Rahasia di Balik Pertunangan
Chapter 2 — Bayangan di Balik Senyum Mawar
Udara di ruangan pribadi itu terasa dingin, jauh lebih dingin dari keheningan yang menggantung di antara Adelia dan Jati. Jantung Adelia berdebar kencang, bagai genderang perang yang ditabuh di telinganya sendiri. Bisikan Jati—sebuah konspirasi yang tersembunyi di balik dinding-dinding kokoh rumah Tanuwijaya—masih terngiang, membekukan darahnya. Mawar merah yang tersemat di sanggulnya terasa seperti duri yang menusuk kulit kepala.
“Apa maksudmu?” Suara Adelia bergetar, nyaris tak terdengar. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari mata Jati yang bagai jurang gelap, mencari pegangan di dinding bercat krem yang dingin. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian.
Jati tertawa kecil, suara yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun. “Kau pikir ini semua hanya tentang bisnis? Tentang ayahmu yang butuh dana segar? Oh, Adelia, kau masih terlalu naif.” Ia melangkah mendekat, jemarinya yang panjang menyentuh dagu Adelia, memaksa wanita itu menatapnya. “Ramadhani Textile bukan hanya sekadar bisnis. Ia adalah awal dari segalanya.”
Adelia menarik wajahnya mundur dengan kasar. “Awal dari apa? Kau bicara seperti seorang penjahat!”
“Aku memang punya sisi gelap, Adelia. Dan kau baru saja masuk ke dalamnya.” Jati tersenyum miring. “Rahasia yang kubisikkan tadi… itu hanya permulaan. Kau akan membantuku membersihkan nama keluargaku. Membersihkan nama Tanuwijaya dari noda yang ditinggalkan oleh orang-orang seperti ayahmu.”
Keluarga Tanuwijaya? Ayahku? Adelia mengerutkan kening, rasa bingung bercampur dengan amarah yang mulai membuncah. “Ayahku tidak bersalah! Dia hanya menghadapi kesulitan finansial. Apa hubungannya dengan keluargamu?”
“Hubungannya? Hubungannya adalah bisnis yang ayahmu rebut dari tangan ayahku bertahun-tahun lalu. Bisnis yang seharusnya menjadi milik Tanuwijaya Group, sebelum ayahmu datang dengan segala tipu muslihatnya.” Mata Jati berkilat penuh dendam. “Dan aku akan mengambil kembali apa yang menjadi hakku. Termasuk… pernikahan ini.”
Adelia terkesiap. Jadi, ini bukan sekadar perjodohan bisnis, tapi balas dendam? Ia merasa seperti boneka yang dimainkan di atas panggung sandiwara yang gelap dan penuh intrik. “Jadi, kau menikahi aku bukan karena dijodohkan, tapi untuk membalas dendam pada ayahku?”
“Aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan, Adelia. Dan kau akan menjadi bagian dari rencanaku. Kau akan membantuku mendapatkan bukti-bukti yang selama ini ayahmu sembunyikan. Bukti pengkhianatan bisnisnya.” Jati mendekatkan wajahnya lagi, napasnya yang hangat menerpa kulit Adelia. “Kalau kau tidak membantuku, maka bukan hanya bisnis ayahmu yang akan hancur. Tapi seluruh reputasi keluargamu. Aku punya bukti yang cukup untuk menghancurkan kalian semua. Dan dengan kau di sisiku, aku akan mendapatkan lebih banyak lagi.”
Adelia merasakan kakinya lemas. Ancaman itu nyata. Ia bisa melihatnya dari sorot mata Jati yang dingin dan penuh perhitungan. Pernikahan ini bukan penyelamatan, melainkan jebakan. Ia terjebak di antara kehormatan keluarganya dan ancaman kehancuran yang dibawa oleh pria di depannya.
“Kau… kau tidak bisa melakukan ini,” bisiknya, suaranya tercekat oleh rasa takut yang menusuk. Ia teringat perkataan ibunya, Ibu Ratna, yang selalu memohon agar ia menerima perjodohan ini demi kebaikan keluarga. Tapi kebaikan macam apa yang ia dapatkan jika harus mengorbankan dirinya sendiri dalam permainan balas dendam yang mengerikan?
“Aku bisa. Dan aku akan melakukannya.” Jati melepaskan dagu Adelia, melangkah mundur seolah merasa puas melihat kepanikan di wajah wanita itu. “Sekarang, kau punya pilihan. Bergabung denganku, atau lihatlah kehancuranmu sendiri. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Pagi ini, saat sarapan bersama orang tuamu, aku ingin mendengar jawabanmu. Jawaban yang memuaskan.”
Jati berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Adelia sendirian dalam kebisuan yang mencekam. Suara langkah kakinya menjauh, meninggalkan Adelia dengan pikiran yang berkecamuk. Ia meremas gaun mewahnya, merasakan kain sutra yang dingin di antara jari-jarinya yang gemetar. Bayangan Jati, bayangan masa lalu kelam yang diungkapkan, dan bayangan masa depan yang suram kini melingkupinya seperti kabut tebal.
Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, namun udara terasa sesak di paru-parunya. Ia harus segera memutuskan. Melawan Jati berarti kehancuran total bagi keluarganya. Namun, bekerja sama dengan Jati berarti ia harus mengkhianati ayahnya sendiri, menjadi mata-mata bagi pria yang baru saja ia nikahi, pria yang penuh dengan dendam dan rencana gelap. Di mana letak kebenaran dalam permainan ini?
Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka lagi. Adelia menoleh cepat, berharap itu Jati yang kembali dengan tawaran lain. Namun, yang berdiri di ambang pintu bukanlah Jati. Melainkan seorang wanita paruh baya dengan penampilan elegan namun sorot mata tajam yang tak pernah Adelia lihat sebelumnya. Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya.
“Nona Adelia?” Suara wanita itu halus namun tegas. “Saya Ibu Wati, sekretaris pribadi Tuan Tanuwijaya. Tuan Jati menitipkan pesan untuk Anda. Beliau bilang, beliau akan sangat kecewa jika Anda tidak segera menemui beliau di taman belakang. Beliau punya ‘kejutan’ lain untuk Anda sebelum sarapan.”
Adelia menatap wanita itu dengan curiga. Taman belakang? Kejutan? Apa lagi yang direncanakan Jati? Ia merasa seperti terperangkap dalam labirin tanpa ujung. Namun, ia tahu, ia tidak bisa terus bersembunyi. Ia harus melangkah maju, menghadapi apa pun yang menantinya.
Dengan langkah ragu, Adelia bangkit dari kursinya. Ia memandang sekilas ke arah jendela besar yang memperlihatkan langit malam yang berbintang. Bintang-bintang itu tampak jauh dan dingin, sama seperti masa depannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya, dan melangkah keluar dari ruangan itu, menuju taman belakang yang gelap, menuju kejutan lain yang dijanjikan oleh Jati Tanuwijaya.