Cincin yang Terlupakan di Butik Paris
Chapter 3 — Bekas Luka dan Sebuah Cengkraman
Jantungku berdebar tak karuan, iramanya memalu di telingaku, lebih cepat dari langkah kaki tergesa-gesa. Isyarat jari telunjuk di bibir itu, seringai dingin, dan bekas luka samar di pipi wanita misterius itu terukir kuat di benakku. Mengapa dia menyuruhku diam? Apa yang dia sembunyikan? Ketakutan merayap, tetapi rasa penasaran dan kebutuhan akan kebenaran lebih kuat. Aku tidak datang jauh-jauh ke Paris hanya untuk ketakutan dan bersembunyi.
Dengan tekad yang membara, aku menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri. Butik `La Belle Étoile` tampak gelap, seolah menelan sosok wanita itu tanpa jejak. Aku melangkah maju, tanganku terulur ke pegangan pintu yang dingin, siap untuk menerobos masuk dan mencari tahu. Mungkin wanita itu masih di dalam. Mungkin ada petunjuk di sana.
Namun, tepat saat ujung jariku menyentuh kuningan dingin itu, sebuah tangan lain tiba-tiba mencengkram lenganku dengan kuat. Aku terkesiap, jantungku melompat ke tenggorokan. Spontan, aku berbalik, bersiap untuk berteriak, tapi kata-kata tertahan di tenggorokanku saat mataku bertemu dengan sepasang mata yang kukenal, meski dilingkupi kegelisahan.
“Aisyah? Ya Tuhan, itu benar-benar kau!” Suara itu berbisik cepat, penuh kelegaan namun juga ketakutan. Itu Sarah. Sarah, sahabat Adrian yang kukenal melalui suamiku. Dia tampak jauh lebih kurus, matanya cekung, dan ada lingkaran hitam di bawahnya. Rambutnya yang biasanya terawat kini tampak acak-acakan.
“Sarah? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku, bingung. Mengapa dia ada di Paris? Dan mengapa dia tampak sangat ketakutan?
Sarah menarikku menjauh dari pintu butik, menuntunku ke celah sempit di antara dua bangunan, tempat kami sedikit terlindung dari cahaya lampu jalan. Dia terus melirik ke belakang, ke arah butik, seolah takut ada yang mengikuti. “Syukurlah kau belum masuk. Tempat ini… tempat ini berbahaya, Aisyah. Kau tidak seharusnya di sini.”
“Berbahaya? Apa maksudmu?” Aku merasa frustrasi. Semua orang sepertinya tahu sesuatu yang tidak kuketahui. “Aku datang karena pesan misterius, dan… dan aku melihat seorang wanita di dalam butik itu. Dia punya bekas luka di pipinya.”
Wajah Sarah memucat. Ia mencengkeram lenganku lebih erat, kuku-kukunya sedikit menusuk kulitku. “Bekas luka? Ya Tuhan, dia sudah mulai bergerak. Kau harus pergi, Aisyah. Sekarang juga. Kembali ke Jakarta. Adrian… Adrian tidak seperti yang kau pikirkan.”
Kata-kata itu menghantamku seperti tamparan. Adrian. Selalu Adrian. “Apa maksudmu? Apa yang Adrian sembunyikan? Siapa wanita itu? Apakah ini ada hubungannya dengan Karina?” Aku melontarkan pertanyaan bertubi-tubi, semua emosi yang terpendam meledak. Aku lelah dengan teka-teki ini.
Sarah menggelengkan kepalanya panik. “Tidak sekarang. Tidak di sini. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya di sini. Tapi percayalah padaku, kau dalam bahaya. Kau harus…”
Belum sempat Sarah menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan kasar tiba-tiba membekap mulutku dari belakang, menarikku menjauh dari Sarah. Aroma klorofom yang menusuk hidung langsung menyeruak, membuat kepalaku pening. Aku mencoba berontak, menendang, mencakar, tapi cengkeraman itu terlalu kuat. Aku mendengar suara Sarah berteriak histeris, memanggil namaku, mencoba menarikku kembali. Namun, pandanganku mulai kabur, suara-suara meredup menjadi dengungan jauh. Aku merasakan tubuhku diangkat, diseret ke dalam kegelapan malam.
Samar-samar, aku melihat siluet Sarah yang melompat ke arahku, tubuhnya menabrak penyerangku, menyebabkan cengkeraman di mulutku mengendur sejenak. Aku menghirup udara, mencoba berteriak, tapi hanya suara serak yang keluar. Penyerangku mengumpat dalam bahasa Prancis, lalu mendorong Sarah dengan keras hingga ia terjerembap ke trotoar. Namun, dorongan itu cukup untuk memberiku kesempatan. Aku merasakan kakiku menyentuh tanah lagi, dan secara naluriah, aku menendang ke belakang sekuat tenaga, mengenai tulang kering penyerang.
