Aroma Kopi yang Membakar Hati

Aroma Kopi yang Membakar Hati

By Sinta Wibowo

romance · 2026-04-23

Rania, seorang barista di kedai kopi bernama 'Kopi Kenangan Mantan', merasa tidak bahagia dengan pekerjaannya. Kedatangannya Ardi, musuh bebuyutannya dari sekolah kopi, memperburuk suasana hatinya. Tiba-tiba, Rania mendapat kabar bahwa ayahnya masuk rumah sakit, membuatnya panik dan harus segera pergi, tetapi ia terhalang oleh pekerjaannya dan kehadiran Ardi yang tiba-tiba menunjukkan perhatian.

Bab 1

Aroma Kopi yang Membakar Hati

Sentuhan dingin logam menyentakku dari lamunan tentang betapa membosankannya hidupku. Medali barista yang tergantung di leherku terasa seperti beban, bukan kebanggaan. Bukan ini yang kubayangkan ketika mendaftar di sekolah kopi terbaik di Jakarta. Bukan bekerja di "Kopi Kenangan Mantan" yang namanya saja sudah membuatku mual.

"Rania! Latte art-mu sudah siap? Pelanggan yang di meja nomor empat sudah menunggu dari tadi!" Suara melengking Mbak Santi, manajer kedai, memecah keheningan pagi yang baru saja dimulai. Aku mendengus dan mengencangkan celemekku. Aroma kopi yang seharusnya membangkitkan semangat, kini hanya membuatku ingin berteriak.

"Iya, Mbak. Sebentar," jawabku, berusaha menyembunyikan kekesalanku. Mbak Santi memang selalu begitu, perfeksionis dan cerewet. Tapi, dia juga yang memberiku pekerjaan ini, jadi aku tidak bisa terlalu protes.

Aku menghembuskan napas panjang dan kembali fokus pada cangkir latte di depanku. Mencoba menciptakan swan yang sempurna di atas buih susu bukanlah hal yang mudah, apalagi dengan suasana hatiku yang sedang buruk. Tapi, aku tidak punya pilihan. Pekerjaan ini adalah satu-satunya sumber penghasilanku saat ini.

Kedai Kopi Kenangan Mantan terletak di jantung Kemang, Jakarta Selatan, daerah yang terkenal dengan kafe-kafe trendi dan anak muda yang bergaya. Kedai ini cukup populer, terutama di kalangan mereka yang baru patah hati atau sedang mencari tempat untuk mengenang masa lalu. Konsepnya memang agak cheesy, tapi entah kenapa banyak yang suka.

Aku, Rania Adelia, 24 tahun, seorang barista yang terjebak di kedai dengan nama yang menggelikan. Dulu, aku punya mimpi besar untuk membuka kedai kopi sendiri, kedai yang menyajikan kopi berkualitas tinggi dengan suasana yang nyaman dan modern. Tapi, mimpi itu harus kutunda karena masalah keuangan keluarga.

Saat aku sedang sibuk merapikan meja pelanggan, mataku menangkap sosok yang sangat familiar memasuki kedai. Jantungku langsung berdebar kencang, bukan karena senang, tapi karena kesal. Di sana, berdiri tegak dengan senyum sinisnya, adalah dia: Ardi Pramono, pria yang paling kubenci di seluruh dunia.

Ardi adalah anak pemilik sekolah kopi tempatku belajar dulu. Dia selalu menganggap dirinya lebih baik dariku, selalu meremehkan kemampuanku. Dulu, kami sering bersaing dalam berbagai kompetisi kopi di sekolah. Aku selalu berusaha mengalahkannya, tapi dia selalu berhasil menang. Kemenangannya selalu diiringi dengan tatapan merendahkan yang membuatku geram.

"Lihat siapa yang bekerja di sini," Ardi berkata dengan nada mengejek, menghampiriku di balik meja kasir. "Rania Adelia, barista Kopi Kenangan Mantan. Sungguh ironis."

