Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek
Chapter 9 — Cermin Retak Sang Pengkhianat
Udara dingin rumah sakit merayap masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa serta aroma antiseptik yang menusuk hidung. Raden mengerjap, pandangannya masih kabur, namun suara bisikan itu masih terngiang jelas di benaknya. Ibunya. Sosok yang selama ini ia cari, kini muncul dalam fragmen-fragmen suara yang mengerikan, memperingatkan tentang api yang akan membakar mereka berdua.
“Larasati… jangan dekat-dekat dia…”
Suara itu bukan lembut, bukan pula penuh kasih. Ada nada keputusasaan dan ketakutan yang begitu pekat, membuat Raden semakin gelisah. Tangannya terkepal erat di bawah selimut, merasakan nyeri yang masih membekas di tubuhnya. Siapa wanita ini? Mengapa ia tahu tentang Larasati? Dan mengapa ia terdengar begitu putus asa?
Sementara itu, di sisi lain kota, di dalam kamar Nona Kirana yang mewah namun terasa pengap, ketegangan merayap bagai racun. Arya Adiwangsa berdiri tegak, seringai tipis menghiasi bibirnya yang pucat. Di tangannya, liontin angsa emas itu berkilau, sebuah cermin retak dari masa lalu yang kelam.
“Cantik sekali, bukan?” Arya bergumam, memutar liontin itu di antara jari-jarinya. Matanya menatap tajam ke arah Nona Kirana, yang kini mundur selangkah, wajahnya memucat. Pria asing itu, sang pengendali permainan yang baru, berdiri diam di sudut ruangan, mengamati adegan itu dengan senyum penuh perhitungan.
“Liontin ini… sama persis dengan yang dimiliki Larasati,” Nona Kirana berujar lirih, suaranya bergetar. “Dari mana kau mendapatkannya?”
Arya tertawa kecil, suara itu terdengar seperti kerikil yang bergesekan. “Kau tahu persis dari mana, Kirana. Sama seperti kau tahu, siapa ayah dari anak yang dikandung Larasati. Dan siapa yang membunuh ayahmu.”
Wajah Nona Kirana semakin memucat. “Apa maumu, Arya? Surat itu sudah bukan urusanmu lagi.”
“Surat itu adalah kunciku untuk mendapatkan segalanya,” balas Arya, melangkah mendekat. “Termasuk Larasati. Dan kau tahu, aku tidak suka berbagi.”
Pria asing itu akhirnya bergerak, melangkah keluar dari bayang-bayang. “Kau salah, Arya. Surat itu bukan milikmu lagi. Dan Larasati… dia bukan milikmu untuk diklaim.”
Arya menoleh, matanya menyipit penuh amarah. “Siapa kau berani ikut campur?”
“Aku adalah orang yang memegang kendali sekarang,” jawab pria itu tenang, seolah menantang Arya secara pribadi. “Dan aku punya rencana sendiri untuk Larasati. Rencana yang tidak melibatkan pengkhianat seperti Bapakmu. Atau dirimu.”
Pria asing itu melirik Nona Kirana. “Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik, Kirana. Sekarang saatnya kau menyingkir sebelum kau ikut terseret dalam kehancuran.”
Nona Kirana terkesiap. “Kau mengusirku?”
“Aku membebaskanmu,” koreksi pria itu. “Sebelum Arya membuat kesalahan yang lebih fatal.”
Arya menggeram, tangannya mencengkeram erat liontin angsa. “Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya!” Ia mengayunkan tinjunya ke arah pria asing itu, namun gerakannya terlalu lambat. Pria asing itu dengan gesit menghindar, lalu dengan gerakan yang hampir tak terlihat, ia menendang kaki Arya, membuatnya terhuyung.
Dalam kekacauan itu, Nona Kirana melihat kesempatannya. Ia bergegas ke arah pintu, namun sebelum ia sempat membuka kenopnya, Arya sudah bangkit. Dengan seringai sadis, ia meraih lengan Nona Kirana, mencengkeramnya kuat.
“Kau tidak akan pergi ke mana pun, Kirana,” desis Arya, matanya berkilat. “Kau akan membantuku. Atau aku akan memastikan kau menyesalinya seumur hidupmu.”
Di tempat lain, Larasati kini berada di sebuah kafe yang remang-remang, jauh dari villa dan hiruk pikuk kota. Tangannya gemetar saat ia membuka lipatan surat yang diberikan pria asing itu. Kertas tua itu menyimpan cerita yang begitu kelam, begitu menyakitkan. Tulisan tangan ibunya, yang kini ia kenali dari surat-surat lama, menceritakan segalanya.
Tentang bagaimana Bapak Widjaja, pria yang selama ini ia hormati, telah bersekongkol untuk membunuh ayah Arya. Tentang bagaimana ia telah mengkhianati kepercayaan demi kekuasaan. Dan tentang bagaimana ia telah memanipulasi semua orang, termasuk dirinya sendiri. Ada pula peringatan samar tentang bahaya yang mengintai Raden, sesuatu yang membuat jantung Larasati berdegup kencang.
Ia mendongak, pandangannya tertuju pada sosok pria asing yang duduk di seberangnya. Wajahnya tenang, namun matanya menyimpan kilatan yang sulit diartikan. Apakah pria ini benar-benar ingin membantunya? Atau ia hanya sedang mempermainkan nasibnya?
“Ini baru permulaan, Larasati,” ujar pria itu, seolah membaca pikirannya. “Kebenaran yang sebenarnya jauh lebih pahit dari yang kau bayangkan. Dan pengkhianat yang paling berbahaya… seringkali adalah orang terdekatmu.”
Saat Larasati mencoba memproses kata-kata itu, tiba-tiba telepon genggamnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Jantungnya berdebar kencang saat ia membukanya. Hanya satu kalimat tertulis di sana:
*“Raden dalam bahaya. Arya tahu kau punya surat itu.”*
Larasati terkesiap, matanya membelalak ngeri. Ia menatap pria asing di depannya, mencari jawaban, namun pria itu hanya tersenyum tipis, seolah menikmati kepanikan yang melanda dirinya. Ia tahu, permainan ini baru saja dimulai, dan taruhannya jauh lebih besar dari yang ia duga.
Saat Larasati hendak bangkit, pintu kafe tiba-tiba terbuka dengan kasar. Sosok Arya Adiwangsa berdiri di ambang pintu, napasnya terengah-engah, matanya liar mencari. Ia melihat Larasati, lalu pandangannya beralih pada pria asing di sebelahnya. Senyum tipis kembali terukir di bibir Arya, namun kali ini senyum itu dingin dan penuh ancaman.
“Kau pikir bisa bersembunyi dariku, Larasati?” suara Arya serak, penuh dengan amarah yang tertahan. “Surat itu milikku. Dan kau… kau juga milikku.” Ia melangkah masuk, mengabaikan pria asing itu, fokusnya hanya pada Larasati yang kini berdiri terpaku di kursinya.