Pria itu meraung kesakitan, cengkeramannya mengendur sepenuhnya. Aku terjatuh ke depan, tapi Sarah segera menarikku, memaksaku berdiri. “Lari, Aisyah! Lari!” teriaknya, matanya penuh air mata, namun juga determinasi. Ia mendorongku ke sebuah gang sempit yang gelap, di mana aku hampir tersandung tumpukan sampah.
Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi instingku berteriak untuk patuh. Aku berlari, tanpa menoleh ke belakang, mendengar suara langkah kaki Sarah yang mengikuti di belakangku. Kami terus berlari, menyusup melalui jalan-jalan sempit Paris yang remang-remang, hingga napasku tersengal dan paru-paruku terasa terbakar. Akhirnya, Sarah menarikku masuk ke sebuah kafe yang masih buka, di sudut jalan yang lebih ramai. Kami bersembunyi di balik sebuah meja kosong di sudut, mencoba mengatur napas, jantung kami berdegup kencang.
Ketika aku bisa bicara lagi, aku menatap Sarah, menuntut penjelasan. “Apa itu tadi? Siapa dia? Kenapa… kenapa dia ingin menculikku?”
Sarah menatapku dengan mata merah, tangannya gemetar saat ia merogoh saku jaketnya yang lusuh. Ia mengeluarkan sebuah kalung liontin perak, liontin yang sangat familiar. Itu adalah liontin yang sama dengan yang Adrian berikan padaku saat ulang tahunku yang ke-25, liontin berbentuk bintang dengan ukiran inisial ‘AK’ di baliknya. Tapi yang ini, ada yang berbeda. Di bagian belakang liontin itu, terukir inisial ‘KK’. Karina Kirana. Nama itu membeku di lidahku.
“Ini… ini milik Karina,” bisik Sarah, suaranya nyaris tak terdengar. “Kau tidak bisa percaya siapa pun di sini, Aisyah. Terutama Adrian. Dia… dia telah membuat perjanjian dengan iblis.”
Aku membelalakkan mata, menatap liontin di tangan Sarah, lalu ke wajahnya yang pucat. Adrian? Berperjanjian dengan iblis? Dan liontin Karina yang sama persis dengan milikku? Semua ini terlalu banyak. Kepalaku berdengung, dunia terasa berputar. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Adrian bukan hanya tidak seperti yang kau pikirkan, Aisyah,” lanjut Sarah, pandangannya beralih ke jendela kafe, seolah memastikan tidak ada yang mengawasi. “Dia melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk. Dan dia akan melakukan apa saja untuk memastikan rahasianya tetap terkubur.”
Sebuah bayangan hitam melintas di luar jendela kafe, berhenti sejenak, lalu bergerak lagi. Sarah terkesiap, buru-buru menyembunyikan liontin itu di balik tangannya. “Mereka mungkin sudah tahu kita bersamamu. Kita harus segera pergi dari sini. Tapi sebelum itu, ada satu hal lagi yang harus kau tahu.” Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku, suaranya merendah menjadi bisikan. “Istri pertama Adrian… Karina… dia tidak mati. Dia masih hidup, Aisyah. Dan dia ingin kau tahu kebenarannya.”
Liontin itu, kata-kata Sarah, dan ancaman yang terasa begitu nyata, semuanya berputar di benakku. Karina masih hidup? Adrian menyembunyikan ini? Siapa ‘mereka’ yang mengawasi kami? Dan mengapa Karina ingin aku tahu kebenarannya sekarang? Aku merasa seperti boneka yang ditarik ulur dalam permainan yang tidak kumengerti sama sekali. Pertanyaannya bukan lagi ‘siapa Karina’, melainkan ‘mengapa Adrian berbohong begitu dalam, dan apa yang harus kulakukan sekarang?’ Aku menatap Sarah, meminta jawaban, tapi matanya hanya menunjukkan kepanikan yang mendalam.
“Kita harus pergi sekarang, Aisyah. Percayalah padaku,” Sarah menarikku, memaksaku bangkit. Tapi sebelum kami sempat melangkah, pintu kafe terbuka dengan derit pelan. Seorang pria tinggi berdiri di ambang pintu, matanya menyapu seisi ruangan, dan sorot matanya yang dingin berhenti tepat pada kami. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel, seolah baru saja menyelesaikan panggilan. Apakah dia yang tadi menculikku? Dan bagaimana dia bisa menemukan kami secepat ini? Ketakutan mencengkeramku lagi, lebih kuat dari sebelumnya.