Cincin Pernikahan di Dasar Laut

Cincin Pernikahan di Dasar Laut

By FRamadhani

romance · 2026-04-23

Kirana kembali ke Pantai Sanur, tempat dia menikah, lima tahun setelah perceraiannya. Dia menemukan cincin pernikahannya di pasir dan bertemu mantan suaminya, Arya, yang akan menikahi sahabatnya. Saat melarikan diri, dia bertemu cinta pertamanya, Dimas. Seseorang misterius mengawasi mereka.

Bab 1

Cincin Pernikahan di Dasar Laut

Deburan ombak Pantai Sanur memecah keheningan malam, namun tak mampu meredam gemuruh di dadaku. Lima tahun lalu, di tempat inilah, aku, Kirana Adiwangsa, mengikat janji suci dengan Arya, lelaki yang kini menjadi mantan suamiku. Sekarang, aku kembali, bukan untuk mengenang manisnya masa lalu, melainkan untuk memulai babak baru, tanpa bayang-bayangnya.

Angin malam menerpa wajahku, membawa serta aroma garam dan kenangan. Kenangan tentang senyum Arya, genggaman tangannya, dan bisikan cintanya. Semua itu terasa begitu dekat, namun sekaligus begitu jauh. Seperti mimpi yang indah, lalu terbangun dan menyadari bahwa semuanya hanyalah ilusi.

Pernikahan kami, yang dulu diidam-idamkan banyak orang, hancur berantakan karena kesalahanku. Ya, kesalahanku. Aku mengakui itu. Aku terlalu fokus pada karierku sebagai seorang arsitek ternama, hingga melupakan peranku sebagai seorang istri. Aku terlalu sibuk mengejar mimpi-mimpiku, hingga mengabaikan hati Arya.

Dan puncaknya adalah ketika aku menerima proyek besar di luar kota, yang mengharuskanku meninggalkan Arya selama berbulan-bulan. Saat itulah, jarak di antara kami semakin menganga lebar. Arya, yang selalu mendukungku, mulai merasa kesepian dan terabaikan. Dan aku, yang terlalu buta dengan ambisi, tidak menyadarinya.

Hingga suatu hari, aku menerima kabar yang menghancurkan hatiku. Arya, lelaki yang kucintai sepenuh hati, berselingkuh dengan sahabatku sendiri, Riana. Dunia serasa runtuh. Aku merasa dikhianati, dipermalukan, dan hancur lebur. Tanpa pikir panjang, aku mengajukan gugatan cerai. Arya tidak membantah. Dia hanya menatapku dengan tatapan kosong, seolah sudah menyerah dengan segalanya.

Lima tahun berlalu. Aku sudah mencoba melupakan Arya, melanjutkan hidupku, dan membangun kembali karierku. Aku sudah meraih banyak kesuksesan, memenangkan berbagai penghargaan, dan memiliki segalanya yang kuinginkan. Tapi, di balik semua itu, ada satu hal yang hilang: kebahagiaan sejati.

Aku sering merenung, bertanya-tanya apakah aku telah melakukan keputusan yang tepat. Apakah perceraian adalah solusi terbaik? Apakah aku seharusnya memberikan Arya kesempatan kedua? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuiku, terutama saat aku merasa kesepian dan merindukan kehadirannya.

Dan kini, aku berdiri di Pantai Sanur, tempat di mana semuanya dimulai, dengan harapan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Aku ingin berdamai dengan masa lalu, memaafkan diriku sendiri, dan membuka hatiku untuk kemungkinan baru.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Aku melangkah menuju bibir pantai, membiarkan ombak membasahi kakiku. Aku memejamkan mata, merasakan angin laut menerpa wajahku. Aku mencoba merasakan kehadiran Arya di sekitarku. Aku mencoba mengingat kenangan-kenangan indah yang pernah kami lalui bersama.

Tiba-tiba, mataku menangkap sesuatu yang berkilauan di antara pasir. Aku berjongkok, mengulurkan tangan, dan mengambil benda itu. Sebuah cincin. Cincin pernikahan. Cincin pernikahan kami. Cincin yang dulu pernah melingkar di jari manisku, kini tergeletak di dasar laut.

