Debu Mawar di Gaun Pengantin Usang

Chapter 2 — Riak Darah di Antara Seruling Bambu

Jeritan panik membahana di Balai Samudra, memecah keheningan yang baru saja tercipta. Elara terpaku di tempatnya, matanya tak berkedip menatap sosok Adrian yang terbaring tak berdaya di atas permadani mewah. Bunga mawar putih yang seharusnya menghiasi altar kini ternoda merah pekat. Jantung Elara berdebar kencang, bukan hanya karena terkejut, tetapi juga karena arus emosi yang saling bertabrakan – kemarahan, kekecewaan, dan sebuah rasa khawatir yang tak terduga.

“Adrian!” Suara seorang wanita, terdengar asing namun penuh kepanikan, membelah kerumunan. Itu pasti Clara, wanita yang kini menyandang status sebagai istri Adrian. Clara menerobos barisan tamu undangan, wajahnya pucat pasi. Ia merangkak menghampiri Adrian, tangannya gemetar saat menyentuh luka di dada suaminya.

Elara mundur selangkah, memberikan ruang bagi Clara. Ia merasa seperti orang asing di tengah kekacauan ini. Setahun lalu, ia ditinggalkan tanpa kata, tanpa penjelasan, dan kini ia melihat Adrian terkapar lemah di depan matanya. Pertanyaan yang selama ini menghantuinya – mengapa? – terasa semakin mendesak, namun suasananya sangat tidak tepat untuk mencari jawaban.

Petugas keamanan segera bergerak, mengerumuni Adrian. Salah satu dari mereka mencoba memeriksa denyut nadinya. “Dia masih bernapas, tapi lukanya cukup dalam. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!” seru petugas itu.

Beberapa pria bergegas mengangkat tubuh Adrian yang lemas. Clara mengikuti di sisinya, air mata mengalir deras di pipinya. Para tamu undangan saling berbisik, suasana pesta yang seharusnya meriah berubah menjadi tegang dan penuh kecurigaan.

Di tengah kekacauan itu, pandangan Elara menangkap sesuatu yang berkilat di bawah meja terdekat. Benda itu tampak seperti potongan seruling bambu yang patah, dengan noda darah yang menempel di salah satunya. Kenapa ada seruling bambu di sini? Elara teringat akan malam pertunangannya dengan Adrian, di mana Adrian pernah bermain seruling untuknya. Ada alasan mengapa benda itu ada di sini, dan Elara merasa itu adalah petunjuk penting.

Elara berjongkok, tangannya terulur untuk mengambil potongan seruling itu. Tiba-tiba, sebuah tangan mencengkeram lengannya. “Jangan sentuh apa pun!” Sebuah suara dingin terdengar di belakangnya.

Elara berbalik. Itu adalah ayah Adrian, Tuan Wijaya. Wajahnya keras, matanya menatap Elara dengan tajam. Ekspresinya menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar kemarahan atau kekecewaan – ada ketakutan yang tersembunyi di sana.

“Anda tidak seharusnya berada di sini, Elara. Pergilah sekarang juga,” ujar Tuan Wijaya, suaranya tegas tanpa celah.

“Tapi Adrian…” Elara mencoba membela diri.

“Adrian akan baik-baik saja. Yang terpenting sekarang adalah menjaga reputasi keluarga kami. Kejadian ini tidak boleh sampai tersebar luas,” potong Tuan Wijaya. Ia membuang muka, pandangannya tertuju pada kerumunan yang masih panik. “Pergilah. Sebelum Anda membuat masalah ini semakin rumit.”

Elara tertegun. Kata-kata Tuan Wijaya terasa menusuk. Ia merasa diusir, seolah kehadirannya di sini adalah sebuah kesalahan. Apakah Tuan Wijaya tahu sesuatu tentang apa yang terjadi pada Adrian? Mengapa ia begitu ingin Elara pergi?

Satu jam kemudian, Balai Samudra mulai sepi. Kepolisian datang, melakukan olah TKP. Elara sudah lama pergi, namun potongan seruling bambu itu kini terselip aman di sakunya. Ia menyetir mobilnya menjauh dari lokasi, pikirannya kalut. Adrian terluka parah, Clara menangis histeris, dan Tuan Wijaya menyuruhnya pergi. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang nyata.

Tiba-tiba, ponsel Elara berdering. Nomor tak dikenal. Dengan ragu, ia mengangkatnya.

“Halo?”

Keheningan di ujung telepon. Lalu, suara seorang pria yang terdengar lelah dan serak, nyaris seperti bisikan, berkata, “Elara… tolong jangan percaya siapa pun. Terutama… Tuan Wijaya.”

Sebelum Elara sempat bertanya siapa di balik telepon itu, sambungan terputus. Jantungnya kembali berdebar kencang. Siapa yang meneleponnya? Dan mengapa ia memperingatkan tentang ayah Adrian? Misteri di balik pernikahan Adrian dan insiden berdarah ini terasa semakin dalam dan membingungkan, menarik Elara ke dalam pusaran bahaya yang tak terduga.