Malam Pertunangan yang Hancur
Chapter 2 — Aroma Mawar Pahit
Kilau lampu kristal memantul di lantai marmer yang dingin, membuat suasana ballroom yang megah terasa semakin mencekam. Di tengah kerumunan yang berbisik, tatapan Kirana terkunci pada Arya. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar, namun matanya memancarkan keputusasaan yang menusuk. Suara Arya, yang dulu begitu menenangkan, kini terdengar serak dan penuh permohonan.
"Kirana, tolong... jangan lakukan ini," bisik Arya, tangannya terulur ragu ke arah Kirana. Jemarinya nyaris menyentuh lengan gaun sutra Kirana, namun ditarik kembali seolah takut akan membakar dirinya sendiri. "Kau tahu ini salah. Kita tahu ini salah."
Setiap kata Arya bagai palu godam yang menghantam pertahanan Kirana. Jantungnya berdebar kencang, beradu dengan irama orkestra yang dimainkan entah sejak kapan. Ia bisa merasakan tatapan tajam ayahnya, Raden Adiwangsa, tertuju padanya dari sudut ruangan. Sang ayah, dengan setelan jas hitamnya yang sempurna, berdiri tegak seperti pilar, wajahnya datar namun mengisyaratkan ketidaksetujuan yang mendalam.
Di sisi lain, Dirga Prasetyo berdiri tenang, seolah peristiwa ini tak menyentuhnya sama sekali. Senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. Ia melirik Kirana sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Arya dengan ekspresi geli yang dingin.
"Arya? Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Dirga memecah keheningan yang tegang. Nadanya tenang, namun ada nada ancaman yang terselubung di dalamnya. Ia melangkah mendekat, berdiri di antara Kirana dan Arya, memisahkan mereka dengan tubuhnya.
Arya tidak mundur. "Aku di sini untuk Kirana," jawabnya tegas, tatapannya tidak bergeser dari Kirana.
Kirana merasa terperangkap. Ia ingin lari, ingin berteriak, ingin menghilang. Namun, kakinya terpaku di lantai. Ia memandang Arya, memohon pengertian. Pertunangan ini bukan hanya tentang dirinya. Ini tentang Adiwangsa Group, tentang ratusan karyawan yang bergantung padanya, tentang warisan yang harus ia jaga. Ayahnya telah menjelaskan segalanya berulang kali: ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan dari ambang kebangkrutan akibat persaingan ketat dengan Prasetyo Corporation.
"Ini bukan urusanmu, Prasetyo," lanjut Arya, matanya menyala menantang Dirga. "Dan ini juga bukan keputusan Kirana." Ia kembali menatap Kirana, kali ini dengan sorot mata yang penuh harap.
Dirga tertawa kecil, suara yang membuat bulu kuduk Kirana merinding. "Oh, benarkah? Kirana, apakah ini benar? Apakah tunanganmu, yang kau biarkan masuk ke acara penting ini, yang sebenarnya mengendalikanmu?" Ia menatap Kirana, menunggu jawabannya, namun matanya sedikit menyipit, seolah menguji kesetiaan Kirana.
Kirana menggigit bibir bawahnya. Ia harus bersikap. Ia harus membuat pilihan. Kebingungan bergejolak di dalam dirinya. Arya, cinta pertamanya, simbol dari masa lalu yang indah dan tak terjangkau. Dirga, masa depan yang dingin dan penuh perhitungan, namun menjanjikan stabilitas bagi perusahaannya. Dan ayahnya, yang menatapnya dengan campuran harapan dan kekecewaan.
"Arya," Kirana memulai, suaranya bergetar namun ia memaksakan diri untuk terdengar kuat. Ia menarik napas dalam-dalam. "Terima kasih atas perhatianmu. Tapi ini... ini bukan urusanmu lagi." Ia berusaha keras untuk tidak melihat luka di mata Arya.
Senyum Dirga melebar, senyum kemenangan yang dingin. Ia merangkul bahu Kirana, menariknya mendekat.
"Lihat? Dia tahu siapa yang harus dipilih," kata Dirga, suaranya terdengar puas. Ia memandang Arya, lalu menambahkan, "Sekarang, pergilah sebelum aku memanggil keamanan untuk mengusirmu. Kau memalukan dirimu sendiri, dan juga Kirana."
Arya terdiam sejenak, menatap Kirana dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kekecewaan yang mendalam, tapi juga sedikit pengertian. Ia mengangguk perlahan, lalu berbalik dan menghilang di antara kerumunan. Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang terasa begitu nyata di ballroom yang ramai.
Kirana menarik napas lega, namun segera menyadari bahwa ketegangan belum berakhir. Ayahnya kini berjalan mendekat, wajahnya kembali datar. Dirga masih merangkulnya, tatapannya penuh kepemilikan.
"Bagus, Kirana," ucap Raden Adiwangsa, suaranya rendah. "Kau telah membuat pilihan yang tepat. Sekarang, kita lanjutkan." Ia memberi isyarat pada seorang pendeta kecil yang menunggu di sisi panggung. "Dirga, Kirana, silakan naik ke panggung untuk upacara pemasangan cincin."
Kirana merasakan tangan Dirga mengerat di lengannya. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdebar. Panggung. Cincin. Pernikahan. Semuanya terasa begitu cepat dan tak terhindarkan.
Mereka mulai melangkah menuju panggung yang diterangi lampu sorot. Kirana berusaha mempertahankan senyumnya, meskipun ia merasa seperti boneka yang dikendalikan tali. Saat mereka hampir mencapai anak tangga pertama panggung, sebuah suara lantang terdengar dari belakang.
"Tunggu!"
Semua mata tertuju pada pintu masuk ballroom. Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya dengan gaun merah menyala yang mencolok. Wajahnya dipenuhi riasan tebal, namun sorot matanya tajam dan penuh perhitungan. Ia berjalan menghampiri mereka dengan langkah tegas, mengabaikan bisikan dan tatapan heran para tamu.
Ia berhenti tepat di depan Raden Adiwangsa, lalu menatap Kirana dan Dirga.
"Raden," katanya, suaranya penuh otoritas. "Kau lupa satu hal penting. Kontrak ini... tidak sah tanpa persetujuan saya."
Kirana mengerutkan kening. Siapa wanita ini? Dan persetujuan apa yang ia bicarakan?
Dirga, yang tadinya tampak tenang, kini sedikit pucat. Ia menatap wanita itu dengan tatapan waspada.
"Ibu Laras? Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Dirga, suaranya sedikit bergetar. "Ini... ini acara keluarga."
Wanita bernama Laras itu tertawa sinis. "Keluarga? Oh, Dirga sayang. Kau pikir aku akan melewatkan kesempatan ini? Kesempatan untuk melihatmu menikahi pewaris Adiwangsa Group? Aku datang untuk memastikan bahwa semua berjalan sesuai rencana... atau mungkin, untuk sedikit mengubah rencana itu."