Cincin yang Terlupakan di Butik Paris
Chapter 4 — Satu Jepretan Kenangan
Jantungku berdebar tak karuan, lebih kencang dari dentang katedral Notre Dame yang bisa kudengar sayup-sayup dari kejauhan. Pintu kafe yang baru saja terbuka dengan derit pelan itu kini menjadi portal menuju mimpi buruk yang nyata. Pria tinggi itu, dengan sorot mata dingin yang sama, berdiri di ambang pintu, matanya menyapu seisi ruangan. Saat pandangannya berhenti padaku dan Sarah, aku merasa udara di sekitarku menipis, seolah nyawaku akan direnggut kapan saja.
“Cepat!” Sarah berbisik, suaranya mengandung urgensi yang menusuk. Tanpa menunggu, ia menarik tanganku dengan kekuatan yang mengejutkan, bukan lagi dengan lembut, tapi dengan cengkeraman putus asa. Tubuhku yang masih lemas akibat insiden penculikan tadi terpaksa bergerak, terseret mengikuti langkah cepatnya.
Kami menerobos kerumunan orang di dalam kafe, meja-meja yang berjejer rapat, kursi-kursi yang berhimpitan. Beberapa pengunjung menoleh, terganggu oleh gerakan mendadak kami, tetapi tak ada yang sempat bereaksi lebih jauh. Kami sudah melesat keluar, menembus pintu putar kafe yang dingin, dan tumpah ruah ke keramaian Rue des Rosiers. Aroma panggangan roti dan bunga-bunga segar yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan, bercampur dengan adrenalin yang membanjiri tubuhku.
“Ke mana kita?” desahku, napas terengah-engah. Kakiku terasa berat, seolah baru saja berlari maraton. Aku melirik ke belakang. Pria itu! Dia sudah keluar dari kafe, memindai sekeliling dengan gerakan terampil seorang predator. Dia melihat kami.
Sarah tidak menjawab, hanya menarikku semakin kencang. Ia tahu jalan-jalan tikus Paris seperti telapak tangannya. Kami menyelinap ke sebuah gang sempit, di antara dua bangunan kuno yang tingginya menjulang, lalu berbelok tajam ke kiri, menembus lorong yang gelap dan lembap. Suara derap langkah kami menggema, beradu dengan detak jantungku yang berpacu liar. Aku mendengar suara langkah lain di belakang kami—lebih berat, lebih cepat. Dia mengejar!
Kami terus berlari, napasku mulai terasa sakit di dada. Sarah bahkan tidak melirikku, matanya fokus, menuntut kami untuk terus bergerak. Kami melewati sebuah pasar kecil yang ramai, menembus kerumunan orang yang membawa keranjang belanja. Sarah mendorongku sedikit, memberikan isyarat agar aku terus maju. Aku melihat ke belakang sekali lagi. Pria itu kesulitan menembus keramaian, tapi matanya masih tertuju pada kami, tatapan matanya tak pernah goyah, seolah kami adalah satu-satunya target di dunia ini. Ketakutan itu nyata, dingin, dan mencengkeram. Adrian ada di balik ini, aku yakin.
Akhirnya, setelah melesat melewati beberapa blok dan mengambil jalan memutar yang membingungkan, Sarah menarikku ke sebuah pintu kayu tua di antara dua butik kecil yang sepi. Pintu itu terlihat usang, nyaris tidak terlihat. Ia membuka kuncinya dengan cepat, menggunakan kunci kecil yang dipegangnya erat-erat, lalu mendorongku masuk dan mengunci pintu dari dalam. Suara derit dan ‘klik’ kunci itu seperti melodi kebebasan yang singkat.
Aku terengah-engah, bersandar di dinding yang dingin, mencoba mengisi paru-paruku dengan udara. Cahaya redup menembus jendela kecil yang kotor, menerangi ruangan yang terasa sempit dan berdebu. Ini bukan apartemen mewah yang kubayangkan dari seorang sahabat Adrian. Ini lebih seperti gudang kecil atau studio seniman yang sudah lama ditinggalkan. Ada beberapa furnitur usang yang ditutupi seprai putih, dan aroma lembap yang menusuk hidung.
“Kita aman di sini, untuk sementara,” Sarah berkata, suaranya lebih serak dari sebelumnya. Ia berjalan ke tengah ruangan, menyibakkan seprai dari sebuah sofa kecil yang berdebu, lalu menjatuhkan diri dengan lemas. Wajahnya pucat pasi, napasnya masih memburu. Ia terlihat jauh lebih tua dari usianya.
“Apa-apaan ini, Sarah? Siapa pria itu? Mengapa dia mengejar kita? Dan mengapa… mengapa kau bilang Adrian bersekutu dengan iblis?” Pertanyaan-pertanyaan itu tumpah ruah dari mulutku, tak sanggup lagi kutahan. Aku butuh jawaban, butuh kejelasan di tengah kekacauan ini.
