
Gaun Merah di Gala Amal
By Rina Maharani
romance · 2026-04-23
Arum, seorang akuntan, berniat mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai akuntan pribadi Alexander karena perasaannya yang semakin dalam. Saat mengungkapkan perasaannya di Gala Amal, Alexander justru mencium wanita lain di depan matanya. Arum melarikan diri dengan patah hati, lalu menerima telepon dari ibunya dengan kabar buruk tentang ayahnya.
Bab 1
Gaun Merah di Gala Amal
Debaran jantungku berpacu dengan irama musik klasik yang memenuhi ballroom mewah Hotel Grand Imperial. Di tanganku tergenggam erat amplop berisi surat pengunduran diri yang sudah kutulis semalam. Malam ini, aku harus melakukannya. Aku harus berhenti menjadi akuntan pribadi Alexander Raditya, sang miliarder muda yang dingin dan arogan. Namun, tatapan matanya selalu berhasil membuatku kehilangan kendali.
Malam ini adalah Gala Amal Tahunan yang diadakan oleh Yayasan Raditya, yayasan yang didirikan oleh mendiang ibunda Alexander. Setiap tahun, acara ini selalu menjadi sorotan media dan dihadiri oleh para tokoh penting di Jakarta. Aku, Arum Sekar Tanjung, hanya seorang gadis desa yang beruntung bisa bekerja di perusahaan sebesar Raditya Group. Namun, keberuntunganku ini justru menjadi sumber masalah.
Aku membenarkan gaun merah sederhana yang kupakai. Gaun itu bukan rancangan desainer terkenal, hanya gaun biasa yang kubeli di butik lokal. Namun, gaun itu cukup untuk membuatku merasa percaya diri, setidaknya untuk malam ini. Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri. Aku harus bisa menghadapi Alexander. Aku harus bisa mengatakan padanya bahwa aku tidak bisa lagi bekerja untuknya.
Aku melihat Alexander berdiri di dekat panggung, dikelilingi oleh para tamu undangan. Ia tampak begitu tampan dengan setelan jas hitamnya. Rambutnya yang gelap tertata rapi, dan senyum tipis menghiasi bibirnya. Senyum yang jarang sekali kulihat, senyum yang selalu membuat hatiku berdebar kencang. Aku berjalan mendekatinya, mencoba mengabaikan tatapan mata para wanita yang menatapku dengan sinis. Mereka semua adalah wanita-wanita cantik dan kaya yang pantas bersanding dengan Alexander. Sementara aku? Aku hanyalah seorang gadis biasa yang bermimpi terlalu tinggi.
"Arum," suara Alexander memecah lamunanku. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. "Kau terlihat cantik malam ini."
Pipiku terasa memanas mendengar pujiannya. "Terima kasih, Pak Alexander," jawabku gugup. Aku mencoba menjaga jarak, namun ia justru mendekatiku.
"Jangan panggil aku 'Pak' di luar kantor, Arum," bisiknya di telingaku. "Panggil saja Alexander."
Napasku tercekat. Sentuhan lembut tangannya di pinggangku membuatku kehilangan kata-kata. Aku tahu ini salah. Aku tahu aku tidak seharusnya merasakan ini. Alexander adalah atasanku, ia adalah seorang miliarder, dan aku hanyalah seorang karyawan biasa. Namun, perasaanku padanya terlalu kuat untuk diabaikan.
"Alexander," ucapku pelan. "Aku... aku ingin bicara denganmu."
"Tentu," jawabnya sambil tersenyum. "Ada apa?"
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan amplop dari tasku. "Aku ingin mengundurkan diri."
Senyum di wajahnya menghilang seketika. "Apa? Kenapa?"
"Aku... aku tidak bisa lagi bekerja untukmu," jawabku lirih. "Ini terlalu sulit bagiku."
"Apa maksudmu 'terlalu sulit'?" tanyanya dengan nada dingin. "Apakah ada masalah dengan pekerjaanmu?"
"Tidak, bukan itu," jawabku. "Masalahnya adalah... aku tidak bisa lagi menahan perasaanku padamu."
Alexander terdiam sejenak. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku bisa melihat keterkejutan di matanya, namun aku juga bisa melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatku berharap, sesuatu yang membuatku berani mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.
"Kau... kau menyukaiku?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk. "Ya, Alexander. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu."
Keheningan menyelimuti kami. Aku bisa merasakan tatapan mata para tamu undangan tertuju pada kami. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang. Aku menunggu reaksinya, menunggu jawaban yang akan menentukan masa depanku.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik bergaun merah menyala menghampiri kami. Wanita itu adalah Isabella, seorang model terkenal yang sering digosipkan dekat dengan Alexander.
"Alexander sayang," ucap Isabella sambil memeluk lengan Alexander. "Kau di sini rupanya. Aku mencarimu dari tadi."
Isabella menatapku dengan tatapan meremehkan. "Siapa dia?" tanyanya dengan nada sinis.
Alexander melepaskan pelukan Isabella dan menatapku. "Dia adalah Arum, akuntan pribadiku."
"Akuntan?" Isabella tertawa sinis. "Oh, aku kira dia adalah salah satu pelayan di sini."
Pipiku terasa panas mendengar hinaannya. Aku mencoba untuk tetap tenang, namun hatiku terasa sakit. Aku tahu aku tidak pantas bersanding dengan Alexander, namun aku tidak menyangka akan dipermalukan seperti ini.
"Isabella, jaga bicaramu," ucap Alexander dengan nada tegas.
"Kenapa?" tanya Isabella dengan nada menantang. "Apa kau menyukainya? Apakah dia lebih penting dariku?"
Alexander terdiam sejenak. Ia menatap Isabella, lalu menatapku. Aku bisa melihat keraguan di matanya, namun aku juga bisa melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatku takut.
"Arum," ucap Alexander pelan. "Maafkan aku."
Sebelum aku sempat bereaksi, Alexander menarik Isabella ke dalam pelukannya dan menciumnya di depan mataku. Aku terkejut, hatiku hancur berkeping-keping. Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku berbalik dan berlari menjauh dari mereka, meninggalkan amplop berisi surat pengunduran diriku tergeletak di lantai.
Aku berlari secepat mungkin, mencoba menjauh dari rasa sakit yang menusuk hatiku. Aku tidak tahu ke mana aku harus pergi, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Yang kutahu, aku tidak bisa lagi berada di dekat Alexander. Aku tidak bisa lagi menahan perasaanku padanya. Aku harus pergi, aku harus melupakan dia. Namun, mungkinkah aku bisa melupakan seorang miliarder yang telah mencuri hatiku? Aku terus berlari, air mata membasahi pipiku. Di tengah keramaian malam Jakarta, aku merasa begitu sendiri dan tersesat. Lalu, ponselku berdering. Sebuah nama yang tak asing tertera di layarnya: 'Mama'. Aku mengangkatnya dengan suara bergetar.
"Halo, Ma?" sapaku.
"Arum, Nak, Mama punya kabar buruk... Bapakmu... Bapakmu masuk rumah sakit."