Sentuhan Terlarang di Villa Anggrek

Chapter 8 — Tarian Angsa di Atas Bara

Udara di depan pintu kamar Nona Kirana terasa pekat, menyesakkan napas Arya yang berdiri terpaku. Liontin angsa yang menggantung di lehernya memantulkan cahaya remang-remang dari koridor, identik dengan yang kini tergeletak di tangan Nona Kirana. Pertarungan yang baru saja usai antara dirinya dan pria asing itu seolah membekas di wajahnya, namun sorot matanya tetap tajam, penuh perhitungan.

"Permainan belum berakhir, Kirana," desis Arya, suaranya rendah namun menggema di keheningan. Ia melangkah maju, tangannya terulur, bukan untuk merebut, melainkan untuk mendekatkan liontinnya pada benda yang dipegang Nona Kirana. Dua angsa perak yang sama, seolah menatap satu sama lain, menjadi saksi bisu dari takdir yang saling terjalin.

Nona Kirana menelan ludah, senyumnya yang biasanya licik kini tampak kaku. Ia telah bersembunyi, berjuang, melarikan diri dari bayang-bayang yang terus mengejarnya, namun kini, ia berhadapan dengan dua ancaman yang sama berbahayanya: pria asing yang mengendalikan permainan, dan Arya, yang tampaknya selalu selangkah lebih maju, memegang kunci untuk membuka luka-luka lama.

"Kau tidak bisa memilikinya," bisik Nona Kirana, matanya melirik ke belakang Arya, seolah mencari jalan keluar yang takkan pernah ada.

Arya tertawa kecil, tawa yang dingin dan tanpa kehangatan. "Aku tidak menginginkannya. Aku hanya ingin melihatmu menderita saat kebenaran terungkap." Ia membiarkan liontinnya berayun pelan, pantulan cahaya menari di dinding. "Kau tahu apa yang diajarkan ayahku padaku sebelum dia… pergi? Bahwa setiap kebohongan memiliki harga. Dan kau, Kirana, telah berhutang terlalu banyak."

Pintu kamar Nona Kirana tiba-tiba terbuka lebar dari dalam, memperlihatkan sosok pria asing yang kini berdiri di ambang pintu, seolah menunggu momen yang tepat untuk muncul. Ia tidak bergerak, hanya berdiri di sana, tatapannya dingin mengunci Arya dan Nona Kirana. Angsa perak di lehernya berkilauan di bawah cahaya yang lebih terang dari dalam ruangan.

"Dia benar, Kirana," suara pria asing itu tenang, namun sarat dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Harga yang harus kau bayar sangat mahal. Terutama setelah kau membiarkannya lolos dari tanganku." Ia melirik Arya sekilas, sebuah tatapan yang membuat Arya merasa seperti serangga di bawah kaca pembesar. "Liontin itu… itu adalah simbol warisan. Dan warisan itu tidak akan pernah menjadi milikmu."

Arya menegang. Ia tidak pernah mengira pria asing ini akan muncul lagi, apalagi di sini, di tempat Nona Kirana bersembunyi. Perasaan bahwa ia telah dijebak semakin kuat. "Kau… siapa kau sebenarnya?"

Pria asing itu melangkah masuk ke dalam kamar, melewati Arya tanpa mengacuhkannya. Ia mendekati Nona Kirana, yang kini tampak gemetar. "Aku adalah keadilan yang tertunda. Dan kau, Nona Kirana, telah menghalangi takdir terlalu lama."

Ia mengulurkan tangan, bukan ke arah Nona Kirana, tetapi ke arah liontin yang masih terpegang erat di tangan wanita itu. "Serahkan padaku. Permainanmu sudah selesai."

Nona Kirana menatap pria asing itu, lalu beralih ke Arya, yang masih berdiri terpaku di ambang pintu. Ia melihat keputusasaan di mata Arya, dan tekad baja di mata pria asing itu. Dalam sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, Nona Kirana membuat sebuah pilihan. Ia melemparkan liontin itu ke arah Arya.

"Ambil saja! Semua ini tidak berarti apa-apa bagiku lagi!" teriaknya, sebelum berbalik dan berlari ke arah jendela di belakang ruangan.

Arya terkejut, namun instingnya bekerja cepat. Ia menyambut liontin yang terlempar, menggenggamnya erat. Ia menatap pria asing itu, senyum sinis kembali tersungging di bibirnya. "Sekarang kita punya dua? Menarik."

