
Rahasia di Balik Pertunangan
By Rina Maharani
romance · 2026-04-23
Adelia, putri dari keluarga Ramadhani yang terancam bangkrut, dipaksa bertunangan dengan Jati Tanuwijaya, pewaris kerajaan bisnis pesaing. Malam pertunangan yang dingin mengungkapkan bahwa pernikahan ini lebih dari sekadar penyelamatan bisnis keluarga, melainkan sebuah permainan yang penuh dengan rahasia gelap dan rencana tersembunyi. Jati membisikkan rahasia yang mengejutkan Adelia, membuatnya bertanya-tanya tentang tujuan sebenarnya di balik pernikahan ini.
Bab 1
Cincin di Jari Manisnya
Debaran jantungku menggema di telingaku, mengalahkan alunan musik klasik yang memenuhi ballroom megah ini. Gaun sutra berwarna merah marun terasa menyesakkan, seolah mencekik setiap harapan yang tersisa dalam diriku. Malam ini, di hadapan ratusan tamu undangan yang berbisik-bisik, hidupku akan berubah selamanya.
Namaku Adelia Putri Ramadhani, dan aku adalah pion dalam permainan kekuasaan dan ambisi yang kejam. Warisan keluarga Ramadhani yang kaya raya, yang dibangun di atas fondasi bisnis tekstil yang merambah ke seluruh Asia Tenggara, kini terancam oleh hutang yang menggunung. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan kerajaan bisnis ayahku adalah dengan menikahi seorang pria yang tidak kucintai, seorang pria yang bahkan belum pernah kutemui.
Aku melirik ke arah ayahku, Bapak Mahesa Ramadhani, yang berdiri tegak di sampingku. Wajahnya yang biasanya ramah kini mengeras, dipenuhi garis-garis kekhawatiran. Dia menatap lurus ke depan, seolah tidak menyadari penderitaanku. Mungkin dia memang tidak peduli. Baginya, aku hanyalah aset, sebuah alat untuk mencapai tujuannya.
“Adelia, bersiaplah,” bisik ibuku, Ibu Ratna, suaranya bergetar. “Dia sudah datang.”
Jantungku semakin berdebar kencang. Aku mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, tetapi sia-sia. Ketakutan mencengkeramku dengan kuat, membuatku merasa seperti terperangkap dalam mimpi buruk yang tidak berkesudahan.
Pintu ballroom terbuka lebar, dan seorang pria melangkah masuk. Sorot lampu kristal menerangi wajahnya, menampakkan rahang yang tegas, mata yang tajam, dan bibir yang tipis. Dia mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya, memancarkan aura kekuasaan dan dominasi yang membuatku merinding.
Waktu seolah berhenti. Aku terpaku di tempatku berdiri, tidak mampu bergerak, tidak mampu bernapas. Pria itu berjalan mendekat, langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Dia adalah Jati Tanuwijaya, pewaris tunggal kerajaan bisnis Tanuwijaya Group, pesaing utama keluarga Ramadhani, dan calon suamiku.
Mata kami bertemu. Tatapannya dingin dan menusuk, seolah bisa menembus ke dalam jiwaku. Tidak ada kelembutan, tidak ada kasih sayang, hanya kekosongan yang menakutkan. Aku tahu, saat itu juga, bahwa pernikahan ini tidak akan mudah. Ini adalah perang, dan aku adalah salah satu prajuritnya.
Jati berhenti tepat di depanku. Dia mengulurkan tangannya, dan tanpa sadar, aku menyambutnya. Sentuhan kulitnya dingin dan keras, tidak ada kehangatan sama sekali.
“Adelia Putri Ramadhani,” ucapnya, suaranya berat dan dalam. “Senang bertemu denganmu.”
Aku hanya bisa mengangguk, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahku terasa kelu, dan tenggorokanku tercekat.
Acara pertunangan pun dimulai. Seorang pendeta membacakan janji suci, dan aku mengikuti setiap kata yang diucapkannya dengan suara gemetar. Ketika tiba saatnya untuk bertukar cincin, Jati mengambil sebuah kotak beludru berwarna merah dari sakunya. Dia membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian yang sangat indah, berkilauan di bawah sorot lampu.
Jati meraih tanganku dan memasangkan cincin itu di jari manisku. Cincin itu terasa dingin dan berat, seperti rantai yang mengikatku ke dalam pernikahan ini. Aku menatap cincin itu, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.
Setelah acara pertunangan selesai, Jati membawaku ke sebuah ruangan pribadi. Dia menutup pintu dan menatapku dengan tajam.
“Duduklah,” perintahnya.
Aku menurut, duduk di sofa yang empuk. Suasana di ruangan itu terasa tegang dan mencekam.
“Aku tahu kau tidak menginginkan pernikahan ini,” kata Jati, suaranya datar. “Tapi kau tidak punya pilihan. Begitu juga aku.”
Aku menatapnya, bingung. “Apa maksudmu?” tanyaku.
Jati tersenyum sinis. “Kau pikir aku senang menikahi putri dari keluarga yang hampir bangkrut? Aku punya rencana sendiri, Adelia. Dan kau akan membantuku mewujudkannya.”
Dia mendekatiku, membisikkan sesuatu di telingaku yang membuatku terkejut dan ketakutan. Sebuah rahasia gelap yang bisa menghancurkan kedua keluarga kami. Sebuah rahasia yang membuatku bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi di balik pernikahan yang diatur ini. Dan apakah aku akan mampu bertahan dalam permainan berbahaya yang baru saja dimulai ini.