
Pertemuan di Puncak
By Dewi Saraswati
romance · 2026-04-23
Anya disguises herself as a waitress at a billionaire's party to steal a box that can save her family. She is caught by Rafael, the billionaire, who seems intrigued by her and her interest in the box.
Bab 1
Bab 1: Pertemuan di Puncak
Gaun merah menyala yang memeluk tubuhku terasa seperti jeratan di tengah kerumunan orang-orang kaya dan berkuasa ini. Aku, Anya Kirana, seorang mahasiswi biasa, seharusnya tidak berada di pesta amal mewah di penthouse tertinggi Jakarta ini. Tapi di sinilah aku, menyamar sebagai pelayan, dengan satu tujuan: mendapatkan kotak berlapis emas yang konon berisikan rahasia yang bisa menyelamatkan keluargaku dari kebangkrutan.
Udara dipenuhi aroma parfum mahal dan bisikan transaksi bisnis bernilai jutaan dolar. Kilauan lampu kristal menari di atas gelas-gelas sampanye yang diangkat tinggi-tinggi, seolah merayakan kesuksesan yang dibangun di atas keringat orang lain. Aku menggenggam erat nampan berisi gelas-gelas kosong, berusaha menyatu dengan bayangan, tapi jantungku berdebar kencang setiap kali seseorang menatapku terlalu lama.
Pandanganku tertuju pada sosok pria yang berdiri di dekat jendela kaca besar. Dialah targetku: Rafael Adiwangsa, sang miliarder muda yang terkenal dingin dan kejam. Desas-desus mengatakan bahwa kotak itu adalah miliknya, warisan dari mendiang ayahnya yang penuh teka-teki. Rafael tampak berbeda dari foto-foto yang beredar di media. Aura kekuasaan terpancar kuat darinya, tapi matanya menyimpan kesedihan yang dalam.
Aku memberanikan diri mendekat, berpura-pura menawarkan minuman. "Permisi, Tuan Adiwangsa, apakah Anda ingin…"
Rafael menoleh, tatapannya tajam menusuk. "Tidak, terima kasih," jawabnya dengan suara bariton yang membuatku merinding. Dia lalu melanjutkan percakapannya dengan seorang pria paruh baya yang tampak penting. Aku mundur perlahan, merasa gagal dan ketakutan.
Namun, saat aku berbalik, tanpa sengaja aku menabrak meja kecil, menjatuhkan beberapa gelas ke lantai. Pecahan kaca berserakan di mana-mana, dan keheningan langsung menyelimuti ruangan. Semua mata tertuju padaku.
Wajah Rafael mengeras. Dia berjalan mendekat, langkahnya mantap dan mengintimidasi. "Siapa kau?" tanyanya dengan nada dingin.
Aku membeku, lidahku kelu. Aku tahu aku telah ketahuan. Rencanaku berantakan. Keluarga ku akan hancur. Aku menunduk, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.
Tiba-tiba, Rafael meraih daguku, mengangkat wajahku hingga mata kami bertemu. Ada sesuatu yang aneh di matanya, bukan hanya amarah, tapi juga… rasa ingin tahu? Atau bahkan… ketertarikan?
"Aku bertanya, siapa kau?" ulangnya, suaranya lebih lembut kali ini. Dia kemudian mencondongkan tubuhnya ke arahku, berbisik pelan di telingaku, "Dan mengapa kau terus menatap kotak itu?"
Sebelum aku sempat menjawab, seorang wanita cantik bergaun emas menghampiri kami. "Rafael sayang, siapa gadis ini?" tanyanya dengan nada sinis, melingkarkan tangannya di lengan Rafael. "Jangan bilang kau tertarik pada pelayan rendahan?"
Rafael menatap wanita itu, lalu kembali menatapku. Senyum misterius tersungging di bibirnya. "Justru itu yang menarik, Isabella. Dia bukan sekadar pelayan. Dia…" Rafael berhenti sejenak, seolah menikmati ketegangan yang memenuhi ruangan. "…dia adalah kunci." Dia lalu menarikku mendekat dan berbisik lagi, "Ikut aku. Kita punya banyak hal yang perlu dibicarakan."