
Terjebak dalam Cengkeraman Berlian
By Putri Anjani
romance · 2026-04-23
Kirana, seorang mahasiswi seni, dipaksa menikah dengan Damian Adiwangsa untuk melunasi utang ayahnya. Pesta pertunangan mereka berubah menjadi mimpi buruk ketika Kirana mengetahui sisi gelap Damian dan perasaannya yang rumit terhadap seorang wanita bernama Alexandra. Tiba-tiba, lampu padam dan Kirana tertembak, meninggalkan Damian dengan amarah dan keinginan untuk balas dendam.
Bab 1
Terjebak dalam Cengkeraman Berlian
Kilatan blitz kamera menyilaukan mata Kirana saat dia dipaksa keluar dari mobil limusin hitam. Gaun merahnya, yang dirancang oleh desainer ternama, terasa seperti jeratan yang mencekik lehernya, bukan lagi pakaian mewah yang seharusnya membuatnya merasa percaya diri. Malam ini, dia akan dijual.
Kirana, nama yang berarti 'cahaya' dalam bahasa Sansekerta, terasa ironis mengingat kegelapan yang mengelilinginya. Dia bukan lagi Kirana, seorang mahasiswi seni yang penuh mimpi. Dia sekarang adalah properti, sebuah aset yang akan ditukar dengan utang ayahnya yang menggunung kepada keluarga Adiwangsa.
Keluarga Adiwangsa. Nama itu sendiri sudah cukup untuk membuat bulu kuduk merinding. Mereka adalah penguasa bisnis gelap Jakarta, jaringan kekuasaan mereka menjangkau dari pelabuhan hingga gedung-gedung pencakar langit. Dan di puncak piramida itu berdiri Damian Adiwangsa, pewaris tunggal kerajaan bisnis mereka. Pria yang akan menjadi suaminya.
“Tegakkan kepalamu, Kirana,” bisik wanita di sampingnya, tangan yang dicat dengan kuteks merah menyala mencengkeram lengannya. Itu adalah Tante Lidya, satu-satunya kerabat yang masih mau berbicara dengannya setelah berita kebangkrutan ayahnya menyebar. Atau lebih tepatnya, satu-satunya kerabat yang tertarik untuk mengantarkannya ke gerbang neraka.
Mereka berjalan melewati taman yang luas, air mancur memancarkan air yang diterangi lampu warna-warni. Di kejauhan, Kirana bisa melihat mansion megah keluarga Adiwangsa, sebuah benteng batu yang menjulang tinggi ke langit malam. Tempat ini tidak terasa seperti rumah, tapi lebih seperti penjara.
Pesta pertunangan sudah ramai dengan tamu-tamu penting. Kirana mengenali beberapa wajah dari majalah bisnis dan berita gosip. Mereka semua tersenyum padanya, tapi mata mereka memancarkan rasa kasihan dan rasa ingin tahu yang mengerikan.
Seorang pria berpakaian jas hitam menghampiri mereka. “Nona Kirana, Tuan Damian sudah menunggu anda.” Suaranya dingin dan tanpa emosi.
Tante Lidya mendorongnya maju. “Pergilah, Kirana. Jangan membuat Damian menunggu.”
Kirana mengikuti pria itu ke dalam mansion. Interiornya lebih mewah dan mengintimidasi daripada yang bisa dia bayangkan. Lampu kristal raksasa tergantung di langit-langit, lukisan-lukisan mahal menghiasi dinding, dan aroma parfum mahal memenuhi udara.
Pria itu membawanya ke sebuah ruangan besar di ujung lorong. Pintu-pintu kayu mahoni yang berat itu terbuka, memperlihatkan Damian Adiwangsa. Dia berdiri di dekat jendela, membelakangi mereka, siluet tubuhnya yang tinggi dan tegap terlihat jelas di bawah cahaya bulan.
Kirana berhenti di ambang pintu, jantungnya berdebar kencang. Dia belum pernah bertemu Damian sebelumnya. Semua yang dia tahu tentangnya berasal dari rumor dan berita yang beredar. Dia digambarkan sebagai pria yang kejam, dingin, dan tanpa ampun. Seorang predator dalam setelan mahal.
Pria itu berdeham. “Tuan, Nona Kirana sudah tiba.”
Damian berbalik. Mata Kirana tertuju pada wajahnya. Dia jauh lebih tampan daripada yang dia bayangkan. Garis wajahnya tegas dan tajam, matanya gelap dan menusuk, bibirnya tipis dan sedikit melengkung ke bawah. Dia memiliki aura kekuasaan dan bahaya yang membuat Kirana merasa kecil dan rentan.
“Kirana,” ucapnya, suaranya dalam dan berat. “Akhirnya kita bertemu.”
Kirana mencoba tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku. “Tuan Adiwangsa.”
Damian berjalan mendekat, langkahnya tenang dan percaya diri. Dia berhenti tepat di depannya, menatapnya dari atas ke bawah. Kirana merasakan pipinya memanas di bawah tatapannya yang intens.
“Gaun yang bagus,” komentarnya, suaranya sinis. “Sayang sekali itu akan segera ternoda.”
Kirana mengerutkan kening. “Maaf?”
Damian tersenyum tipis. “Malam ini, Kirana, kau bukan hanya akan menjadi tunanganku. Kau juga akan menjadi milikku. Secara utuh.”
Kirana tersentak. Dia tahu bahwa pernikahan ini adalah bisnis, tapi dia tidak menyangka Damian akan begitu vulgar.