Sarah menatapku, matanya yang biasanya ceria kini dipenuhi kesedihan dan ketakutan yang mendalam. Ia menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya. “Adrian… dia tidak seperti yang kau kenal, Aisyah. Ambisinya… itu melahap segalanya. Keluarganya, perusahaannya… semuanya menuntut dia untuk ‘sukses’, untuk ‘lebih dari cukup’.”
“Tapi apa hubungannya dengan Karina? Dan… iblis?” Aku mendekat, duduk di sampingnya, meski ada jarak tak kasat mata yang membentang di antara kami.
“Iblis itu bukan makhluk gaib, Aisyah,” Sarah menjelaskan, suaranya menurun menjadi bisikan. “Iblis itu adalah kekuatan. Kekuatan yang mematikan. Adrian… dia membuat kesepakatan dengan kelompok yang sangat berkuasa di Paris. Mereka punya tangan di mana-mana: politik, bisnis gelap, bahkan pasar seni. Mereka bisa memberikan Adrian semua yang dia inginkan—kekuasaan, kekayaan, pengaruh—tapi dengan imbalan.”
“Imbalan apa?” tanyaku, merasakan bulu kudukku meremang. Aku tidak bisa membayangkan Adrian, suamiku yang lembut, bisa terlibat dalam hal sekotor ini.
Sarah terdiam, matanya menatap kosong ke dinding. “Karina,” bisiknya pelan. “Karina adalah bagian dari imbalan itu. Atau lebih tepatnya, keberadaan Karina menjadi ancaman bagi mereka. Dia tahu terlalu banyak. Adrian… dia memilih untuk melindungiku, Aisyah. Aku tahu ini terdengar gila, tapi Adrian sangat mencintaimu. Dia tidak ingin kau terlibat. Dia ingin Karina menghilang agar kau aman.”
“Menghilang? Tapi kau bilang Karina masih hidup!” Suaraku meninggi, mencampuradukkan kemarahan dan kebingungan. “Jika dia masih hidup, di mana dia? Mengapa dia tidak menghubungiku? Mengapa dia ingin aku tahu kebenaran ini?”
Sarah menghela napas lagi, memejamkan mata sejenak. “Aku… aku tidak tahu persis di mana dia sekarang. Tapi dia ingin kau tahu, Aisyah. Dia ingin kau selamat dari Adrian. Dia ingin kau mengungkap kebenaran di balik semua ini. Adrian tidak membunuhnya, tapi dia membiarkannya hidup dalam neraka. Karina disembunyikan, dikendalikan. Tapi dia berhasil mengirimkan sebuah pesan, sebuah petunjuk, padaku sebelum semua ini terjadi.”
Sarah bangkit, berjalan ke sudut ruangan yang gelap, dan mulai meraba-raba rak kayu tua yang nyaris roboh. Setelah beberapa saat, tangannya menemukan sesuatu. Ia menarik sebuah kotak kayu kecil yang usang, ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan, dan membawanya ke hadapanku. Kotak itu tidak terkunci, hanya diselipkan sebuah kertas yang sudah menguning di celahnya.
“Ini… ini adalah milik Adrian,” Sarah berbisik, membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya, tergeletak beberapa lembar foto yang sudah pudar dan sebuah liontin perak yang berkarat. Hatiku mencelos saat melihat liontin itu—persis sama dengan milikku, yang Adrian berikan padaku. Liontin kembar yang pernah membuatku bertanya-tanya.
Sarah mengeluarkan salah satu foto. Tangannya sedikit gemetar. “Ini… ini Karina.”
Aku meraih foto itu dengan tangan gemetar. Di sana, seorang wanita dengan rambut gelap bergelombang, mata yang besar dan sorot tajam—jelas Karina—berdiri di samping seorang pria tua berwajah keriput dengan tatapan dingin dan licik. Pria itu memakai jas mahal, tetapi auranya begitu gelap, seolah dia memancarkan racun. Jari-jarinya yang kurus bertumpu erat pada bahu Karina, seolah mengklaim kepemilikannya. Ekspresi Karina di foto itu… tidak ada senyuman, hanya ketakutan yang tersembunyi dengan samar di balik tatapan kosong. Di belakang mereka, terlihat sebuah bangunan megah, seperti sebuah kastil tua atau istana yang tersembunyi di pedesaan.
“Pria itu… siapa dia?” Aku menunjuk pria tua itu, suaraku nyaris tak terdengar. Ini pasti ‘iblis’ yang Sarah maksud.
“Dia Antoine Dubois,” Sarah menjawab, suaranya terdengar berat. “Kepala dari sindikat yang Adrian coba masuki. Dia kejam, tanpa ampun. Dia yang mengendalikan banyak hal di Paris. Dan dia punya kepentingan pada Karina, entah kenapa.”
Jadi ini Karina. Tidak secantik atau seanggun yang kubayangkan. Tapi lebih dari itu, ekspresi wajahnya yang penuh ketakutan itu menusukku. Dia bukan wanita sombong atau penggoda yang sempat kubayangkan. Dia adalah korban.
