Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 11 — Tarian Angsa di Atas Api
Udara di kafe terasa tebal, sarat dengan ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Larasati menatap tak percaya pada Raden. Pria di hadapannya kini memancarkan aura berbeda—kekuatan yang terpendam kini terkuak, selaras dengan kilau dingin pada liontin angsa yang menggantung di dadanya, serupa dengan yang Arya pegang. Surat di tangannya terasa bergetar, seolah ikut merasakan gejolak emosi yang melanda.
Arya, yang sedari tadi menatap tajam ke arah Larasati, kini mengalihkan pandangannya pada Raden. Senyum tipis—sinis, bukan geli—tersungging di bibirnya. Panggilan telepon yang baru saja ia terima telah mengubah segalanya. Sang penelepon, suara yang dingin dan memerintah, telah memberinya informasi yang membuatnya memandang Raden dengan cara yang baru. Bukan lagi sekadar rival, tapi ancaman yang lebih nyata.
“Jadi, kau akhirnya muncul juga,” Arya memulai, suaranya rendah dan mengancam. “Dengan surat yang sama? Dan liontin itu? Kebetulan sekali. Atau… ini sudah direncanakan?”
Raden melangkah maju, tatapan matanya terkunci pada Arya. “Aku tidak merencanakan apa pun. Aku di sini karena aku harus ada di sini. Untuknya,” ia menunjuk Larasati dengan dagunya, “dan untuk kebenaran.”
Larasati masih terpaku, mencoba mencerna semua yang terjadi. Peringatan ibunya, kemunculan Raden yang tak terduga, ancaman Arya, dan bayangan pria asing yang terus mengintai. Semua terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai.
“Kebenaran?” Arya tertawa getir. “Surat itu hanya berisi kebohongan yang dibuat oleh ayahmu. Bapak Widjaja adalah pengkhianat. Dia membunuh ayahku, dan dia juga yang menjebakmu, Raden.”
Kata-kata Arya seperti petir menyambar telinga Larasati. Pengkhianatan? Pembunuhan? Ia memejamkan mata sejenak, mencoba memproses informasi yang saling bertentangan itu. Surat ibunya, perkataan Arya, bisikan yang didengar Raden—semuanya menambah lapisan kerumitan yang menyesakkan.
“Kau berbohong,” desis Raden. “Ibuku memperingatkanku tentangmu, Larasati. Tapi dia juga memperingatkanku tentang bahaya yang mengintai. Dan aku tahu, kebenaran ada dalam surat itu.” Ia menatap Larasati, tatapan matanya lembut namun penuh tekad. “Apa pun isi surat itu, aku akan menghadapinya bersamamu.”
Sebelum Larasati sempat merespons, pintu kafe terbuka dengan kasar. Pria asing itu berdiri di ambang pintu, siluetnya gelap di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Matanya yang tajam menyapu ruangan, berhenti sejenak pada Raden, lalu pada Arya, sebelum akhirnya tertuju pada Larasati. Aura dominasinya terasa begitu kuat, membuat udara di sekitarnya seolah menipis.
“Sepertinya pertemuan ini menjadi sedikit lebih… ramai,” ucap pria asing itu, suaranya tenang namun menyimpan ancaman. Ia melangkah masuk, setiap gerakannya penuh perhitungan. “Aku tidak suka ada yang mengganggu rencanaku. Terutama kau, Arya Adiwangsa. Kau sudah terlalu banyak campur tangan.”
Arya mengepalkan tangannya, otot-otot di rahangnya menegang. “Kau tidak bisa menghentikanku. Surat itu, dan Larasati, adalah milikku.”
Pria asing itu tertawa. “Milikmu? Kau salah besar. Larasati bukan milik siapa pun. Terutama bukan milik pria yang dikendalikan oleh orang lain.” Ia melirik Arya, menyiratkan sesuatu yang membuat Arya terdiam sejenak.
“Dan kau, Raden,” lanjut pria asing itu, mengalihkan perhatiannya pada Raden. “Sangat menarik kau memiliki surat yang sama dan liontin yang sama. Sepertinya peringatan ibumu tidak cukup kuat untuk menjagamu tetap dalam bayang-bayang. Kau memilih jalan yang berbahaya.”
Raden berdiri tegak, melindungi Larasati di belakangnya. “Aku tidak takut. Apa pun yang kau rencanakan, aku akan melindunginya.”
“Perlindungan?” Pria asing itu tersenyum dingin. “Kau bahkan belum tahu apa yang kau lindungi. Atau dari siapa.” Ia kemudian menatap Larasati, tatapan yang membuat bulu kuduknya berdiri. “Kau punya pilihan, Larasati. Tetap bersama mereka yang akan menghancurkanmu, atau datang padaku. Aku bisa memberimu kekuatan yang kau butuhkan untuk bertahan.”
Larasati menatap pria asing itu, lalu beralih ke Arya yang penuh amarah, dan terakhir pada Raden yang memancarkan keyakinan. Di tengah kekacauan ini, ia merasa sendirian, namun juga dikelilingi oleh orang-orang yang menginginkannya, dengan alasan yang berbeda-beda. Ia menggenggam erat surat di tangannya, mencari kekuatan dari kata-kata ibunya yang tersembunyi di sana.
Tiba-tiba, ponsel di saku Arya berdering lagi. Kali ini, Arya tidak mengabaikannya. Wajahnya pucat pasi saat melihat nama penelepon. Ia menjawabnya dengan suara bergetar, “Ya… Ya, aku mengerti…”
Sebelum Arya bisa menyelesaikan kalimatnya, pria asing itu bergerak. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan Arya, merampas ponsel itu dari tangan Arya. Ekspresinya berubah menjadi amarah dingin yang mengerikan.
“Kau pikir kau bisa bermain api denganku, Arya?” desis pria asing itu. Ia menatap Arya dengan pandangan membunuh. “Kau seharusnya tahu, hanya satu dari kita yang bisa berdiri di akhir permainan ini.”
Kemudian, dengan gerakan yang cepat dan mematikan, pria asing itu mengangkat tangannya. Arya terhuyung ke belakang, matanya membelalak kaget sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri ke lantai kafe yang dingin. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan, hanya menyisakan detak jantung Larasati yang menggila di telinganya.