“Saya rasa ada kesalahpahaman,” jawab Kirana, mencoba mempertahankan nada suaranya. “Saya setuju untuk menikah dengan Anda, tapi itu tidak berarti saya akan menyerahkan diri saya begitu saja.”
Damian tertawa, suara yang mengerikan dan tanpa humor. “Kau tidak punya pilihan, Kirana. Ayahmu berutang banyak padaku. Dan kau adalah satu-satunya cara untuk melunasi utang itu.”
Dia mendekat lagi, mencondongkan tubuhnya ke arahnya. Aroma parfumnya yang mahal dan kuat membuat Kirana merasa pusing.
“Mulai sekarang, kau akan melakukan apa yang aku katakan. Kau akan berpakaian seperti yang aku inginkan, kau akan berbicara seperti yang aku inginkan, dan kau akan melayani aku seperti yang aku inginkan.”
Kirana menelan ludah. Dia tahu dia berada dalam masalah besar. Dia telah memasuki kandang singa, dan dia tidak tahu bagaimana caranya untuk keluar.
“Jika kau mencoba melarikan diri,” lanjut Damian, suaranya menjadi bisikan berbahaya, “aku akan membuat hidupmu menjadi neraka. Aku akan menghancurkan semua yang kau sayangi. Apakah kau mengerti?”
Kirana mengangguk, air mata mulai menggenang di matanya. Dia merasa terjebak, tidak berdaya, dan putus asa.
Damian tersenyum puas. “Bagus. Sekarang, mari kita pergi dan menyapa para tamu. Mereka semua ingin melihat perhiasan baruku.”
Dia meraih tangannya dan menariknya mendekat. Cengkeramannya kuat dan tidak membiarkannya pergi. Kirana membiarkan dirinya diseret keluar ruangan, merasa seperti boneka yang dikendalikan oleh tali.
Saat mereka berjalan melewati para tamu, Kirana melihat seorang wanita berambut pirang mendekati mereka. Wanita itu mengenakan gaun merah yang sama dengan gaun yang dikenakan Kirana, hanya saja gaun wanita itu tampak lebih mahal dan lebih pas di tubuhnya.
Wanita itu tersenyum sinis pada Kirana. “Damian, siapa ini? Bukankah ini gaun yang sama yang kubeli minggu lalu?”
Damian menatap wanita itu dengan tatapan dingin. “Ini adalah tunanganku, Alexandra. Kirana.”
Wajah Alexandra berubah menjadi merah padam karena marah. “Tunangan? Tapi… kau bilang kau mencintaiku!”
Damian mengangkat bahu. “Aku bilang banyak hal, Alexandra. Jangan terlalu percaya padaku.”
Alexandra menatap Kirana dengan tatapan membunuh. “Kau akan menyesal telah mengambilnya dariku,” desisnya.
Sebelum Kirana bisa menjawab, Damian menariknya menjauh dari Alexandra. Dia membawanya ke balkon, tempat dia bisa melihat pemandangan kota Jakarta yang berkilauan di malam hari.
“Jangan pedulikan Alexandra,” kata Damian, suaranya tenang. “Dia hanya sedikit… terikat padaku.”
Kirana tidak mengatakan apa-apa. Dia masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tidak tahu bahwa Damian memiliki pacar. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan sekarang.
Tiba-tiba, Damian meraih wajahnya dan menciumnya. Ciumannya kasar dan menuntut. Kirana mencoba mendorongnya menjauh, tapi dia terlalu kuat. Dia memaksanya untuk membuka mulutnya dan menjajahnya dengan lidahnya.
Kirana merasa jijik dan marah. Dia membenci Damian. Dia membenci semua orang yang terlibat dalam situasi ini. Dia membenci dirinya sendiri karena begitu lemah dan tidak berdaya.
Saat Damian akhirnya melepaskan ciumannya, Kirana menamparnya. Tamparan itu keras dan mengejutkan. Damian menatapnya dengan mata yang berkilat marah.
“Kau tidak seharusnya melakukan itu,” geramnya.
“Aku membencimu,” kata Kirana, air mata mengalir di pipinya. “Aku membencimu.”
Damian tersenyum dingin. “Kau akan belajar mencintaiku, Kirana. Cepat atau lambat, kau akan belajar mencintaiku.”
Tiba-tiba, lampu-lampu di mansion padam. Suasana menjadi gelap dan sunyi. Orang-orang mulai berteriak dan panik.
Damian memeluk Kirana erat-erat. “Jangan takut,” bisiknya. “Aku akan melindungimu.”
Saat itulah Kirana merasakan sesuatu yang tajam menusuk punggungnya. Dia menjerit kesakitan dan jatuh ke pelukan Damian.
Dia bisa mendengar suara tembakan dan teriakan di sekelilingnya. Dia merasa darah mengalir di punggungnya. Dia tahu dia akan mati.
“Damian…” bisiknya, sebelum kegelapan menelannya.
Damian berteriak, suaranya penuh dengan kesedihan dan kemarahan. Dia memeluk tubuh Kirana yang tak bernyawa dan bersumpah akan membalas dendam pada siapa pun yang telah melakukan ini padanya.
Namun, di tengah kekacauan dan kegelapan, seorang sosok misterius menyelinap keluar dari mansion, membawa bersamanya sebuah rahasia yang bisa menghancurkan keluarga Adiwangsa.