Cincin yang Terlupakan di Butik Paris
Chapter 1 — Cincin yang Terlupakan di Butik Paris
Jantungku berdebar seolah ingin melompat keluar dari dada saat melihat foto itu: Adrian, tersenyum lebar, menggenggam tangan seorang wanita yang bukan aku. Wanita berambut pirang dengan gaun merah menyala, latar belakang Menara Eiffel yang ikonik. Lima tahun pernikahan, lima tahun mimpi yang kami rajut bersama, hancur berkeping-keping hanya dalam satu jepretan kamera.
Namaku Aisyah Kirana, dan aku baru saja menyadari bahwa hidupku, yang selama ini terasa sempurna, ternyata hanyalah ilusi belaka. Aku seorang desainer interior yang cukup sukses di Jakarta, memiliki apartemen mewah di pusat kota, dan seorang suami yang, setidaknya menurutku, mencintaiku lebih dari apapun di dunia ini. Tapi sekarang, semua itu terasa seperti pasir yang terlepas dari genggaman.
Telepon genggamku berdering. Nama Adrian tertera di layar. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.
"Halo, Sayang? Kamu sudah sampai di rumah?" suaranya terdengar ceria seperti biasa. Seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
"Adrian, aku… aku melihat fotonya," ujarku lirih. Suaraku bergetar.
Keheningan menyelimuti saluran telepon. Detik-detik terasa begitu lambat dan menyiksa. Akhirnya, Adrian berdeham.
"Foto yang mana?" tanyanya, berusaha terdengar tenang, tapi aku bisa merasakan getar keragu-raguan dalam suaranya.
"Jangan berpura-pura bodoh, Adrian. Foto kamu dengan wanita itu. Di Paris."
Kembali hening. Kali ini, keheningan yang penuh dengan pengakuan.
"Aisyah, aku bisa jelaskan…"
"Jelaskan apa? Jelaskan bagaimana kamu bisa berbohong padaku selama ini? Jelaskan bagaimana kamu bisa mengkhianati pernikahan kita?" Air mataku mulai mengalir deras membasahi pipi.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan…"
"Oh ya? Lalu seperti apa? Ceritakan padaku, Adrian. Aku sangat ingin tahu." Nada bicaraku sinis.
"Aisyah, tolong dengarkan aku. Aku akan pulang besok. Kita bicarakan ini baik-baik."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Adrian. Semuanya sudah jelas. Aku minta cerai." Aku memutuskan sambungan telepon sebelum dia sempat menjawab. Tanganku gemetar hebat. Aku bersandar lemas di dinding, membiarkan air mata membasahi wajahku.
Pernikahanku, yang selama ini kubanggakan, ternyata hanya dibangun di atas kebohongan. Adrian, pria yang kucintai sepenuh hati, ternyata menyimpan rahasia yang menghancurkan seluruh duniaku.
***
Seminggu kemudian, aku duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Aroma kopi yang kuat sedikit menenangkan sarafku yang tegang. Aku sudah tidak bertemu Adrian sejak malam itu. Pengacara kami yang mengurus semua proses perceraian. Aku berusaha untuk tetap tegar, meskipun hatiku hancur berkeping-keping.
"Aisyah?" Sebuah suara lembut memanggil namaku. Aku mendongak dan melihat seorang wanita berdiri di depanku. Wajahnya familiar, tapi aku tidak bisa mengingat di mana aku pernah bertemu dengannya.
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku bingung.
Wanita itu tersenyum tipis. "Mungkin tidak secara langsung. Tapi aku tahu banyak tentangmu. Aku… aku sahabatnya Adrian."
Jantungku berdebar kencang. Sahabat Adrian? Apa maksudnya ini?
"Aku Sarah," lanjutnya, mengulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya dengan ragu.
"Silakan duduk," ujarku, berusaha bersikap sopan.
Sarah duduk di hadapanku. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada rasa iba, tapi juga ada sesuatu yang lain yang tidak bisa kupahami.
