Cincin yang Terlupakan di Butik Paris
Chapter 2 — Cincin Pengikat Rahasia
Jantungku berpacu seperti drum yang ditabuh liar. Nomor tak dikenal itu, pesan singkat yang mencekam, dan cincin pertunangan kami yang entah mengapa kini tergeletak di meja rias — semua itu terasa seperti simfoni kacau yang memperolok diriku.
“Temui aku di butik Paris, tempat pertama kali kita bertemu. Pukul 8 malam.”
Butik Paris… butik `La Belle Étoile` di Rue des Rosiers. Tempat Adrian melamarku, tempat kami berbagi janji sehidup semati. Tempat yang seharusnya suci, kini tercemar oleh bayangan wanita lain dalam foto itu. Adrian bilang dia sepupunya yang sakit. Dia meyakinkanku dengan tatapan matanya yang tulus, dengan sentuhan tangannya yang lembut, seolah kata-katanya adalah kebenaran mutlak. Dan aku, dalam kebodohan cintaku, memilih untuk percaya.
Namun, cincin ini. Cincin yang kupakai setiap hari, yang hilang secara misterius, kini muncul lagi di kamar kami, di Jakarta. Bukan di Paris, bukan di saku Adrian, tapi di meja rias yang kusentuh setiap pagi. Siapa yang membawanya kembali? Mengapa? Dan siapa pengirim pesan ini? Apakah ini Adrian yang mencoba menjelaskan sesuatu, namun dengan cara yang aneh? Atau… apakah ini wanita di foto itu? Sebuah tantangan?
Perutku bergejolak. Aku merasa seperti boneka yang ditarik ulur oleh benang tak kasat mata. Otakku memerintahkan untuk mengabaikannya, untuk menjaga harga diriku, untuk tidak melangkah ke dalam potensi perangkap yang menyakitkan. Tapi hatiku, hati yang masih berdarah karena luka-luka Adrian, berteriak meminta kebenaran. Aku tidak bisa hidup dalam keraguan ini.
Aku meraih ponselku, jariku gemetar saat mencari nama ‘Riana’. Sahabatku, penopangku, yang selalu mendengarkan keluh kesahku sejak kami masih gadis belia.
“Ri, aku butuh bicara,” ucapku begitu Riana mengangkat telepon, suaraku nyaris berbisik.
“Aisyah? Ada apa? Suaramu aneh sekali,” sahut Riana, nada khawatir terdengar jelas. Ia selalu peka terhadap perubahan kecil dalam diriku. Aku menceritakan semuanya, dari foto Adrian dengan wanita lain, alasannya, cincin yang hilang dan muncul kembali, hingga pesan misterius itu. Riana mendengarkan dengan sabar, sesekali mengeluarkan desahan terkejut.
“Aisyah… ini… ini gila. Kamu yakin ini bukan jebakan? Mungkin Adrian ingin menemuimu, tapi kenapa pakai nomor asing dan cincin itu?” Riana bertanya, suaranya dipenuhi keraguan yang sama denganku.
“Aku tidak tahu, Ri. Aku tidak tahu apa-apa lagi. Tapi… aku harus tahu kebenarannya. Aku tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayangan ini,” kataku, membiarkan keputusasaan merayapi suaraku.
“Kalau begitu, pergilah. Pergilah ke Paris. Temui siapa pun yang mengirim pesan itu. Tapi janji padaku, kamu harus hati-hati. Jangan sendirian. Beri tahu aku setiap langkahmu,” Riana menasihati, nadanya kini tegas dan protektif. “Aku akan mencari penerbangan untukmu sekarang. Jangan buang waktu lagi.”
Keputusan itu terasa berat, namun begitu terucap, ada semacam beban yang terangkat dari dadaku. Aku harus menghadapi ini. Demi diriku sendiri. Demi kedamaian hatiku.
Pagi berikutnya, aku sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta, tiket Paris di genggamanku. Penerbangan panjang terasa seperti penantian tak berujung. Setiap awan yang kulewati seolah membisikkan pertanyaan baru. Apa yang akan kutemukan di sana? Apakah Adrian benar-benar telah mengkhianatiku, atau adakah rahasia yang lebih dalam dari sekadar perselingkuhan biasa?
Sesampainya di Paris, udara dingin menyambutku, menusuk kulitku bahkan melalui syal tebal yang melilit leherku. Jalanan kota yang ramai, aroma kopi dan roti panggang yang khas, semua itu terasa asing dan akrab di saat bersamaan. Aku naik taksi menuju hotel kecil yang telah kusiapkan, hanya beberapa blok dari Rue des Rosiers.
Waktu berlalu dengan lambat. Setiap dentingan jarum jam di dinding kamar hotel terasa seperti godam yang menghantam jantungku. Aku mencoba menenangkan diri, tapi pikiran-pikiran liar terus berputar. Bagaimana jika ini adalah akhir dari segalanya? Bagaimana jika ini adalah awal dari sesuatu yang lebih mengerikan?
Pukul tujuh lewat lima puluh malam. Aku sudah berdiri di seberang butik `La Belle Étoile`. Lampu-lampu jalanan sudah menyala, memantulkan cahaya kuning di jalanan yang basah. Butik itu terlihat gelap, seperti tidak beroperasi. Jantungku mencelos. Apakah aku datang sia-sia?
Aku mengumpulkan keberanian, menyeberang jalan, dan mendekat ke jendela butik. Kaca gelap memantulkan bayanganku yang tegang. Aku mencoba mengintip ke dalam, tapi tidak ada apa-apa selain manekin-manekin berpakaian gaun malam yang mewah, berdiri kaku dalam kegelapan.
Kekecewaan membanjiri diriku. Mungkin ini hanya lelucon kejam. Mungkin Adrian hanya ingin melihatku menderita.
Tiba-tiba, sebuah cahaya samar berkedip dari sudut butik. Sebuah ponsel. Seseorang ada di dalam! Aku menempelkan wajahku ke kaca, mencoba melihat lebih jelas. Cahaya itu berkedip lagi, bergerak. Lalu, sebuah sosok muncul dari balik deretan gaun. Sosok itu tinggi dan ramping, dengan rambut panjang tergerai.
Bukan Adrian. Bukan pula wanita di foto itu.
Wanita itu mengangkat ponselnya lagi, seolah mengambil gambar. Dia membalikkan badan, dan samar-samar, aku bisa melihat wajahnya. Sebuah bekas luka tipis melintang di pipi kanannya, nyaris tak terlihat dalam temaram.
Dan kemudian, dia melihatku. Matanya membelalak, ekspresi terkejut yang cepat menghilang menjadi seringai dingin. Ia meletakkan jari telunjuknya di bibir, isyarat untuk diam, sebelum menghilang lagi ke dalam kegelapan butik.
Siapa dia? Kenapa dia di sana? Dan mengapa… mengapa dia menyuruhku diam?