Kabut di Wajah Lara
Chapter 3 — Aroma Teh di Antara Dua Bayangan
Hujan masih merintik di Cameron Highlands, membasahi daun-daun teh yang hijau pekat. Udara dingin menusuk kulit, namun rasa sesak di dada Maya jauh lebih menggigit. Di hadapannya, berdiri dua lelaki yang mewakili dua babak hidupnya yang paling menyakitkan. Tengku Zarif, dengan tatapan tajam yang dulu pernah memenangi hatinya, kini memandang Zarif, mendiang suaminya yang entah bagaimana hadir kembali.
"Siapa kau sebenarnya?" desis Tengku Zarif, suaranya tegas, tak ubahnya badai yang siap menerjang. Tangannya terkepal erat di sisi. Aura persaingan yang tak terucap menguar di antara mereka, aroma teh yang khas seolah menjadi saksi bisu.
Zarif tersenyum sinis, senyum yang dulu Maya cintai, kini terasa asing dan dingin. "Aku? Aku adalah miliknya. Sesuatu yang sepatutnya tidak pernah lepas dariku." Ia melirik Maya, matanya memancarkan kepemilikan yang membuat Maya bergidik.
Maya menelan ludah. "Zarif... ini tidak mungkin. Kau sudah tiada!" Suaranya bergetar, antara percaya dan tidak. Setiap inci keberadaan Zarif di depannya bagai mimpi buruk yang terulang.
"Tiada?" Zarif tertawa, suara yang dulu menenangkan kini terdengar mengerikan. Ia melangkah mendekati Maya, mengabaikan Tengku Zarif yang siap menerkam. "Kau yang membuatku tiada, Maya. Tapi lihatlah, aku kembali untuk menuntut apa yang telah kau rampas."
Tengku Zarif maju selangkah, berdiri di antara Maya dan Zarif. "Jangan sentuh dia! Kau tidak berhak." Amarah menguasai wajahnya. Ia memandang Maya, mencari jawaban di matanya yang penuh ketakutan.
"Maya, siapa dia bagimu sekarang?" tanya Tengku Zarif, suaranya sedikit melembut, namun tetap ada nada menuntut. "Pilihlah. Aku atau dia?"
Maya terperangkap. Di satu sisi, Tengku Zarif, cinta pertamanya yang pernah ia tinggalkan demi kesalahpahaman yang kini terbukti fatal. Di sisi lain, Zarif, suaminya, yang kematiannya masih membekas, kini hadir kembali dengan misteri yang tak terpecahkan, menuntutnya.
Ia memandang Zarif, pria yang kini berdiri begitu dekat, aroma tubuhnya mengingatkan pada kenangan yang pahit. Lalu ia beralih ke Tengku Zarif, wajahnya penuh keyakinan, seolah menagih janji yang pernah terucap di masa lalu.
"Aku..." Maya membuka mulutnya, hendak menjawab. Jantungnya berdebar kencang. Keputusan ini akan menentukan segalanya. Ia melihat kilatan di mata Zarif, seolah menantikan pengakuannya. Ia juga melihat harapan di mata Tengku Zarif, seolah menagih masa lalu.
Namun, sebelum kata-kata itu terucap sepenuhnya, sebuah mobil mewah meluncur perlahan di jalan tanah yang basah, lampu depannya menyorot tajam ke arah mereka bertiga. Pintu mobil terbuka, dan sesosok wanita anggun dengan gaun malam yang elegan melangkah keluar. Wajahnya familier. Sangat familier.
"Maya? Lama tak jumpa," ucap wanita itu dengan senyum tipis yang dingin, matanya tertuju pada Zarif, lalu beralih ke Tengku Zarif. "Apa yang kau lakukan di sini, Tengku? Dan siapa lelaki misterius ini?"