Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 1 — Bab 1: Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Deburan ombak Pantai Selatan menghantam karang di bawah Villa Anggrek, seirama dengan detak jantungku yang menggila. Di balkon ini, dengan aroma melati yang menyesakkan, aku tahu hidupku akan berubah selamanya.
Namaku Larasati, pewaris tunggal keluarga Widjaja, sebuah nama yang disegani sekaligus ditakuti di jagat bisnis properti. Sejak kecil, hidupku terkurung dalam sangkar emas, diatur oleh tradisi dan harapan keluarga. Pernikahanku, sudah diatur sejak lama, dengan Arya, putra keluarga Adiwangsa, aliansi sempurna untuk memperkuat kekuasaan kedua keluarga.
Namun, takdir punya rencana lain. Rencana yang terukir dalam tatapan mata itu, senyum misterius itu, dan sentuhan yang membakar jiwa.
Dia adalah Raden, sopir pribadi ayahku. Seorang pria yang seharusnya tidak lebih dari bayangan di pinggiran hidupku. Tapi, sejak pertama kali matanya bertemu mataku, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang terlarang.
Raden bukan hanya sopir. Dia memiliki aura tenang namun kuat, sorot mata yang menyimpan kedalaman yang tak terduga. Kulitnya terbakar matahari, otot-ototnya terbentuk sempurna di balik seragamnya. Setiap gerakannya memancarkan kepercayaan diri yang membuatku terpana.
Awalnya, hanya curi-curi pandang. Ketika dia membukakan pintu mobil, tangannya menyentuh tanganku lebih lama dari seharusnya. Ketika dia mengantarkan kopi ke ruang kerjaku, senyumnya terasa lebih personal, lebih intim. Aku mencoba mengabaikannya, menepisnya sebagai imajinasi liar seorang gadis yang terkekang.
Namun, semakin aku mencoba menjauh, semakin kuat tarikan itu. Seperti magnet, kami tak bisa melepaskan diri dari kekuatan yang tak terelakkan.
Malam ini, villa sepi. Ayah dan ibu sedang menghadiri jamuan makan malam resmi. Arya menelepon, mengatakan dia terjebak macet dan tidak bisa datang berkunjung. Aku sendirian, hanya ditemani suara ombak dan aroma melati yang semakin memabukkan.
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang. Cahaya bulan menerangi jalan setapak yang berkelok-kelok di antara pohon-pohon palem. Tiba-tiba, aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Jantungku berdebar kencang.
"Nona Larasati," suara Raden memecah kesunyian. Suaranya rendah dan berat, membuat bulu kudukku meremang.
Aku berbalik perlahan. Raden berdiri di sana, hanya beberapa langkah dariku. Wajahnya diterangi cahaya bulan, tampak tegas dan tampan.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanyanya, matanya menatapku intens.
Aku menggeleng, berusaha menenangkan diri. "Aku hanya sedang mencari udara segar."
Keheningan kembali menyelimuti kami. Hanya suara ombak yang terdengar, semakin keras dan mendesak.
Tiba-tiba, Raden melangkah mendekat. Aku terpaku, tidak bisa bergerak. Dia semakin dekat, semakin dekat, hingga hanya tersisa beberapa senti jarak di antara kami.
"Nona..." bisiknya, suaranya bergetar. "Saya tahu ini salah. Tapi saya tidak bisa menahannya lagi."
Dia mengulurkan tangannya, menyentuh pipiku dengan lembut. Sentuhan itu seperti sengatan listrik, membakar seluruh tubuhku. Aku menutup mata, menikmati sensasi terlarang ini.
"Raden..." bisikku, nyaris tak terdengar. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini bisa menghancurkan hidupku. Tapi aku tidak peduli.
Saat bibirnya menyentuh bibirku, sebuah suara memecah keheningan malam. "Larasati! Apa yang kau lakukan?!"
Aku membuka mata. Di depan kami, berdiri Arya, dengan wajah merah padam karena amarah. Tatapannya tertuju padaku dan Raden, penuh dengan kebencian dan penghinaan.