Rahasia di Balik Pertunangan
Chapter 3 — Bayang Dosa di Taman Mawar
Udara malam terasa menusuk kulit Adelia saat ia melangkah keluar dari kehangatan ballroom menuju taman belakang yang sunyi. Aroma mawar yang kuat, seharusnya menenangkan, justru terasa mencekik, bercampur dengan bau tanah basah dan desisan embun yang mulai turun. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya kekuningan yang temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari seperti hantu di antara semak-semak. Setiap langkahnya di atas kerikil terasa berisik, mengundang perhatian yang tidak ia inginkan.
Adelia merapatkan syal sutra yang melilit lehernya, bukan karena dingin, tapi karena rasa dingin yang merayap di tulang punggungnya. Jati Tanuwijaya. Nama itu bergema di benaknya, dipenuhi dengan ambiguitas dan ancaman yang tak terucap. Pria itu, dengan tatapan matanya yang tajam dan senyumnya yang penuh perhitungan, telah melemparkan Adelia ke dalam pusaran konflik yang tidak pernah ia bayangkan. Pernikahan yang diatur demi menyelamatkan nama baik keluarga, kini terasa seperti jerat yang dipasang oleh musuh bebuyutan.
Ia berhenti di dekat sebuah bangku batu yang tertutup lumut, tempat Jati telah menunggunya. Pria itu berdiri tegak, siluetnya terpahat jelas di bawah cahaya bulan sabit. Ia tidak tersenyum, ekspresinya datar, namun aura kekuasaannya terasa begitu kuat, memancar bahkan dari kejauhan.
"Kau datang," suara Jati terdengar, tenang namun tegas, memecah kesunyian malam. Ia tidak menoleh, pandangannya lurus ke depan, seolah sedang mengamati sesuatu yang hanya bisa ia lihat.
Adelia mengeratkan genggaman tangannya. "Kau memintaku ke sini. Apa lagi yang kau inginkan, Jati?" Suaranya sedikit bergetar, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap tenang, namun ketakutan itu terus menggerogoti.
Jati akhirnya menoleh. Matanya yang gelap bertemu dengan mata Adelia, dan untuk sesaat, Adelia merasa seperti sedang ditelanjangi. Ada sesuatu di balik tatapan itu, sesuatu yang dalam dan terluka, bercampur dengan tekad baja.
"Aku ingin kau melihatnya," kata Jati, menarik lengan Adelia dengan lembut namun pasti. Ia menariknya ke arah sebuah pohon besar yang rindang, tempat sebuah ayunan tua tergantung.
"Melihat apa?" tanya Adelia, semakin bingung. Ia melihat sekeliling, tapi tidak ada apa pun yang menarik perhatiannya selain keheningan malam dan bayangan pepohonan.
Jati tidak menjawab. Ia hanya menunjuk pada sesuatu di balik batang pohon. Adelia mengikuti arah pandangnya, dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Di sana, tergeletak di tanah, ada sebuah kotak kayu tua yang sedikit lapuk. Di atas kotak itu, ada sebuah bingkai foto yang terbalik. Penasaran sekaligus takut, Adelia berjongkok untuk mengambil bingkai itu.
Saat ia membalik bingkai itu, napasnya tercekat. Foto itu menunjukkan dua anak kecil yang sedang tertawa riang. Salah satunya adalah seorang anak laki-laki yang memiliki kemiripan mencolok dengan Jati, mungkin dirinya di masa lalu. Anak perempuan di sebelahnya... mata Adelia melebar saat mengenali wajah itu. Itu adalah dirinya, Adelia, saat masih sangat kecil, mungkin berusia tujuh atau delapan tahun. Ia tidak ingat pernah berfoto bersama Jati di masa lalu. Bagaimana ini bisa terjadi?
"Ini... ini foto siapa?" bisik Adelia, suaranya serak.
"Foto kita," jawab Jati, nadanya datar, seolah sedang membacakan naskah yang sudah dihafal. "Foto dari masa lalu yang kau lupakan. Dulu, kita adalah teman bermain, Adelia. Sebelum ayahmu menghancurkan segalanya."
Adelia menatap Jati, matanya dipenuhi kebingungan dan rasa ngeri. "Aku tidak mengerti. Apa maksudmu? Ayahku..."
"Ayahmu adalah orang yang merenggut segalanya dariku," potong Jati, suaranya mulai mengeras. "Dia merampok perusahaan ayahku, membuatnya bangkrut, dan akhirnya bunuh diri. Dia menghancurkan keluarga Tanuwijaya, dan membuatku kehilangan masa kecilku. Dan sekarang, giliranmu yang akan membantuku membalasnya."
