar adalah pernikahan Permata dengan Jimin, sebuah perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua mereka sejak lama, sebagai kesepakatan bisnis yang menyelamatkan.

Permata selalu bermimpi tentang cinta sejati, tentang pernikahan yang didasari oleh perasaan mendalam. Ia membayangkan dirinya bertemu dengan seorang pria yang membuatnya tertawa, yang membuatnya merasa dicintai apa adanya. Bukan pernikahan yang didasari oleh angka dan neraca keuangan.

"Mama tahu ini berat untukmu, Nak," Mama meraih tangannya, menggenggamnya erat. "Tapi ini demi keluarga. Demi adik-adikmu. Kamu adalah harapan terakhir kita."

Permata menarik napas dalam-dalam. Ia tahu Mama benar. Ia tidak bisa egois. Ia harus mengorbankan kebahagiaannya demi kebaikan keluarganya. Ia adalah putri sulung, dan tanggung jawab itu kini terpikul di pundaknya.

Mereka tiba di restoran mewah yang sudah dipesan. Interiornya elegan, dengan lampu kristal yang berkilauan dan alunan musik klasik yang lembut. Permata merasa semakin tidak nyaman. Tempat ini terlalu mewah, terlalu formal untuknya.

Seorang pelayan mengantar mereka ke meja yang terletak di pojok ruangan. Di sana, seorang pria sudah menunggu. Pria itu berdiri saat melihat mereka datang, senyum tipis menghiasi wajahnya. Dia tinggi, dengan rambut hitam yang ditata rapi, dan mata yang menatap Permata dengan intens.

"Selamat siang, Tuan dan Nyonya Atmajaya," sapanya dengan suara bariton yang dalam. "Saya Park Jimin."

Jimin menjabat tangan Papa dan Mama dengan sopan, lalu beralih ke Permata. Ia menatapnya lekat-lekat, seolah mencoba membaca pikirannya. Permata hanya bisa membalas tatapannya dengan gugup.

"Permata Atmajaya," bisiknya hampir tak terdengar.

Jimin tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Permata." Ia menarik kursi untuknya, lalu duduk di seberangnya. Pembicaraan dimulai dengan basa-basi tentang cuaca dan bisnis. Permata hanya menjawab seperlunya, pikirannya berkecamuk.

Selama makan siang, Permata mengamati Jimin dengan seksama. Ia tampan, cerdas, dan tampak sangat percaya diri. Tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatnya tidak nyaman. Sesuatu yang dingin dan kalkulatif.

Setelah hidangan penutup disajikan, Jimin tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah cincin berlian yang berkilauan.

"Permata," katanya dengan suara serius. "Seperti yang kamu tahu, pernikahan kita sudah diatur sejak lama. Saya tidak tahu apa yang kamu rasakan tentang semua ini, tapi saya harap kita bisa membangun hubungan yang baik ke depannya."

Ia meraih tangan Permata dan memasangkan cincin itu di jari manisnya. Cincin itu terasa berat dan dingin di kulitnya. Permata menatap cincin itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa seperti terikat, seperti kehilangan kebebasannya.

"Saya tahu ini bukan lamaran romantis seperti yang kamu impikan," lanjut Jimin. "Tapi saya janji akan memberikan yang terbaik untukmu. Saya akan menjaga dan melindungi keluargamu."

Permata tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasa seperti bidak dalam permainan catur, digerakkan oleh orang lain.

Saat mereka hendak meninggalkan restoran, seorang wanita cantik menghampiri meja mereka. Wanita itu tersenyum manis pada Jimin, lalu mengecup pipinya dengan mesra.

"Sayang, aku sudah menunggumu," kata wanita itu dengan nada manja. Jimin tampak terkejut melihat kedatangannya.

Wanita itu kemudian menoleh ke arah Permata, matanya menyipit. "Siapa dia, Jimin?" tanyanya dengan nada dingin. Jimin terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Permata merasakan jantungnya berdebar kencang. Siapa wanita ini? Dan apa hubungannya dengan Jimin?

Lanjut ke Bab 2