Sebuah gelombang keberanian, bercampur dengan kemarahan dan kesedihan, tiba-tiba membanjiri diriku. Aku tidak bisa hanya berlari dan bersembunyi. Aku tidak bisa membiarkan Adrian lolos begitu saja dengan kebohongannya. Aku harus mencari Karina. Aku harus mencari tahu lebih banyak tentang Dubois ini. Dan aku harus menemukan bukti yang bisa menjatuhkan Adrian, yang bisa membebaskan Karina.
“Aku harus kembali ke butik itu,” kataku, suaraku penuh tekad, mengejutkan diriku sendiri dan juga Sarah. “Aku yakin ada sesuatu di sana. Wanita yang kutemui di butik itu… dia mencoba memberiku petunjuk. Mungkin dia tahu sesuatu tentang Karina. Atau mungkin, ini semua ada hubungannya dengan pesan yang Adrian tinggalkan.”
Sarah menatapku, matanya membelalak. “Aisyah, itu terlalu berbahaya! Kau tidak tahu seberapa jauh jangkauan mereka. Mereka bisa menemukanmu di mana saja. Pria yang mengejar kita tadi… dia tidak akan menyerah.”
“Aku tidak bisa hanya diam, Sarah,” balasku, memegang erat foto Karina. “Aku tidak bisa membiarkan Karina hidup dalam ketakutan seperti itu. Aku tidak bisa membiarkan Adrian merusak lebih banyak hidup. Aku harus melakukan sesuatu.”
Dalam benakku, samar-samar terlintas bayangan Rizal. Teman masa kecilku, yang selalu berdiri di sisiku, selalu menawarkan bahunya saat aku butuh bersandar. Dia pernah berkata, “Jika kau butuh apa pun, Aisyah, di mana pun kau berada, aku akan datang.” Saat ini, aku merindukan kehadiran seseorang yang bisa kupercaya sepenuhnya, seseorang yang memiliki kekuatan untuk melindungiku, seseorang yang tidak punya agenda tersembunyi. Tapi dia tidak ada di sini, dan aku harus berdiri sendiri. Ini adalah pertempuranku.
“Aku punya ide,” kataku, mencoba menguasai diriku. “Kita bisa menggunakan ini.” Aku menunjuk foto Karina dan Dubois. “Ini adalah bukti nyata Adrian terikat dengan Dubois. Kita bisa gunakan ini untuk… untuk mencari tahu lebih banyak. Mungkin Karina juga meninggalkan sesuatu di butik itu.”
Sarah tampak bimbang, ketakutan masih terlihat jelas di matanya. Tapi tekadku sepertinya menular. Ia mengangguk pelan. “Baiklah. Tapi kita harus sangat berhati-hati. Kita tidak bisa langsung ke sana sekarang. Terlalu berisiko.”
Ia bangkit, mulai mengemasi kotak kayu itu kembali. Saat ia mengangkat liontin perak yang berkarat, tangannya tiba-tiba gemetar hebat. Wajahnya semakin pucat, bibirnya membiru. Ia terhuyung, memegang dadanya dengan napas tercekik. Matanya membelalak, dipenuhi kengerian yang tak terlukiskan. Kotak kayu itu terjatuh dari tangannya, isinya berhamburan di lantai yang berdebu.
“Sarah!” pekikku, buru-buru mendekat. Ia ambruk ke lantai, terbatuk-batuk, berusaha keras mencari udara. Matanya, yang kini hanya terlihat putihnya saja, menatapku dengan putus asa.
“Adrian… mereka tahu…” Suaranya nyaris tak terdengar, sebuah bisikan lemah yang putus-putus. Tangannya yang dingin meraih lenganku, cengkeramannya yang terakhir. Ia menunjuk ke arah liontin perak yang tergeletak di lantai, lalu ke arahku, seolah ingin memberitahuku sesuatu yang vital. “Jangan… percaya… pada…”
Napasnya tercekat. Matanya terbelalak, menatap kosong ke langit-langit. Cengkeramannya di lenganku mengendur, dan tubuhnya terkulai lemas, tak bergerak. Sarah… dia tidak bernapas.
Aku menjerit, nama Sarah keluar dari tenggorokanku bersama isakan pilu. Aku berlutut di sampingnya, mengguncang-guncang tubuhnya yang kini dingin, memanggil-manggil namanya, tapi tak ada jawaban. Sahabat Adrian, satu-satunya orang yang memberiku petunjuk, kini tergeletak tak bernyawa di hadapanku. Aku sendirian lagi, di kota yang asing ini, dikelilingi bahaya yang tak terlihat.
Tiba-tiba, suara gesekan logam terdengar dari pintu kayu tua di belakang kami. Suara ‘klik’ yang pelan, seperti kunci yang sedang diputar. Pria itu! Dia pasti sudah menemukan kami. Ketakutan yang lebih besar dari apa pun yang pernah kurasakan membanjiri diriku. Aku menoleh ke pintu, tubuhku kaku. Cahaya remang-remang dari celah pintu mulai memudar, dan bayangan tinggi seseorang mulai terlihat dari baliknya.