Aroma Kopi Pahit di Balik Senyuman Manis

Aroma Kopi Pahit di Balik Senyuman Manis

By Maya Iskandar

romance · 2026-04-23

Jelita Anita, pemilik Kedai Kopi Nina, berseteru dengan Rakha Adhitama, pewaris Adhitama Coffee. Jelita menyelinap ke kantor Rakha untuk mencari bukti kecurangan, tetapi tertangkap basah. Lampu padam, dan Jelita terjebak bersama Rakha dalam kegelapan.

Bab 1

Aroma Kopi Pahit di Balik Senyuman Manis

Sentakan dingin kopi yang tumpah di blus sutraku terasa seperti tamparan. Bukan hanya karena noda yang akan membekas, tapi karena senyum sinis yang mengiringi kejadian itu. "Ups, maaf, tidak sengaja," ucapnya, nada mengejek yang tak bisa disembunyikan.

Inilah awal pertemuanku dengan Rakha Adhitama, pewaris tunggal Adhitama Coffee, perusahaan kopi terbesar di Indonesia, dan rival terberatku. Aku, Jelita Anita, pemilik Kedai Kopi Nina, kedai kecil yang bermimpi menaklukkan dunia perkopian Jakarta.

Kedai Kopi Nina adalah segalanya bagiku. Warisan dari mendiang nenek, tempat ini bukan sekadar bisnis, tapi juga rumah dan jantung dari segala impianku. Aroma biji kopi robusta yang disangrai setiap pagi, suara mesin espresso yang mendesis lembut, dan senyum hangat pelanggan setia adalah melodi yang menenangkan jiwaku.

Namun, kedamaian itu terusik sejak Rakha muncul. Adhitama Coffee dengan agresif membuka cabang di setiap sudut kota, menawarkan kopi impor dengan harga yang tak masuk akal. Mereka mencuri pelanggan, bahkan mencoba merayu barista terbaikku dengan tawaran gaji yang menggiurkan.

Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku telah menghabiskan bertahun-tahun membangun Kedai Kopi Nina, menciptakan suasana yang nyaman dan kopi yang otentik. Aku tahu bahwa kopi Indonesia memiliki cita rasa yang unik dan tak tertandingi, dan aku akan membuktikannya kepada dunia, bahkan jika harus berhadapan dengan Rakha Adhitama.

Hari itu, setelah insiden kopi yang memalukan, aku memutuskan untuk mengambil tindakan. Aku menyelinap ke kantor pusat Adhitama Coffee, berniat mencari bukti praktik bisnis kotor yang kuduga mereka lakukan. Aku tahu ini gila, tapi aku tidak punya pilihan lain.

Kantor itu megah dan modern, jauh berbeda dari kedai kecilku yang sederhana. Aroma kopi yang menyengat menusuk hidungku, campuran berbagai jenis biji kopi dari seluruh dunia. Aku berjalan dengan hati-hati, menghindari kamera pengawas dan staf keamanan yang berjaga.

Aku berhasil menyusup ke ruang arsip, tempat aku berharap menemukan dokumen yang bisa membuktikan kecuranganku. Tumpukan kertas dan folder berdebu menanti, membuatku merasa seperti seorang arkeolog yang mencari harta karun tersembunyi.

Setelah berjam-jam mencari, aku akhirnya menemukan sebuah folder mencurigakan dengan label "Proyek Nina". Jantungku berdebar kencang saat membukanya. Di dalamnya terdapat rencana detail untuk mengakuisisi Kedai Kopi Nina dengan segala cara, termasuk menggunakan taktik intimidasi dan kampanye hitam.

Marah dan kecewa, aku menggenggam erat folder itu. Aku harus membongkar kejahatan Rakha dan Adhitama Coffee. Saat aku berbalik untuk pergi, aku bertabrakan dengan seseorang. Folder itu terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai. Aku mendongak dan melihat Rakha berdiri di depanku, tatapannya tajam dan penuh amarah.

"Apa yang kau lakukan di sini, Jelita?" tanyanya, suaranya dingin dan mengancam. Aku menelan ludah, menyadari bahwa aku telah tertangkap basah. Sebelum aku bisa menjawab, Rakha meraih folder itu dan membukanya. Ekspresinya berubah dari marah menjadi terkejut, lalu menjadi sesuatu yang lebih gelap dan menakutkan.

"Jadi, kau sudah tahu semuanya," desisnya, matanya menyipit. "Sepertinya permainan baru saja dimulai."

Tiba-tiba, lampu di ruangan itu padam. Aku merasakan tangan Rakha mencengkeram lenganku erat. Dalam kegelapan, aku mendengar suara pintu terkunci. Aku terperangkap bersamanya, di dalam kantornya, dengan semua rahasia tergelapnya terungkap. Apa yang akan dia lakukan padaku?

Lanjut ke Bab 2