Aku berusaha untuk tetap tenang, meskipun darahku sudah mendidih. "Apa maumu, Ardi?" tanyaku dengan nada dingin.

"Hanya ingin melihat bagaimana keadaanmu," jawabnya, masih dengan senyum sinisnya. "Kelihatannya kamu tidak terlalu bahagia dengan pekerjaanmu ini."

"Itu bukan urusanmu," sahutku, berusaha mengusirnya. "Pergilah, aku sedang sibuk."

Ardi tidak bergeming. Dia malah menyandarkan tubuhnya di meja kasir dan menatapku dengan tatapan yang membuatku tidak nyaman. "Aku dengar kamu punya mimpi untuk membuka kedai kopi sendiri," katanya. "Sayang sekali, sepertinya mimpi itu tidak akan pernah terwujud."

Kata-katanya menusuk hatiku. Aku tahu dia benar. Dengan kondisi keuanganku saat ini, sangat sulit untuk mewujudkan mimpiku. Tapi, aku tidak ingin dia tahu betapa sakitnya kata-kata itu.

"Aku akan membuktikan bahwa kamu salah," kataku dengan nada menantang. "Aku akan membuka kedai kopi sendiri, dan aku akan lebih sukses darimu."

Ardi tertawa sinis. "Kita lihat saja nanti," ujarnya. Dia kemudian memesan kopi dan duduk di salah satu meja dekat jendela. Tatapannya tidak pernah lepas dariku.

Aku berusaha mengabaikannya dan kembali bekerja. Tapi, kehadiran Ardi membuatku tidak fokus. Aku terus-menerus merasa diawasi, diperhatikan, dan diremehkan. Aku benci perasaaan ini. Aku benci Ardi Pramono.

Saat aku sedang membuat pesanan kopi untuk pelanggan lain, ponselku berdering. Aku melihat nama Ibuku di layar. Aku mengangkat telepon dengan perasaan cemas.

"Halo, Ibu? Ada apa?" tanyaku.

Suara Ibuku terdengar bergetar. "Rania… Ayahmu… dia… dia masuk rumah sakit," katanya.

Jantungku serasa berhenti berdetak. "Apa?! Kenapa? Sakit apa?" tanyaku panik.

"Ibu tidak tahu pasti. Tapi, kata dokter, kondisinya sangat serius. Kamu harus segera ke sini, Rania…" Ibuku terisak.

Aku menggenggam ponselku erat-erat. Air mata mulai membasahi pipiku. Aku harus segera menemui Ayahku. Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku? Bagaimana dengan Ardi yang terus menatapku dengan tatapan mengejeknya?

Saat aku sedang berusaha menenangkan diri, Ardi tiba-tiba berdiri dari mejanya dan menghampiriku. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada kekhawatiran di matanya, tapi juga ada sesuatu yang lain… Sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

"Ada apa, Rania? Kamu baik-baik saja?" tanya Ardi dengan nada yang berbeda dari biasanya. Nadanya terdengar… khawatir?

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa menatapnya dengan air mata yang terus mengalir. Tiba-tiba, Ardi mengulurkan tangannya dan menyentuh pipiku. Sentuhannya lembut dan hangat, sangat berbeda dari yang kubayangkan.

"Katakan padaku, ada apa?" bisiknya, menatapku intens.

Saat itulah, Mbak Santi datang menghampiri kami. "Rania, ada apa ini? Kenapa kamu menangis?" tanyanya dengan nada khawatir.

Ardi segera menarik tangannya dari pipiku dan mundur selangkah. Dia menatapku sekali lagi, sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan kedai.

Aku hanya bisa terpaku, menatap punggungnya yang menjauh. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ardi tiba-tiba bersikap seperti itu? Dan yang lebih penting, bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku dan menemui Ayahku di rumah sakit?

Lanjut ke Bab 2