Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 6 — Jejak Api dan Bisikan Pengkhianatan
Asap pekat masih mengepul dari sisa-sisa paviliun yang terbakar, menyisakan aroma hangus yang menusuk hidung. Larasati terbatuk, matanya pedih oleh debu dan kepedihan yang membekas di hatinya. Arya berdiri di depannya, tatapannya dingin seperti baja yang baru ditempa, di tangannya tergenggam liontin angsa yang baru saja ia rebut dari Raden. Tatapan Arya beralih pada Raden yang terkapar di tanah, wajahnya pucat pasi namun matanya memancarkan tekad yang membara.
"Kau pikir kau bisa melindunginya, Raden?" desis Arya, suaranya serak namun penuh ancaman. "Kau hanya pion yang kelelahan. Dan kau," ia menoleh pada Larasati, "akan tetap menjadi milikku."
Larasati merasa mual. Kebenaran yang diucapkan Arya tentang kehamilannya, tentang ia yang bukan ayah dari anak itu, berputar-putar di benaknya. Namun, kenyataan bahwa Raden adalah kakaknya… itu adalah pukulan yang lebih telak, lebih menghancurkan dari api yang mengamuk. Bagaimana mungkin dia bisa memiliki perasaan ini untuk saudaranya sendiri?
Di tengah keputusasaan Larasati, terdengar suara langkah kaki yang tergesa. Bapak Widjaja muncul dari balik reruntuhan, wajahnya diliputi kekhawatiran. Matanya menyapu adegan di depannya – Arya yang arogan, Raden yang terluka, dan Larasati yang tampak rapuh.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Bapak Widjaja, suaranya bergetar. Ia melihat amplop surat tua yang diselipkan Arya di saku celananya, amplop yang sama dengan yang ia simpan di brankas pribadinya. Jantungnya berdegup kencang. Ia teringat percakapannya dengan Arya kemarin, tentang pembunuhan ayah Arya, dan pengakuan mengerikan yang ia buat.
Arya menyeringai, menyembunyikan amplop itu lebih dalam. "Hanya sedikit kecelakaan, Ayah. Larasati terlalu emosional. Dan Raden… dia berusaha ikut campur."
Larasati memandang ayahnya, mencari secercah perlindungan, namun yang ia temukan hanyalah kebingungan dan rasa bersalah. Ia tahu ayahnya menyimpan rahasia, rahasia yang menghubungkannya dengan kematian ayah Arya. Dan kini, surat di tangan Arya adalah kunci yang bisa menghancurkan mereka semua.
"Surat itu…" Bapak Widjaja menunjuk amplop yang tersembunyi di saku Arya. "Dari mana kau mendapatkannya?"
Arya tertawa dingin. "Ini adalah surat dari ibu Raden, Ayah. Surat yang membuktikan segalanya. Kebenaran tentang siapa ayah dari anak Larasati… dan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematian ayahku."
Raden mengerang dari lantai, berusaha bangkit. "Jangan percaya padanya, Larasati! Dia memutarbalikkan segalanya!"
"Tetap di sana, Raden," perintah Arya dengan nada yang tak terbantahkan. "Kau sudah tidak punya apa-apa lagi."
Bapak Widjaja maju selangkah, tangannya terulur. "Arya, berikan surat itu padaku."
Arya mundur selangkah, tatapannya menajam. "Mengapa, Ayah? Takut rahasia kelammu terbongkar?"
Sebelum Bapak Widjaja bisa menjawab, sebuah suara asing memecah ketegangan. "Permainan ini sudah selesai, Nona Kirana. Sekarang giliran saya."
Semua mata tertuju pada sosok pria yang baru saja muncul dari kegelapan, mengenakan jas hitam yang elegan, senyumnya tipis dan misterius. Ia berjalan perlahan ke arah Arya, seolah tak terpengaruh oleh api yang masih membara di sekeliling mereka. Di tangannya, ia memegang sebuah liontin angsa yang identik dengan milik Larasati dan Raden.
Nona Kirana, yang selama ini mengamati dari kejauhan, melangkah keluar dari bayang-bayang. Ekspresinya berubah dari geli menjadi waspada. "Siapa kau? Dan apa maksudmu mengambil alih?"
Pria asing itu berhenti di depan Arya, tatapannya tertuju pada amplop di saku Arya. "Saya adalah seseorang yang lelah melihat boneka-boneka dimainkan. Dan surat itu, Tuan Arya, adalah milik saya sekarang."
Dengan gerakan cepat yang tak terduga, pria asing itu merampas amplop surat dari saku Arya. Arya terkejut, mencoba melawan, namun pria itu bergerak dengan kelincahan yang mengerikan. Bapak Widjaja terperangah melihat pria itu memegang liontin angsa yang sama dengan milik keluarganya.
"Liontin ini…" bisik Bapak Widjaja.
"Kau mengenalnya, Tuan Widjaja?" tanya pria asing itu, senyumnya melebar. "Tentu saja. Keterlibatanmu dalam kematian ayahku tidak akan terlupakan. Dan surat ini, Larasati, akan menjelaskan segalanya tentang siapa ayahmu yang sebenarnya, dan siapa yang bertanggung jawab atas semua penderitaan ini."
Larasati memandang pria asing itu, lalu ke ayahnya, lalu ke Raden yang masih terbaring lemah. Api di sekelilingnya terasa semakin panas, membakar bukan hanya bangunan, tetapi juga harapan dan kepercayaannya.
Arya menggeram, matanya dipenuhi amarah. "Kau tidak akan mendapatkan apa-apa!"
Pria asing itu hanya tertawa. "Kita lihat saja nanti." Ia membuka amplop surat itu, membiarkan angin membawa lembaran kertas yang rapuh itu ke tangan Larasati. Di sana, tertulis sebuah nama, sebuah pengakuan yang akan mengubah segalanya. Nama yang tak pernah ia duga akan terucap dalam kehidupannya.
Nona Kirana terkesiap, menyadari bahwa permainannya telah diambil alih oleh kekuatan yang lebih besar dan lebih berbahaya. Ia mencoba melarikan diri, namun pria asing itu melangkah lebih dulu, menghalangi jalannya. Ia tidak hanya mengambil alih permainan, tetapi juga mengendalikan nasib semua orang di sana.
"Perjalananmu baru saja dimulai, Larasati," bisik pria asing itu, matanya menatap dalam ke mata Larasati, seolah ia tahu setiap ketakutan dan keinginannya. "Dan aku akan memastikan kau mendapatkan kebenaran yang kau cari, bagaimanapun caranya."