Cincin yang Terlupakan di Butik Paris
Chapter 5 — Pesan Terakhir di Gang Sempit
Suara ‘klik’ itu membelah keheningan kafe, mengusir sisa-sisa harapan Aisyah. Pintu kayu tua di belakang mereka terbuka perlahan, memperlihatkan siluet tinggi seorang pria. Jantung Aisyah berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seperti genderang perang. Ini dia. Pria yang mencoba menculiknya, pria yang mengintai mereka.
Sarah menarik napas tajam. Tangannya mencengkeram lengan Aisyah, gemetar namun kuat. “Ikut aku!” bisiknya, suaranya tercekat. Tanpa menunggu jawaban, Sarah menarik Aisyah, bukan ke pintu depan, melainkan ke arah dapur kecil di belakang kafe. Aroma kopi dan roti yang baru dipanggang kini bercampur dengan bau ketakutan yang menusuk hidung Aisyah.
Mereka menerobos dapur, mengejutkan seorang koki muda yang sedang membersihkan panggangan. Sarah tidak berhenti, ia mendorong sebuah pintu belakang yang tertutup, mengungkapkan sebuah gang sempit yang gelap, diapit oleh bangunan-bangunan tua yang tinggi. Udara dingin langsung menyergap, membawa serta bau sampah dan kelembaban. Cahaya remang-remang dari lampu jalan di ujung gang hampir tidak menembus kegelapan di dalamnya.
“Cepat!” desak Sarah, mendorong Aisyah ke depan. Kaki Aisyah terasa berat, seperti terikat rantai. Dia berusaha mengimbangi langkah cepat Sarah, sesekali terhuyung di atas batu-batu jalan yang licin. Dari belakang, mereka bisa mendengar suara langkah berat yang terburu-buru, semakin mendekat. Pria itu menyusul mereka.
“Siapa dia?” Aisyah berhasil berbisik, napasnya tersengal-sengal. “Kenapa dia menginginkan kita?”
Sarah tidak menjawab. Dia hanya terus berlari, pandangan matanya mencari-cari celah atau jalan keluar di antara tumpukan tong sampah dan kotak-kotak kayu bekas. Mereka terus masuk lebih dalam ke labirin gang-gang sempit, belok kanan, lalu kiri, berusaha mengacaukan pengejarnya. Ketegangan menggantung di udara, mencekik Aisyah.
Tiba-tiba, Sarah berhenti di depan sebuah pintu besi tua yang berkarat. “Sini!” Ia mencoba membukanya, menarik gagangnya dengan sekuat tenaga. Pintu itu berderit dan macet. Sarah mengerang frustrasi, menendangnya beberapa kali.
Di saat itulah, Aisyah mendengar langkah kaki di belakang mereka berhenti. Bayangan tinggi pria itu jatuh di atas mereka, memblokir cahaya di ujung gang. Ia telah menangkap mereka.
“Nona Sarah,” suara pria itu dalam dan serak, terdengar sangat dekat. “Anda menyulitkan kami.”
Sarah berbalik, menempatkan tubuhnya di depan Aisyah. Wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan tekad yang menakutkan. “Kau tidak akan menyentuhnya,” katanya dingin. “Dia tidak tahu apa-apa.”
Pria itu tertawa pelan, tawa yang tidak menyenangkan. “Itu bukan urusanmu lagi, Nona. Adrian ingin dia kembali. Hidup atau mati, itu tidak penting.”
Kata-kata itu menghantam Aisyah seperti palu godam. Adrian? Adrian menginginkannya kembali? Hidup atau mati? Perut Aisyah mual. Kebingungan dan kengerian bercampur menjadi satu. Suaminya sendiri? Tidak mungkin.
“Kau bohong!” seru Aisyah, maju selangkah, tetapi Sarah menahannya dengan kuat. “Adrian tidak akan pernah melakukan ini!”
