Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek

Chapter 7 — Bisikan Angsa di Antara Abu

Asap masih mengepul dari sisa-sisa paviliun yang hangus, memeluk reruntuhan dengan selimut kelabu yang menyesakkan. Larasati berdiri terpaku, surat dari ibu Raden—kini di tangannya—terasa seperti beban tak tertahankan. Di depannya, pria asing itu menatapnya dengan intensitas yang membekukan, setiap kata yang diucapkannya bagai palu godam yang menghancurkan fondasi kehidupannya.

“Bapak Widjaja… dia bukan hanya sekutu, tapi kaki tangan dalam kematian ayahku,” suara pria asing itu serak, namun penuh keyakinan. Matanya yang gelap menatap lurus ke mata Larasati, seolah mencari jejak kebenaran di sana. “Dan Arya… dia tahu segalanya. Dia membiarkan semua ini terjadi, bahkan mungkin mendorongnya.”

Larasati mundur selangkah, jantungnya berdebar kencang di dadanya yang sesak. Bapak Widjaja? Pria yang ia panggil Ayah, yang telah membesarkannya dengan kasih sayang—atau begitulah yang ia kira—terlibat dalam pembunuhan? Dan Arya, pria yang mengklaim mencintainya, yang berjanji melindunginya dan anaknya, justru yang memanipulasi segalanya?

Pria asing itu mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuh surat di genggaman Larasati. “Ini bukan hanya tentang masa lalu, Larasati. Ini tentang masa depanmu. Dan anakmu.”

Di kejauhan, terdengar suara sirene yang mendekat. Polisi. Pasti ada yang melaporkan kebakaran. Pria asing itu tersenyum tipis, sebuah senyum tanpa kehangatan. “Waktunya telah tiba. Mereka datang untuk mengamankan tempat ini, dan mengamankan bukti.”

Ia melirik ke arah reruntuhan, lalu kembali menatap Larasati. “Aku harus pergi. Tapi ingat, Larasati. Kebenaran itu seperti angsa. Ia akan selalu menemukan jalannya ke permukaan, tak peduli seberapa dalam ia dikubur.” Ia berbalik, menghilang ke dalam bayang-bayang pepohonan yang masih berdiri tegak di tepi area kebakaran, meninggalkan Larasati sendirian dengan surat yang membakar jemarinya dan kebenaran yang mengerikan.

Sementara itu, di rumah sakit yang steril dan sunyi, Raden membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut, dan setiap gerakan terasa menyakitkan. Perawat telah mengganti perbannya, membersihkan luka-lukanya. Ingatan tentang konfrontasi dengan Arya, tentang api yang berkobar, dan tentang Larasati yang terlempar ke dalamnya… semua itu berputar di benaknya seperti mimpi buruk.

“Larasati…” bisiknya, suaranya serak. Ia harus menemukannya. Ia harus tahu apa yang terjadi padanya. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya menolak, rasa sakit yang tajam menusuk dari lukanya.

Seorang dokter masuk, memeriksanya dengan tatapan prihatin. “Tuan Raden, Anda harus beristirahat. Luka Anda cukup parah.”

“Larasati,” ulang Raden, mengabaikan rasa sakitnya. “Saya harus mencari Larasati. Apakah… apakah dia baik-baik saja?”

Dokter itu ragu sejenak. “Kami tidak punya pasien bernama Larasati di sini. Tapi… ada seorang wanita muda yang dibawa petugas keamanan dari lokasi kebakaran beberapa jam lalu. Dia… dalam kondisi yang sangat buruk. Kami tidak yakin apakah dia akan selamat.”

Jantung Raden serasa berhenti berdetak. “Di mana dia? Saya harus melihatnya!”

Dokter itu menggelengkan kepala. “Maaf, Tuan Raden. Pasien itu berada di unit perawatan intensif. Anda tidak bisa mengunjunginya.”

Keputusasaan mencengkeram Raden. Ia terperangkap di ranjang rumah sakit, lemah dan tak berdaya, sementara Larasati—adik kandungnya, wanita yang ia cintai—terbaring sekarat di suatu tempat, terpisah darinya.

Di sudut lain kota, Nona Kirana menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan kilatan licik. Permainannya dengan Arya dan Bapak Widjaja telah selesai. Kini, ia punya bidak baru: pria asing misterius yang muncul entah dari mana. Ia tahu pria itu memiliki agenda sendiri, dan ia bertekad untuk memanfaatkannya.

Sebuah ponsel berdering di meja riasnya. Ia mengangkatnya.

“Ya?” jawabnya, suaranya dingin.

Suara di seberang terdengar tenang, namun menyimpan ancaman yang dingin. “Permainan telah berubah, Kirana. Aku yang memegang kendali sekarang.”

Nona Kirana tersenyum. “Oh, benarkah? Dan apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Aku memiliki bukti yang akan menghancurkan Arya, Bapak Widjaja, dan bahkan dirimu jika perlu. Tapi aku hanya ingin satu hal. Larasati.”

Nona Kirana tertawa kecil. “Larasati? Dia… dia di tempat yang aman sekarang. Sangat aman.”

“Aku tahu itu,” balas suara itu. “Dan aku akan datang untuknya. Bersiaplah, Kirana. Karena kali ini, kau tidak akan bisa melarikan diri.”

Panggilan terputus. Nona Kirana meletakkan ponselnya perlahan, tatapannya kini mengarah ke luar jendela, ke arah jalanan yang ramai. Ia tahu ancaman itu nyata. Pria asing itu bukan sekadar ancaman; ia adalah kenyataan yang tak terhindarkan. Dan ia merasa, untuk pertama kalinya, bahwa ia bukan lagi dalang di balik semua ini.

Ia berbalik dari cermin, melangkah menuju pintu. Ia harus pergi. Sebelum pria itu tiba. Tapi ke mana? Dan bagaimana ia bisa lolos kali ini?

Ia membuka pintu kamarnya, dan terkesiap. Berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan dingin yang tak terbaca, adalah Arya Adiwangsa. Di tangannya, ia memegang sebuah liontin angsa yang berkilauan.