Adelia menggelengkan kepala, tidak mampu memproses informasi yang begitu mengejutkan. "Tidak... itu tidak mungkin. Ayahku tidak mungkin melakukan itu. Dia adalah orang yang baik."
"Orang baik?" Jati tertawa getir. "Kau masih saja naif. Keadaan memaksanya, begitu katamu? Sama seperti keadaan memaksaku melakukan ini padamu."
Ia mengambil kotak kayu tua itu dan membukanya. Di dalamnya, tergeletak tumpukan surat dan dokumen yang tampak tua. Salah satunya adalah sebuah akta pengalihan saham, dengan tanda tangan yang Adelia kenali sebagai tanda tangan ayahnya, dan tanggal yang sangat jauh di masa lalu.
"Ini buktinya, Adelia," kata Jati, menyerahkan akta itu pada Adelia. "Ayahmu mengambil semua saham perusahaan ayahku dengan cara yang curang. Dia menghancurkan keluargaku demi kekayaan. Dan sekarang, kau akan membantuku mendapatkan lebih banyak bukti, bukti yang akan menghancurkan keluarga Ramadhani sepertiku dulu dihancurkan."
Adelia menatap akta itu, lalu menatap Jati. Wajahnya pucat pasi. Ia tidak bisa percaya bahwa ayahnya mampu melakukan hal sekeji itu. Tapi bukti di tangannya... dan mata Jati yang penuh kepedihan dan kebencian... "Kau... kau akan menghancurkan keluargaku? Demi balas dendam?"
Jati mendekat, tatapan matanya menajam. "Aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkan keadilan. Dan jika itu berarti menghancurkanmu terlebih dahulu, maka akan kulakukan. Tapi ada satu cara. Kau bisa membantuku. Temukan rahasia lain yang disembunyikan ayahmu. Bantu aku membuktikan semua kejahatannya. Jika kau melakukannya, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk mengampuni keluargamu."
Adelia merasa dunia berputar. Dilema ini jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Di satu sisi, cinta pada keluarganya, di sisi lain, kebenaran yang mengejutkan tentang ayahnya dan ancaman balas dendam Jati. Ia melihat foto masa kecilnya bersama Jati, sebuah paradoks yang menyakitkan. Teman masa kecil yang kini menjadi musuh yang kejam.
Saat Adelia masih terdiam, mencoba mengumpulkan pikirannya, sebuah suara lembut terdengar dari balik semak-semak.
"Adelia? Jati? Kalian di sini?" Suara itu terdengar familiar, namun asing dalam konteks ini.
Adelia dan Jati menoleh serempak ke arah suara itu. Dari balik rimbunnya pohon, muncul sesosok wanita. Ia mengenakan gaun malam yang elegan, rambutnya tertata rapi, namun ekspresinya dipenuhi kebingungan dan kesedihan. Itu adalah Ibu Ratna, ibu Adelia.
"Ibu?" seru Adelia, terkejut.
Ibu Ratna melangkah mendekat, matanya tertuju pada akta di tangan Adelia, lalu pada wajah Jati yang dingin. Seketika, ekspresi kebingungan di wajahnya berubah menjadi ketakutan yang mendalam. Ia mundur selangkah, bibirnya bergetar.
"Ratna..." desis Jati, tatapannya berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya. Ia melangkah maju, menghalangi jalan Ibu Ratna untuk kembali ke arah ballroom.
"Kau... kau tidak seharusnya ada di sini," ujar Jati, suaranya dingin menusuk. Ia menatap Ibu Ratna dengan tatapan yang membuat Adelia merinding. "Kau seharusnya tidak pernah tahu tentang ini."
Ibu Ratna menatap Jati dengan mata terbelalak, lalu menatap Adelia dengan tatapan memohon. "Adelia... apa yang terjadi? Apa yang pria ini katakan padamu?"
Sebelum Adelia sempat menjawab, Jati meraih lengan Ibu Ratna dengan kasar. "Kau tahu lebih banyak daripada yang kau akui, bukan? Kau tahu apa yang dilakukan Mahesa Ramadhani." Matanya berkilat penuh ancaman. "Mungkin kau adalah kunci yang kuperlukan untuk membuka semua rahasia itu."
Ibu Ratna menjerit kecil, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Jati, namun pria itu terlalu kuat. Adelia, terkejut dan panik, bergegas maju untuk membantu ibunya, namun ia dihadang oleh tatapan tajam Jati.
"Jangan ikut campur, Adelia," ancam Jati, tanpa melepaskan cengkeramannya pada Ibu Ratna. "Atau ibumu akan merasakan akibatnya lebih dulu."
Adelia membeku, terjebak di antara melindungi ibunya dan ketakutan akan ancaman Jati. Di tengah kegelapan taman mawar, pertarungan baru saja dimulai, dan taruhannya jauh lebih tinggi dari yang ia duga.