Rahasia di Balik Pertunangan

Chapter 5 — Aroma Kertas Tua dan Janji yang Retak

Adelia berdiri mematung di taman belakang yang lengang. Aroma tanah basah setelah hujan semalam bercampur dengan wangi bunga melati yang menusuk hidung, namun baginya, semua itu terasa hampa. Pandangannya tertuju pada sofa rotan tempat Jati duduk tadi, tempat ia memegang sebuah amplop cokelat berisi bukti yang akan menghancurkan ayahnya. Tiga hari. Batas waktu yang diberikan Jati terasa seperti tali yang semakin menegang di lehernya.

Ia kembali masuk ke dalam rumah, melangkahi tumpahan teh dingin di lantai ruang tamu. Ayahnya, Bapak Mahesa, masih duduk di kursi rodanya, memandangi potret keluarga yang terpajang di dinding dengan tatapan nanar. Wajahnya yang dulu tegas kini berkerut penuh penyesalan, sorot matanya kosong. Kehancuran yang dulu ia sebarkan kini berbalik menghantamnya sendiri, melumpuhkan bukan hanya fisiknya, tapi juga jiwanya.

“Ayah…” panggil Adelia lirih, suaranya serak. Ia tak tahu harus berkata apa. Mengakui dosa ayahnya? Memohon ampun? Atau justru memberitahunya bahwa ia akan menjadi kaki tangan pria yang sedang menghancurkan keluarganya?

Bapak Mahesa menoleh perlahan. Matanya yang redup menangkap sosok putrinya. “Adelia… apa yang terjadi?” Tanyanya lemah, seolah baru terbangun dari tidur panjang.

Adelia mendekat, berlutut di samping kursi roda ayahnya. Ia memegang tangan ayahnya yang dingin. “Ibu… Ibu diculik, Yah.”

Sebuah getaran kecil menjalari tangan Bapak Mahesa. Raut wajahnya berubah, dari kesedihan menjadi ketakutan yang nyata. “Siapa? Siapa yang berani?”

“Jati Tanuwijaya.” Nama itu terucap seperti bisikan racun. Adelia melihat kilatan keterkejutan, lalu kesadaran, dan yang paling mengerikan, keputusasaan di mata ayahnya. Ia tahu, ayahnya menyadari bahwa ini adalah konsekuensi dari perbuatannya.

“Dia… dia menginginkan bukti. Bukti tentang perusahaanmu, tentang apa yang kau lakukan pada ayahnya.” Adelia sengaja menekan kata-kata itu, ingin ayahnya merasakan sedikit saja beban yang kini ia pikul. “Aku harus… aku harus memberikannya padanya, Yah. Demi Ibu.”

Bapak Mahesa terdiam, napasnya tersengal. Rahangnya mengeras. “Aku tidak akan membiarkanmu… aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan dirimu sendiri, Adelia. Ada cara lain.”

“Cara lain apa, Yah?” Adelia bertanya getir. “Kau sendiri yang menciptakan masalah ini. Kau yang menjebakku. Kau yang membuatku harus memilih antara ibuku dan kehormatan keluarga. Kau yang membuatku harus bekerja sama dengan Jati.”

Air mata akhirnya mengalir di pipi Adelia. “Aku membencimu, Yah. Aku membenci semua ini.”

Di tengah keputusasaan, sebuah ide terlintas di benak Adelia. Ia teringat akan kamar kerja ayahnya yang terkunci rapat, tempat semua rahasia bisnis tersimpan. Jika Jati menginginkan bukti, ia akan memberikannya. Tapi bukan bukti yang diinginkan Jati. Ia akan memberikan sesuatu yang akan membalikkan keadaan.

“Aku akan pergi ke kamar kerjamu, Yah,” ujar Adelia, suaranya berubah tegas. “Aku akan mencari sendiri apa yang Jati inginkan.”

Bapak Mahesa berusaha meraih putrinya, tapi tangannya tak cukup kuat. “Adelia, jangan! Itu berbahaya! Jati bukan orang yang bisa dipercaya!”

Adelia hanya tersenyum miris. Kepercayaan? Kata itu sudah lama mati di antara mereka. Ia bangkit dan berjalan menuju pintu kamar kerja ayahnya. Kunci yang tergantung di leher Bapak Mahesa ia ambil paksa. Sang ayah hanya bisa memprotes lemah dari kursinya.

Kamar kerja itu gelap dan berdebu. Aroma kertas tua dan tinta menguar kuat, seolah menyimpan ribuan rahasia yang terbungkus rapi. Jari-jari Adelia gemetar saat menyentuh gagang pintu lemari arsip yang menjulang tinggi. Ia mulai membuka satu per satu laci, mencari berkas-berkas yang mungkin menjadi incaran Jati. Ada tumpukan kontrak, laporan keuangan, dan surat-surat yang tak ia pahami isinya. Semakin dalam ia menggali, semakin banyak ia menemukan jejak kehancuran yang ditimbulkan ayahnya.

Ia menemukan sebuah map berwarna biru tua yang tersembunyi di laci paling bawah, di balik tumpukan dokumen lama. Di sampulnya tertulis: 'Proyek Naga Api – Tanuwijaya Corp. Transfer Saham Tidak Sah'. Jantung Adelia berdebar kencang. Ini pasti yang dicari Jati. Ia mengambil map itu, merasakan beratnya beban kejahatan ayahnya yang kini ada di tangannya.

Tiba-tiba, pintu kamar kerja terbuka tanpa suara. Adelia terkesiap, menjatuhkan map biru itu. Jati berdiri di ambang pintu, tatapannya dingin menusuk. Ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi, wajahnya pucat pasi. Ibu Ratna.

“Mencari sesuatu, Adelia?” suara Jati terdengar seperti seringai. “Sepertinya kau menemukan harta karun yang kucari. Tapi sayang sekali, kau tidak akan pernah bisa menggunakannya.”

Adelia mendongak, melihat ibunya yang dipaksa berdiri di samping Jati. Wajah ibunya memancarkan ketakutan yang dalam, namun juga sorot mata yang menyiratkan peringatan. Adelia menelan ludah, merasakan seluruh harapan yang baru saja tumbuh kini hancur berkeping-keping. Ia terperangkap lagi.

“Kau pikir kau bisa bermain denganku, Adelia?” Jati melangkah masuk, mengambil map biru yang terjatuh di lantai. “Kau lupa, aku yang memegang kendali di sini. Dan ibumu… dia adalah jaminan kepatuhanmu.”

Ia mendekat ke arah Adelia, tangannya terulur seolah ingin menyentuh pipi Adelia. Adelia memundurkan kepalanya, matanya berkilat marah sekaligus takut. “Jangan sentuh aku!”

Jati tertawa dingin. “Oh ya? Tapi sepertinya tak lama lagi, kita akan menjadi suami istri. Dan kau tahu, apa hakikat seorang suami?” Ia membungkuk, berbisik di telinga Adelia, “Menguasai istrinya sepenuhnya.”

Adelia merasakan udara dingin merayap di sekujur tubuhnya. Ancaman Jati bukan hanya tentang dokumen itu, tapi tentang dirinya sendiri. Ia melihat ibunya menggelengkan kepala lemah. Keputusasaan Adelia semakin dalam. Ia merasa tak punya pilihan sama sekali. Tapi, di balik ketakutan itu, secercah tekad mulai menyala di matanya. Ia tidak akan menyerah begitu saja.