Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 10 — Api Prasangka di Kafe Sunyi
Udara di kafe remang-remang terasa berat, pengap oleh aroma kopi basi dan ketegangan yang tak terucap. Larasati menelan ludah, matanya terpaku pada Arya yang berdiri di depannya, siluetnya memanjang diterpa cahaya lampu jalan yang redup. Jantungnya berdebar tak keruan, setiap denyutnya adalah gema dari peringatan yang baru saja dibacanya dalam surat dari mendiang ibunya.
“Surat itu milikku, Larasati,” suara Arya serak, mengandung ancaman yang lebih dalam dari sekadar permintaan. Matanya, yang selalu tajam seperti elang, kini memancarkan obsesi yang mengerikan. Ia melangkah lebih dekat, tangannya terulur seolah ingin merebut benda tak terlihat dari udara di antara mereka.
Larasati mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding dingin yang bertekstur. Ketakutan merayapi tulang punggungnya. Ia tahu Arya tidak akan berhenti. Surat itu adalah kunci, bukan hanya untuk masa lalu yang kelam, tapi juga untuk masa depan yang kini tampak semakin suram. Ia teringat bisikan ibunya, peringatan tentang bahaya yang mengintai Raden. Apakah ini yang dimaksud? Apakah Arya adalah bahaya itu?
“Tidak, Arya,” jawab Larasati, suaranya bergetar namun tegas. “Surat ini milikku. Dan aku tidak akan memberikannya padamu.” Ia menggenggam erat amplop usang di saku mantelnya, jari-jarinya mencengkeram kertas itu seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai yang melanda hidupnya.
Arya tertawa dingin, suara yang menusuk telinga. “Berani sekali kau menolakku? Setelah semua yang telah kulakukan untukmu? Kau pikir kau bisa lari dari kenyataan? Dari apa yang telah kau lakukan?”
“Apa yang telah kulakukan?” Larasati mendongak, menatap mata Arya dengan campuran amarah dan keputusasaan. “Kau yang datang padaku, Arya. Kau yang menginginkan segalanya dariku. Dan sekarang kau mengancamku dengan surat yang bahkan belum kau baca isinya.”
Pandangan Arya menyapu wajah Larasati, matanya menyipit saat melihat kilatan tekad di sana. Ia tidak terbiasa ditolak, apalagi oleh Larasati. Ia terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya, dengan cara apa pun. Ia melirik ke luar jendela, ke arah jalanan yang mulai lengang. “Kau pikir kau aman di sini? Kau pikir pria asing itu akan melindungimu selamanya? Dia hanya mempermainkanmu, Larasati. Sama seperti aku mempermainkanmu.”
Kata-kata Arya bagai racun yang meresap ke dalam jiwa Larasati. Pria asing itu. Bisikan ibunya. Surat itu. Arya. Semuanya terasa seperti jaring laba-laba yang semakin erat melilitnya. Ia tahu ia harus segera pergi dari sini, namun kakinya terasa terpaku ke lantai.
“Kau tidak tahu apa-apa,” desis Larasati, berusaha mengendalikan napasnya. “Kau hanya peduli pada dirimu sendiri.”
“Aku peduli pada apa yang menjadi milikku,” balas Arya, kini suaranya menjadi sangat pelan, nyaris berbisik, namun justru lebih menakutkan. “Dan kau, Larasati, adalah milikku. Surat itu juga.” Ia meraih pergelangan tangan Larasati, cengkeramannya kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulitnya. Larasati tersentak, mencoba melepaskan diri, namun kekuatan Arya jauh melebihi perkiraannya.
Di tengah pergulatan mereka, pintu kafe mendadak terbuka dengan gebrakan keras. Sosok pria asing yang selama ini menjadi bayangan misterius di hidup Larasati, kini berdiri tegak di ambang pintu. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan aura kekuasaan yang dingin. Ia memandang Arya yang sedang mencengkeram pergelangan tangan Larasati, lalu beralih pada Larasati yang terperangkap di antara dinding dan cengkeraman Arya.
Arya menoleh, seringainya berubah menjadi seringai kemenangan sesaat sebelum menyadari siapa yang berdiri di sana. “Kau,” geram Arya, melepaskan pegangan tangannya pada Larasati untuk bersiap menghadapi musuh barunya.
Pria asing itu melangkah masuk, setiap gerakan penuh perhitungan. Ia berhenti beberapa langkah dari Arya, tatapannya terkunci pada Larasati. “Kau tidak seharusnya berada di sini, Arya,” katanya, suaranya tenang namun tegas, memotong udara tegang di antara mereka.
“Ini bukan urusanmu,” balas Arya, otot-ototnya menegang. “Pergi sebelum kau menyesal.”
Pria asing itu mengabaikan ancaman Arya. Ia menatap langsung ke mata Larasati. “Aku datang untukmu, Larasati. Peringatan itu benar. Bahaya itu nyata. Dan dia,” ia menunjuk Arya dengan dagunya, “adalah salah satu bahayanya.”
Larasati memandang kedua pria itu, satu penuh dengan obsesi yang membara, yang lain dengan kendali yang dingin dan perhitungan. Ia merasa terjebak di antara dua kekuatan yang saling bertabrakan, keduanya mengklaim dirinya, keduanya mengancam kedamaian yang mulai ia dambakan. Ia teringat peringatan dari sosok ibunya, pesan dalam surat itu. Semua ini terlalu berat. Ia harus membuat pilihan. Pilihan yang akan menentukan segalanya.
“Aku…” Larasati membuka mulutnya, namun kata-kata itu tercekat di tenggorokan. Tiba-tiba, terdengar dering ponsel dari saku Arya. Arya melirik sekilas ke layar ponselnya, ekspresinya berubah dari amarah menjadi keterkejutan yang mengerikan. Ia segera mengangkat panggilan itu, wajahnya pucat pasi.
“Apa? Kapan? Di mana?” tanya Arya, suaranya bergetar. Ia menatap Larasati dengan pandangan kosong, seolah baru saja melihat hantu. “Tidak… ini tidak mungkin…”
Pria asing itu memandang Arya dengan penuh minat, seolah menunggu sebuah pengakuan. Larasati, meski dilanda kebingungan dan ketakutan, merasakan ada sesuatu yang sangat penting baru saja terjadi. Sesuatu yang menghubungkan Arya, surat itu, dan bahaya yang sedang mengintai.
Arya mematikan ponselnya dengan kasar, menatap Larasati dengan tatapan yang tak terbaca. “Kita harus pergi,” katanya, nadanya kini terdengar mendesak, bukan lagi mengancam. “Sekarang.”
Sebelum Larasati bisa bertanya mengapa, sebelum pria asing itu bisa bereaksi, sebuah suara tenang terdengar dari arah pintu yang masih terbuka.
“Tidak perlu repot-repot, Arya. Dia tidak akan pergi ke mana pun bersamamu.”
Sosok yang berbicara bukanlah Arya, bukan pula pria asing. Di ambang pintu, berdiri Raden. Ia tampak pucat, namun matanya yang dulu memancarkan kehangatan kini dipenuhi dengan keteguhan yang dingin. Ia memegang sebuah amplop usang, identik dengan yang Larasati sembunyikan di sakunya. Di tangannya yang lain, tersemat sebuah liontin angsa yang sama persis dengan milik Larasati.