Pria asing itu tidak terpengaruh. Ia hanya menggelengkan kepala pelan. "Kau masih belum mengerti, anak muda. Ini bukan tentang kepemilikan. Ini tentang kebenaran." Ia melangkah menuju jendela yang baru saja dilewati Nona Kirana. Ia melihat ke luar, ke arah kegelapan malam yang pekat. "Dia pergi ke tempat yang seharusnya tidak pernah kau datangi."

Sementara itu, di rumah sakit yang sunyi, Raden membuka matanya perlahan. Kelemahan masih menyelimuti tubuhnya, namun kesadarannya telah kembali sepenuhnya. Ia merasakan kehadiran seseorang di samping ranjangnya. Bukan perawat, bukan dokter. Sosok itu terasa familiar, namun asing di saat yang sama.

"Larasati…" bisiknya lemah, nama itu keluar dari bibirnya seperti doa yang putus asa. Ia mencoba menggerakkan tangannya, mencari genggaman yang menghilang.

"Dia tidak akan kembali padamu, Raden," sebuah suara halus berbisik di telinganya. Suara itu dingin, menusuk, namun anehnya, juga dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. Raden mencoba memfokuskan pandangannya. Di samping ranjangnya, berdiri sosok bayangan seorang wanita, wajahnya tak jelas dalam remang-remang, namun ia merasakan aura kekuatan yang luar biasa memancar darinya.

"Siapa kau?" tanya Raden, suaranya serak.

Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku adalah ibu yang kau cari. Dan aku datang untuk memberitahumu… bahwa kau telah membuat pilihan yang salah dengan menyelamatkan Larasati."

Raden terkesiap. Ibu? Pilihan yang salah? Apa maksudnya? Jantungnya berdebar kencang, bukan hanya karena rasa sakit fisiknya, tetapi juga oleh kebingungan yang mulai menggerogoti pikirannya. Bisikan yang ia dengar sebelumnya kembali terngiang, kini dengan makna yang lebih gelap.

"Mereka tidak akan pernah membiarkanmu bersamanya, Raden. Darah yang mengalir di nadimu… adalah kutukan bagi cinta kalian."

Di sisi lain kota, di sebuah paviliun yang terbakar, Larasati duduk sendirian. Surat di tangannya terasa dingin, kebenarannya membakar lebih dari api yang pernah melalap villa. Ia menatap liontin angsa yang tergeletak di sampingnya, sisa-sisa dari kehidupan yang telah hilang. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Bukan suara Nona Kirana yang panik, bukan suara Arya yang mengancam. Suara itu tenang, mantap, dan penuh tujuan. Ia mengangkat kepalanya. Sosok pria asing yang telah membantunya kini berdiri di depannya, matanya menatap lurus ke matanya.

"Kau punya jawabannya sekarang," kata pria itu, suaranya tenang namun tegas. "Tapi ini baru permulaan. Arya tidak akan menyerah. Dan ada kekuatan lain yang menginginkanmu… kekuatan yang bahkan lebih berbahaya dari yang kau bayangkan."

Ia terdiam sejenak, menatap Larasati dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dan Raden… dia dalam bahaya besar. Sesuatu yang kau lakukan di masa lalu, atau sesuatu yang akan kau lakukan, akan menghancurkan kalian berdua."

Sebelum Larasati sempat bertanya, pria itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan Larasati sendirian dengan surat, liontin, dan ketakutan yang semakin mendalam.

Di luar kamar Nona Kirana, Arya berdiri di tengah kegelapan, memegang dua liontin angsa yang identik. Ia menatap ke arah jendela tempat Nona Kirana melompat, lalu ke arah pintu tempat pria asing itu menghilang. Ia merasa seperti bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, namun ia tidak akan pernah membiarkan dirinya kalah. Ia tahu bahwa ia harus segera menemukan Larasati. Kebenaran yang dipegangnya, dan kebenaran yang kini dipegang Larasati, terlalu berbahaya untuk dibiarkan lepas dari kendalinya.

Namun, ia tidak tahu bahwa di rumah sakit, Raden sedang berjuang melawan bisikan ibunya, yang kini semakin kuat, meracuni pikirannya dengan keraguan dan ketakutan tentang hubungan Larasati. Dan di reruntuhan paviliun, Larasati merasakan dingin yang bukan berasal dari udara malam, melainkan dari kenyataan yang mengerikan bahwa takdirnya terjalin dengan semua orang yang ia cintai, dan semua orang yang membencinya, dalam sebuah tarian mematikan di atas bara api yang belum padam.