Kabut di Gerbang Malam
Chapter 3 — Akar Anggrek Bulan Membelit Tulang
Tangan pucat dari kegelapan itu terulur, jari-jarinya yang memanjang bagai ranting kering yang haus akan kehangatan kehidupan. Corvus mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang seperti burung yang terperangkap di sangkar tulang rusuknya. Aroma anyir yang menusuk hidung semakin pekat, bercampur dengan bau apak tanah basah dan sesuatu yang membusuk—bau yang tidak seharusnya ada di dalam dinding Rumah Malam yang megah.
Cermin retak di hadapannya kini memantulkan pemandangan yang berbeda. Bukan lagi kilasan alam bayangan yang mengerikan, melainkan sosok Corvus sendiri, namun berbeda. Mata itu kosong, bibir membentuk seringai yang kejam, dan dari lekukan retakan di wajahnya, tumbuh sulur-sulur anggrek bulan yang pucat, membelit dan meremukkan tulang-tulang yang tampak di bawah kulitnya.
“Corvus…” Suara itu kembali terdengar, kini lebih jelas, menggema di lorong kosong. Bukan suara dari luar, melainkan dari dalam kepalanya sendiri, seolah-olah makhluk itu telah menemukan cara untuk merayap ke dalam pikirannya.
“Pergi!” Corvus berteriak, suaranya serak dan lemah. Ia meraih sebuah vas bunga antik dari meja terdekat, penuh dengan bunga lili yang layu, dan melemparkannya ke arah cermin. Vas itu pecah berkeping-keping, bunga-bunga berhamburan, tetapi pantulan di cermin tidak berubah. Tangan itu masih terulur, semakin dekat.
Ia teringat akan kata-kata mendiang mentornya, Elara. ‘Rumah Malam adalah cermin jiwa, Corvus. Apa yang kau lihat di luar, seringkali adalah pantulan dari apa yang tersembunyi di dalam dirimu.’ Apakah ini benar-benar penampakan dari Gerbang Malam, ataukah manifestasi dari ketakutan dan rasa bersalahnya sendiri? Rasa bersalah karena gagal menjaga Gerbang, rasa bersalah karena membiarkan wanita misterius itu masuk, rasa bersalah atas semua jiwa yang pernah ia gagal lindungi.
Tiga hari terakhir terasa seperti siksaan tiada akhir. Sejak musik kotak musik itu berhenti, rumah ini tidak pernah lagi sunyi. Bisikan-bisikan halus, suara-suara tangisan yang tertahan, dan kini, kehadiran yang begitu nyata dan mengancam. Hantu-hantu penghuni Rumah Malam, yang biasanya tertidur lelap dalam dekapan abadi mereka, kini gelisah. Corvus bisa merasakan getaran ketakutan mereka, resonansi dari energi gelap yang meresap ke dalam fondasi rumah ini.
Corvus memejamkan mata, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia harus melakukan sesuatu. Bersembunyi tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia adalah Penjaga Rumah Malam. Ia harus menghadapi apa pun yang mencoba merusak tempat ini.
Dengan napas dalam, ia membuka matanya kembali. Sosok di cermin itu kini hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Ia bisa merasakan hawa dingin yang menyengat dari jari-jari yang menjulur. Alih-alih mundur, Corvus justru melangkah maju. Ia mengulurkan tangannya sendiri, bukan untuk melawan, tetapi untuk… menyentuh.
“Siapa kau?” bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar di antara deru angin yang menderu di luar jendela.
Saat ujung jarinya menyentuh kulit pucat yang dingin itu, sebuah sensasi yang membekukan menjalar ke seluruh tubuhnya. Bukan rasa sakit, bukan pula dingin yang biasa. Ini adalah kehampaan yang absolut, kekosongan yang menyerap semua panas, semua cahaya, semua kehidupan. Pantulan di cermin itu tersenyum, seringai kejamnya melebar, dan anggrek bulan yang tumbuh di wajahnya tampak berdenyut hidup.
Di sisi lain cermin, jauh di dalam kabut yang berputar-putar di Laut Acheron, sebuah lonceng berdentang pelan, hanya sekali. Di salah satu kamar tidur kuno di Rumah Malam, sesosok bayangan perlahan bangkit dari tempat tidur berukir, matanya yang gelap menatap kosong ke arah pintu kamar.
“Dia memanggilmu, bukan?” Suara itu bergema lagi, kali ini lebih kuat, lebih memesona, seolah-olah tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memikat. “Dia membutuhkanmu, Corvus. Kita membutuhkanmu.”
Corvus merasakan tarikan yang tak tertahankan, seolah-olah jiwanya sendiri ditarik keluar dari tubuhnya, menuju jurang tak berdasar yang terbentang di balik permukaan cermin yang retak. Ia melihat sekilas sosok wanita misterius itu berdiri di kejauhan, di tengah kabut hitam pekat, menatapnya dengan senyum samar yang tidak dapat dibaca.
Kemudian, sebuah suara lain terdengar, kali ini datang dari balik punggungnya, sangat dekat di telinganya. Suara yang begitu akrab, namun kini dipenuhi kebencian yang mendalam.
“Kau seharusnya tidak pernah kembali, Corvus.”
Corvus menoleh dengan cepat, terkejut. Di ambang pintu kamar, berdiri sesosok pria tinggi berjubah gelap, wajahnya tersembunyi dalam bayangan tudung. Namun, Corvus mengenali tatapan dingin yang memancar dari kegelapan itu, tatapan yang sama yang pernah ia lihat di matanya sendiri di cermin tadi.