"Aku tahu tentang apa yang terjadi antara kamu dan Adrian," katanya, membuka percakapan.
"Lalu? Kenapa kamu menemuiku?" tanyaku dingin.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu yang penting. Sesuatu yang mungkin bisa mengubah pandanganmu tentang Adrian."
Aku menatapnya dengan tatapan skeptis. Apa lagi yang bisa diubah? Adrian sudah mengkhianatiku. Itu fakta yang tidak bisa diubah.
"Aku mendengarkan," ujarku singkat.
Sarah menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Adrian tidak berselingkuh dengan wanita itu."
Aku tertawa sinis. "Lalu apa? Itu hanya teman biasa yang sedang berlibur bersama di Paris? Jangan bodoh, Sarah. Aku melihat fotonya. Aku tahu apa yang aku lihat."
"Wanita itu… dia sepupu Adrian. Dia sedang sakit parah. Adrian menemaninya untuk menjalani pengobatan di Paris."
Aku terdiam. Otakku berusaha mencerna informasi yang baru saja kudengar. Sepupu? Sakit parah? Kenapa Adrian tidak pernah bercerita padaku?
"Kenapa dia tidak memberitahuku?" tanyaku lirih.
"Adrian tidak ingin membuatmu khawatir. Dia tahu betapa kamu mencintainya. Dia tidak ingin membebani kamu dengan masalahnya."
Aku menggelengkan kepala. "Itu tidak masuk akal. Aku istrinya. Aku berhak tahu."
"Aku tahu. Tapi Adrian melakukan apa yang dia pikir terbaik untukmu."
Air mataku kembali mengalir. Aku merasa bodoh dan naif. Aku terlalu cepat menghakimi Adrian. Aku tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
"Lalu, kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya saat aku meneleponnya?" tanyaku.
Sarah terdiam sejenak. "Karena… karena dia tidak ingin kamu tahu tentang penyakit sepupunya. Dia tahu kamu akan sangat sedih. Dia ingin melindungi kamu."
Aku merasa semakin bersalah. Aku sudah menghancurkan pernikahanku hanya karena kesalahpahaman. Aku sudah menyakiti pria yang kucintai tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyaku putus asa.
Sarah menggenggam tanganku. "Itu tergantung padamu, Aisyah. Apakah kamu masih mencintai Adrian? Apakah kamu bersedia memberinya kesempatan kedua?"
Aku menatap matanya. Pertanyaan yang sulit. Aku masih mencintai Adrian, tentu saja. Tapi apakah aku bisa mempercayainya lagi? Apakah aku bisa melupakan semua rasa sakit yang sudah dia sebabkan?
"Aku tidak tahu," jawabku jujur.
Sarah tersenyum. "Pikirkan baik-baik, Aisyah. Waktu masih panjang. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
Sarah berdiri dan bersiap untuk pergi. "Aku hanya ingin kamu tahu yang sebenarnya. Keputusan ada di tanganmu."
Ia berbalik dan berjalan menjauh. Aku menatap punggungnya hingga ia menghilang di antara kerumunan orang. Aku merasa bingung dan bimbang. Hidupku terasa semakin rumit dan tidak pasti.
Tiba-tiba, mataku tertuju pada sesuatu yang berkilauan di atas meja. Sebuah cincin perak dengan batu permata berwarna biru laut. Cincin itu… cincin itu adalah cincin yang Adrian berikan padaku saat kami bertunangan. Cincin yang selalu kupakai setiap hari. Cincin yang… hilang beberapa minggu lalu.
Bagaimana bisa cincin ini ada di sini? Siapa yang meletakkannya di sini? Dan apa artinya semua ini?
Sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. Dari nomor yang tidak dikenal.
*"Temui aku di butik Paris, tempat pertama kali kita bertemu. Pukul 8 malam."*
Jantungku berdebar kencang. Apa ini jebakan? Atau… sebuah kesempatan kedua?