Pria itu hanya mengangkat bahu. “Terserah apa yang kau percayai, Nona. Tapi kami punya perintah.” Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah pisau lipat berkilauan di bawah cahaya rembulan yang samar.
Sarah mendorong Aisyah ke belakang pintu besi. “Lari, Aisyah! Jangan lihat ke belakang! Temui Rizal! Dia akan melindungimu!” teriaknya. Kemudian, dengan gerakan cepat yang Aisyah tidak sangka, Sarah menerjang pria itu. Ia bukan seorang petarung, namun keputusasaannya memberinya kekuatan sesaat.
Jeritan Aisyah tertahan di tenggorokannya saat Sarah dan pria itu bergumul. Suara benturan, desisan, dan erangan memenuhi gang. Aisyah ingin membantu, ingin berteriak, tetapi tubuhnya membeku. Matanya terpaku pada perkelahian brutal di depannya. Sarah, dengan keberanian yang Aisyah belum pernah lihat, menendang dan mencakar, mencoba merebut pisau itu. Tapi pria itu terlalu kuat, terlalu terlatih.
Sebuah kilatan perak. Sarah menjerit, jeritan yang memilukan, lalu tubuhnya limbung ke belakang, menabrak dinding gang. Pisau itu menancap di sisi tubuhnya, tepat di bawah tulang rusuk. Darah merah gelap mulai merembes, membasahi jaketnya.
Pria itu terhuyung mundur, napasnya terengah-engah, memegangi lengannya yang mungkin terluka. Dia melirik Aisyah, matanya menyala dengan kemarahan. “Kau berikutnya, jalang!” desisnya.
Namun, tepat sebelum pria itu bisa bergerak, sebuah bayangan melesat dari atap bangunan di atas. Sosok bertopeng hitam mendarat di belakang pria penculik itu dengan keheningan mematikan. Pria bertopeng itu bergerak secepat kilat, menghantam tengkuk penculik dengan sisi telapak tangannya. Penculik itu jatuh tersungkur ke tanah tanpa suara, tidak bergerak.
Aisyah membelalakkan mata, jantungnya berdebar kencang. Ia mengenali topeng itu, yang pernah dilihatnya dalam mimpi buruknya, topeng yang sama yang dikenakan oleh seorang pria misterius di foto lama. Rizal. Apakah ini dia? Dia ada di sini? Apa yang harus dia lakukan?
Pria bertopeng itu tidak melihat ke arah Aisyah. Dia hanya menatap tajam ke arah Sarah yang terkapar. Kemudian, ia berbalik, melompat ke atas dinding dan menghilang secepat ia datang, meninggalkan Aisyah sendirian dengan dua tubuh terkapar di gang gelap.
Aisyah tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa menatap Sarah, yang kini bersandar lemas di dinding, napasnya dangkal dan tersendat. Darah terus mengalir, membentuk genangan kecil di kakinya. Wajah Sarah berkerut kesakitan, tapi matanya mencari Aisyah, memohon.
“Aisyah…” bisik Sarah, suaranya hampir tidak terdengar. Ia mengulurkan tangan yang gemetar. “Dengar… aku… aku harus memberitahumu…”
Aisyah merangkak mendekat, air mata membanjiri wajahnya. “Sarah! Tolong, jangan bicara! Aku akan memanggil bantuan!”
“Tidak ada waktu,” Sarah menggelengkan kepala lemah. “Adrian… dia bukan yang kau kira. Dia… dia menyembunyikan Karina… Karina punya… punya bukti…”
Sarah mencoba meraih ke dalam jaketnya, tangannya gemetar hebat. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia mengeluarkan sebuah liontin. Liontin itu persis sama dengan milik Aisyah, tapi yang ini terbuat dari perak kusam, dan di baliknya, ada ukiran inisial ‘K.A.’. Di dalamnya, tersembunyi sebuah foto kecil. Foto seorang wanita tersenyum, dengan mata yang persis seperti Karina, namun dengan bekas luka samar di pipi. Wanita misterius di butik `La Belle Étoile`.
