Rahasia di Balik Pertunangan

Chapter 4 — Bayangan Ibu di Taman Mawar

Udara malam terasa dingin menusuk kulit, namun bukan itu yang membuat Adelia bergidik. Tatapan dingin Jati, yang terfokus pada ibunya yang kini berada dalam genggamannya, jauh lebih membekukan. Ibu Ratna, yang biasanya tegar, kini tampak pucat pasi, matanya memohon tanpa suara kepada Adelia.

"Jati, lepaskan ibuku!" Suara Adelia bergetar, namun ia berusaha mempertahankan nada tegas. Jantungnya berdebar kencang, setiap detiknya terasa seperti dihantam palu godam. Ia bisa merasakan aroma mawar yang manis bercampur dengan bau tanah basah, menciptakan aroma yang seharusnya menenangkan, namun kini terasa mencekam.

Jati tertawa pelan, suara serak yang lebih mirip geraman. "Kau pikir semudah itu, Adelia? Ibumu adalah kunci. Kunci untuk memastikan kau melakukan apa yang kuinginkan." Ia menarik Ibu Ratna sedikit lebih dekat, membuat Adelia terkesiap. "Lihat? Sekali saja kau membangkang, ibumu yang lemah ini akan menanggungnya." Ia mengamati ekspresi Adelia dengan saksama, seolah menikmati setiap detik ketakutan yang terpancar dari wajahnya.

Adelia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingat semua janji Jati, semua ancaman yang dilontarkan. Ia ingin melawan, ingin merebut ibunya kembali, namun bayangan kekerasan yang tersirat di mata Jati membuatnya ragu. Ia melihat ke arah ayahnya, Bapak Mahesa, yang berdiri mematung di ambang pintu kaca, wajahnya pucat pasi, terperangkap dalam keheningan yang memekakkan telinga. Ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia telah menyeret mereka semua ke dalam jurang ini.

"Apa yang kau mau, Jati?" tanya Adelia lagi, suaranya kini lebih tenang, lebih terkendali. Ia tahu ia harus bermain cerdas. "Aku akan melakukan apa pun yang kau minta. Asal kau lepaskan ibuku." Ia melirik foto-foto lama yang berserakan di meja di dekatnya, bukti-bukti kebusukan ayahnya. Ia ingin sekali menghancurkannya, namun kini, bukti itu menjadi alat tawar menawar yang tak ternilai.

Jati tersenyum sinis. "Begitu dong. Gadis pintar." Ia melonggarkan sedikit cengkeramannya pada Ibu Ratna, tapi tidak melepaskannya sepenuhnya. "Aku ingin semua dokumen yang membuktikan kesepakatan gelap ayahmu dengan rekan bisnisnya. Kau tahu apa yang kumaksud. Laporan keuangan palsu, transfer dana ilegal. Semuanya." Ia menatap Adelia lekat. "Dan kau harus membantuku mendapatkannya. Bukan hanya memberikannya, tapi membantuku mengaksesnya."

Adelia merasa perutnya mual. Ini berarti ia harus masuk ke kantor ayahnya, mengobrak-abrik brankas, atau bahkan mencuri data sensitif. Tindakan yang bisa menghancurkan reputasi ayahnya lebih jauh lagi, dan mungkin menjerumuskan dirinya ke dalam masalah hukum.

"Bagaimana aku bisa memercayaimu?" tanya Adelia, matanya menyiratkan keraguan. "Kau bisa saja melepaskan ibuku, lalu menghancurkan kami semua setelah mendapatkan apa yang kau mau."

"Kau tidak punya pilihan lain, bukan?" balas Jati, kembali mengencangkan cengkeramannya pada lengan Ibu Ratna. "Lagipula, aku tidak akan menghancurkanmu. Kau akan menjadi milikku. Dan ibumu akan aman bersamaku... untuk sementara." Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada yang membuat Adelia merinding.

Bapak Mahesa akhirnya bersuara, suaranya serak. "Jati, jangan libatkan Adelia dalam masalah ini. Ini salahku."

Jati menoleh pada Bapak Mahesa, matanya menyala penuh amarah. "Kau? Kau yang membuat ayahku kehilangan segalanya! Kau yang menghancurkan hidupku dan hidup keluargaku! Kau pikir kau punya hak untuk berbicara sekarang?" Ia mendorong Bapak Mahesa dengan kasar, membuat pria tua itu terhuyung ke belakang dan menabrak rak buku. Buku-buku berjatuhan, menciptakan suara berisik di tengah kesunyian yang menegangkan.

Adelia terkesiap. Ia belum pernah melihat Jati semarah ini. Intensitas kebencian yang terpancar dari matanya membuatnya terintimidasi. Ia melihat ibunya yang semakin gemetar dalam genggaman Jati. Keputusan harus dibuat.

"Baik," kata Adelia, suaranya mantap meskipun hatinya berdegup kencang. "Aku akan membantumu. Beri aku waktu." Ia berusaha terdengar meyakinkan, seolah ia punya kendali atas situasi ini. Ia harus mencari cara untuk mendapatkan dokumen itu, dan pada saat yang sama, mencari jalan keluar dari jebakan Jati.

Jati menatapnya sejenak, menilai kejujuran di balik kata-katanya. Lalu, ia tersenyum dingin. "Bagus. Kau punya waktu tiga hari." Ia menarik Ibu Ratna keluar dari taman, meninggalkan Adelia dan ayahnya yang terdiam dalam kekacauan. Saat mereka melangkah menuju pintu belakang, Jati tiba-tiba berhenti dan menoleh pada Adelia.

"Oh, dan Adelia," katanya, suaranya kini terdengar jauh lebih lembut, namun justru itu yang membuat Adelia merasa ngeri. "Jangan coba-coba menghubungi siapa pun. Atau ibumu akan merasakan konsekuensinya dengan cara yang berbeda." Ia memamerkan senyum kecil yang penuh makna tersembunyi, sebelum menghilang bersama Ibu Ratna ke dalam kegelapan malam.

Adelia membeku di tempatnya. Tiga hari. Tiga hari untuk menemukan bukti yang bisa menghancurkan ayahnya, demi menyelamatkan ibunya dari cengkeraman pria yang kini menjadi suaminya. Ia menatap tangannya yang gemetar, merasakan beban dunia menindih pundaknya. Di kejauhan, ia mendengar suara mobil Jati menderu pergi, meninggalkan keheningan yang menyesakkan. Ia menoleh pada ayahnya, yang kini duduk di lantai, memandangi foto-foto yang berserakan dengan tatapan kosong. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Pertarungan baru saja dimulai, dan ia merasa sudah kalah sebelum berperang.