Malam Pertunangan yang Hancur

Chapter 1 — Cincin Warisan di Jari yang Salah

Debar jantungku menggema di telingaku, mengalahkan alunan musik klasik yang memenuhi ballroom mewah ini. Gaun sutra berwarna champagne yang membalut tubuhku terasa seperti sangkar emas, indah namun menyesakkan. Malam ini, di hadapan ratusan tamu undangan yang merupakan kolega bisnis ayah dan relasi keluarga, aku akan bertunangan dengan seseorang yang bahkan tidak kukenal.

Namaku Kirana Adiwangsa, dan aku adalah pewaris tunggal Adiwangsa Group, sebuah konglomerasi bisnis yang menggurita di berbagai sektor industri. Sejak kecil, hidupku telah diatur sedemikian rupa, mulai dari sekolah terbaik, les privat ini dan itu, hingga pergaulan yang ‘sesuai’. Kebebasanku? Barang mewah yang tak pernah kumiliki.

Ayah, Raden Adiwangsa, adalah seorang pria yang berpegang teguh pada tradisi dan citra keluarga. Baginya, pernikahan bukanlah urusan cinta, melainkan strategi bisnis. Dan aku, Kirana Adiwangsa, adalah bidak yang akan dikorbankan di altar kepentingan perusahaan.

Pria yang akan menjadi tunanganku malam ini adalah Dirga Prasetyo, putra tunggal keluarga Prasetyo, pemilik Prasetyo Corporation, pesaing sekaligus mitra bisnis Adiwangsa Group. Pernikahan ini, menurut ayah, akan memperkuat posisi kedua perusahaan dan membuka peluang ekspansi yang lebih besar. Aku? Tentu saja, pendapatku tidak penting.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ballroom. Lampu-lampu kristal berkilauan, memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang tersenyum ramah. Namun, di balik senyum itu, aku bisa merasakan tatapan menilai dan bisik-bisik penuh perhitungan. Mereka semua tahu, aku hanyalah pion dalam permainan ini.

Mataku terpaku pada sosok pria yang berdiri di dekat pintu masuk. Dirga Prasetyo. Pertama kalinya aku melihatnya secara langsung. Tinggi, tegap, dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas dan mata tajam yang menyorotkan kesan dingin dan arogan. Bukan tipeku sama sekali.

Ketika tatapan kami bertemu, Dirga hanya mengangguk singkat, tanpa senyum. Sikapnya seolah menegaskan bahwa ini hanyalah formalitas, sebuah kesepakatan bisnis yang dibungkus dengan acara pertunangan mewah. Aku mengalihkan pandangan, merasakan kekecewaan yang menyesakkan dada.

Malam itu berjalan lambat dan penuh kepalsuan. Aku tersenyum, mengangguk, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan basa-basi dengan sopan. Ayah terus berada di sisiku, memastikan aku bersikap ‘seperti yang diharapkan’. Dirga pun melakukan hal yang sama, selalu berada di dekatku, namun menjaga jarak emosional yang jelas.

Saat acara inti tiba, ayah memberikan pidato singkat tentang betapa bahagianya ia menyatukan dua keluarga besar melalui pernikahan ini. Aku hanya bisa berdiri di sampingnya, memasang senyum palsu dan berusaha menahan air mata.

Dirga kemudian menghampiriku, membawa sebuah kotak beludru berwarna merah. Dengan gerakan formal, ia membukanya dan mengeluarkan sebuah cincin berlian yang berkilauan. Cincin itu tampak mewah dan mahal, namun tidak ada kehangatan di dalamnya.

“Kirana Adiwangsa,” ucap Dirga dengan suara datar, “Maukah kau bertunangan denganku?”

Aku menatap cincin itu, lalu beralih menatap mata Dirga. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, hanya kekosongan. Aku tahu, jika aku menerima cincin ini, aku akan mengikatkan diriku pada kehidupan yang tidak kuinginkan.

Namun, aku juga tahu, menolak lamaran ini akan menimbulkan konsekuensi yang mengerikan. Ayah akan marah, reputasi keluarga akan tercoreng, dan yang terpenting, bisnis Adiwangsa Group akan terancam.

Dengan tangan gemetar, aku mengulurkan jari manisku. Dirga memasangkan cincin itu di jariku. Cincin itu pas, namun terasa berat dan dingin. Aku merasakan tatapan ayah yang penuh kemenangan.

Tepuk tangan membahana di seluruh ruangan. Orang-orang bersorak dan memberikan ucapan selamat. Aku hanya bisa tersenyum pahit, merasa seperti boneka yang dimainkan.

Saat Dirga mendekat untuk menciumku, aku memejamkan mata. Namun, ciuman itu tidak pernah datang. Aku membuka mata dan melihat Dirga menatap sesuatu di belakangku dengan ekspresi terkejut.

Aku menoleh dan melihat seorang pria berdiri di dekat pintu masuk. Pria itu tidak asing bagiku. Rambutnya sedikit berantakan, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam, dan di tangannya tergenggam sebuah buket bunga mawar merah. Dia adalah… Arya, cinta pertamaku, pria yang telah lama hilang dari hidupku.

Arya menatapku dengan tatapan memohon, lalu berteriak dengan suara yang memecah keheningan, “Kirana, jangan lakukan ini!”

Seluruh ruangan terdiam. Semua mata tertuju pada Arya. Ayah tampak murka, wajahnya memerah padam. Dirga menatapku dengan tatapan menyelidik. Dan aku? Aku hanya bisa terpaku, tidak tahu harus berbuat apa. Malam pertunanganku berubah menjadi mimpi buruk yang nyata.