“Ini… ini milik Karina,” Sarah terbatuk, darah keluar dari sudut bibirnya. “Dia… dia ingin kau tahu… Ada… ada kotak… di rumah Adrian… kotak musik… di balik lukisan tua… isinya… isinya semua kebenaran… Adrian… dia telah bersekutu… dengan iblis…”
Pandangan mata Sarah mulai kabur. “Jangan percaya… siapa pun… kecuali… kecuali yang Karina tunjuk…” Ia mencoba mengatakan sesuatu lagi, tapi suaranya hanya berupa desisan. Tangannya yang memegang liontin itu jatuh lemas. Matanya menatap kosong ke langit Paris yang gelap.
Tubuh Sarah kejang sesaat, lalu lunglai. Napasnya berhenti. Matanya terbuka, menatap kosong, tidak lagi memantulkan cahaya apa pun. Sarah telah pergi. Ia telah mengorbankan dirinya untuk Aisyah.
Aisyah menjerit, jeritan pilu yang memecah keheningan gang. Dia memeluk tubuh Sarah yang kini dingin, menangis tersedu-sedu. Liontin itu, yang Sarah berikan padanya, tergenggam erat di tangannya. Di dalamnya, foto wanita dengan bekas luka di pipi itu seolah tersenyum sedih padanya.
Adrian telah bersekutu dengan iblis. Kotak musik di balik lukisan tua. Wanita misterius dengan bekas luka di pipi adalah Karina. Semua kengerian itu, semua kebenaran yang tak terbayangkan, kini menimpanya. Sendirian, di tengah gang gelap di Paris, dengan tubuh sahabatnya yang tak bernyawa dan seorang penculik yang tak sadarkan diri di dekatnya. Aisyah merasa dunianya hancur berkeping-keping.
Dia melihat ke arah tubuh penculik itu, lalu kembali ke Sarah. Air matanya terus mengalir. Dengan gemetar, Aisyah memasukkan liontin itu ke saku bajunya. Lalu, sebuah tekad keras muncul di dalam dirinya. Sarah telah mati untuknya, dan dia tidak akan membiarkan pengorbanan itu sia-sia. Adrian, kau akan membayar untuk ini.
Aisyah berdiri, kakinya goyah, tapi tekadnya membara. Dia harus menemukan kotak musik itu. Dia harus mengungkap kebenaran. Untuk Sarah, dan untuk dirinya sendiri. Dia melirik ke arah penculik yang terkapar, lalu ke arah gang yang mengarah ke jalan utama. Apakah pria bertopeng itu masih ada di dekat sini? Apakah dia akan kembali?
Tanpa berpikir panjang, Aisyah mulai berjalan, bukan kembali ke jalan utama, melainkan lebih dalam lagi ke labirin gang sempit. Dia harus menghilang. Dia harus selamat. Dan dia harus menemukan kebenaran. Kakinya terus melangkah, semakin cepat, semakin jauh dari tempat di mana Sarah menghembuskan napas terakhirnya, menuju kegelapan yang lebih pekat, dengan liontin Karina tergenggam erat di saku. Setiap langkah terasa seperti mendorongnya ke dalam sarang laba-laba yang lebih besar, namun dia tidak akan berhenti. Dia tidak bisa.
Tiba-tiba, dari kegelapan gang di depannya, sebuah tangan mencengkeram lengannya. Kuat, dingin, dan mengejutkan. Aisyah menjerit, berbalik, dan mendapati dirinya berhadapan muka dengan seorang pria tinggi berjaket gelap, dengan mata yang bersinar aneh di bawah cahaya rembulan yang samar. Bukan pria penculik itu. Bukan pria bertopeng itu. Siapa lagi ini? Paris, kau ibukota bahaya yang tak berujung. Jantung Aisyah mencelos, lagi-lagi tertangkap, kali ini oleh entitas yang tidak dikenalnya.