Jantungku berdegup kencang. Aku menggenggam cincin itu erat-erat. Aku merasakan sentuhan masa lalu, rasa sakit, penyesalan, dan harapan. Air mata mulai membasahi pipiku. Aku tidak tahu mengapa cincin ini bisa berada di sini. Apakah Arya sengaja membuangnya? Atau, apakah ini hanya kebetulan belaka?

Aku membuka mata, menatap cincin itu dengan seksama. Aku melihat ukiran nama kami di bagian dalam cincin: "Kirana & Arya, Selamanya." Aku tersenyum pahit. Selamanya. Kata-kata itu kini terasa begitu ironis. Selamanya yang ternyata hanya bertahan lima tahun.

Aku berdiri, memandang lautan yang membentang luas di hadapanku. Aku merasa begitu kecil dan tidak berarti di hadapan kebesaran alam. Aku merasa begitu rapuh dan terluka. Aku ingin berteriak, meluapkan semua emosi yang selama ini kupendam.

Namun, aku tidak bisa. Aku hanya bisa berdiri di sana, memegang cincin pernikahan kami, dan menangis dalam diam. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya tahu bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi.

Saat aku hendak berbalik, aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. Suara yang sangat familiar. Suara yang selalu kurindukan. Aku menoleh.

"Kirana?" Lelaki itu berdiri tidak jauh dariku, menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. Tatapan yang membuat jantungku berdebar kencang. Tatapan yang membuatku merasa seperti kembali ke masa lalu.

Itu Arya. Mantan suamiku. Lelaki yang kucintai dan kubenci pada saat yang bersamaan. Lelaki yang telah menghancurkan hatiku, namun juga lelaki yang pernah membuatku merasa bahagia.

Aku terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan bingung dan terkejut. Apa yang dia lakukan di sini? Mengapa dia mencariku? Apakah ini semua hanya mimpi?

"Apa yang kamu lakukan di sini, Arya?" Akhirnya, aku berhasil mengeluarkan kata-kata itu dari mulutku.

Arya tersenyum tipis. Senyum yang dulu selalu membuatku jatuh cinta. Senyum yang kini membuatku merasa gugup dan tidak nyaman.

"Aku... aku hanya ingin bicara," jawabnya, dengan suara yang terdengar ragu.

"Bicara tentang apa? Tentang masa lalu? Tentang kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan?" tanyaku, dengan nada sinis.

"Tidak, Kirana. Aku ingin bicara tentang masa depan," ujarnya, menatapku dengan tatapan serius.

Aku mengerutkan kening. Masa depan? Masa depan seperti apa yang dia maksud? Apakah dia ingin mengajakku kembali bersama? Apakah dia ingin memberikan kami kesempatan kedua?

"Masa depan seperti apa yang kamu maksud, Arya?" tanyaku, dengan nada hati-hati.

Arya menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

"Aku... aku ingin kamu tahu, Kirana... Aku akan menikah minggu depan."

Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar diriku. Aku terkejut, terpukul, dan merasa hancur. Menikah? Arya akan menikah? Dengan siapa? Mengapa dia memberitahuku hal ini?

Aku merasa seperti orang bodoh. Aku merasa seperti telah salah mengartikan segalanya. Aku merasa seperti telah memberikan harapan palsu pada diriku sendiri.

"Menikah?" tanyaku, dengan suara bergetar. "Dengan siapa?"

Arya menunduk, tidak berani menatap mataku.

"Dengan Riana," jawabnya, pelan.

Dunia serasa berhenti berputar. Riana? Sahabatku sendiri? Jadi, selama ini, dia... Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya bisa menatap Arya dengan tatapan kosong.

"Aku tahu ini sulit untuk kamu terima, Kirana. Tapi, aku harap kamu bisa bahagia untukku," ujar Arya, dengan nada memelas.

Bahagia? Bagaimana aku bisa bahagia melihat lelaki yang kucintai menikahi sahabatku sendiri? Bagaimana aku bisa bahagia melihat masa depanku hancur berantakan di depan mataku?

Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa aku harus pergi dari sini. Aku harus menjauh dari Arya dan Riana. Aku harus melupakan mereka dan melanjutkan hidupku.

Aku berbalik, melangkah menjauhi Arya. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Aku tidak ingin mendengar suaranya lagi. Aku hanya ingin menghilang.

"Kirana! Tunggu!" Arya berteriak, mencoba mengejarku.

Namun, aku tidak peduli. Aku terus berlari, meninggalkan Arya dan masa laluku di belakang. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang aku tahu, aku harus pergi. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri.

Saat aku berlari, aku tidak sengaja menabrak seseorang. Aku terjatuh, cincin pernikahan kami terlepas dari genggamanku dan menggelinding jauh.

"Maaf, saya tidak sengaja," ucapku, dengan nada panik, tanpa melihat siapa yang kutabrak. Aku segera bangkit dan berusaha mencari cincin itu.

"Tidak apa-apa," jawab suara seorang lelaki. Suara itu terdengar asing, namun entah mengapa membuatku merasa nyaman.

Aku berhasil menemukan cincin itu dan segera menggenggamnya erat-erat. Aku mendongak, ingin meminta maaf sekali lagi.

Namun, betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa lelaki yang kutabrak. Lelaki itu adalah... Dimas, cinta pertamaku di masa SMA. Lelaki yang dulu pernah membuatku merasakan cinta yang begitu indah dan polos. Lelaki yang telah lama menghilang dari hidupku.

"Dimas?" ucapku, dengan nada tidak percaya.

Dimas tersenyum padaku. Senyum yang dulu selalu membuatku terpana. Senyum yang kini membuat jantungku berdebar kencang.

"Kirana? Ya Tuhan, ini benar-benar kamu?" ucap Dimas, dengan nada terkejut.

Aku mengangguk, masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Dimas berdiri di hadapanku, setelah bertahun-tahun lamanya. Takdir macam apa ini?

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku, dengan nada gugup.

"Aku sedang berlibur. Kebetulan aku menginap di hotel dekat sini," jawab Dimas, sambil tersenyum.

"Oh..." hanya itu yang bisa kukatakan. Aku merasa begitu canggung dan bingung.

"Kamu sendiri? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dimas, dengan nada penasaran.

Aku menunduk, menatap cincin pernikahan yang ada di tanganku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak mungkin menceritakan semua masalahku pada Dimas, kan?

"Aku... aku hanya sedang jalan-jalan," jawabku, berbohong.

Dimas menatapku dengan tatapan menyelidik. Sepertinya dia tidak percaya dengan jawabanku. Namun, dia tidak memaksaku untuk bercerita.

"Baiklah," ucap Dimas, sambil tersenyum. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita minum kopi bersama? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku ingin tahu apa saja yang sudah kamu lakukan selama ini."

Aku terdiam sejenak, mempertimbangkan tawarannya. Di satu sisi, aku ingin menolak. Aku tidak ingin terlibat dengan Dimas lagi. Aku takut dia akan mengetahui masa laluku yang kelam. Di sisi lain, aku merasa penasaran dengan Dimas. Aku ingin tahu bagaimana kehidupannya selama ini. Dan yang terpenting, aku membutuhkan teman bicara saat ini.

"Baiklah," akhirnya aku menerima tawarannya. "Aku ikut."

Dimas tersenyum lebar. "Bagus! Ayo! Ada sebuah kedai kopi yang enak di dekat sini."

Dimas menggandeng tanganku dan membawaku pergi. Aku mengikuti langkahnya, meninggalkan cincin pernikahan kami tergeletak di pasir. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya tahu bahwa hidupku akan segera berubah. Akankah Dimas menjadi penyelamatku, atau justru membawa luka baru dalam hidupku? Aku tidak tahu. Tapi, aku siap menghadapinya.

Saat kami berjalan menjauh, dari balik kegelapan, seseorang mengawasi kami. Sosok itu menyeringai sinis, menggenggam erat sebuah foto di tangannya. Foto aku dan Dimas. Sosok itu berbisik, "Permainan baru saja dimulai, Kirana."

Lanjut ke Bab 2